Menjadikan Kaum Difabel yang Mandiri

Oleh :
Oman Sukmana
Guru Besar FISIP UMM & Ketua Program Doktor Sosiologi Pascasarjana UMM.

Sebagaimana kita ketahui bahwa setiap tanggal 3 Desember diperingati sebagai hari penyandang disabilitas Internasional. Menurut pandangan penulis, substansi makna peringatan hari penyandang disabilitas internasional bukan pada upaya menumbuhkan rasa belas kasian pada orang-orang non penyandanag disabilitas, akan tetapi sebagai upaya untuk mendorong para penyandang disabilitas agar mereka memiliki motivasi untuk hidup mandiri tanpa ketergantungan kepada orang lain.

Adalah International Labour Organization (ILO) dan World Health Organization (WHO) yang menyebutkan bahwa jumlah orang dengan penyandang disabilitas di dunia mencapai 15% dari total penduduk dunia. Merujuk data yang dikeluarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa penduduk dunia hingga Juni 2023 tercatat jumlah penduduk dunia mencapai 8.039 milyar jiwa, maka jumlah penyandang disabilitas di dunia mencapai 1,2 miliar orang. Mengacu kapada data dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudyaan (Kemenko PMK), di Indonesia hingga 2023 ini tercatat sekitar 22,97 juta jiwa penyandang disabilitas.

Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia memang cukup banyak. Namun, penyandang disabilitas adalah kelompok minoritas, marginal, dan rentan di dalam masyarakat, bangsa, dan negara. Bahkan di dalam keluarga tertentu, anggota keluarga yang menyandang disabilitas mengalami berbagai perlakuan yang tidak manusiawi, seperti mengalami diskriminasi dan kekerasan, disembunyikan, tidak dimasukkan dalam anggota keluarga (misalnya dalam kartu keluarga), dan sebagainya.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 08 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas dinyatakan bahwa Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpastisipasi secara penuh dan efektif den gan warga Negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Penyandang Disabilitas dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: (1) Penyandang disabilitas fisik, adalah adalah terganggunya fungsi gerak, antara lain amputasi, lumpuh layuh atau kaku, paraplegi, celebral palsy (CP), akibat stroke, akibat kusta, dan orang kecil; (2) Penyandang disabilitas interlektual adalah adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah ratarata, antara lain lambat belajar, disabilitas grahita dan down syndrome; (3) Penyandang disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku, antara lain: psikososial di antaranya skizofrenia, bipolar, depresi, anxietas, dan gangguan kepribadian, disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial di antaranya autis dan hiperaktif; dan (4) Penyandang disabilitas sensorik adalah adalah terganggunya salah satu fungsi dari panca indera, antara lain disabilitas netra, disabilitas rungu, dan/ atau disabilitas wicara. Terdapat pula kategori penyandang disabilitas ganda atau multi yaitu penyandang disabilitas yang mempunyai dua atau lebih ragam disabilitas, antara lain disabilitas rungu-wicara dan disabilitas netra-tuli.

Menurut Clement dan Read (2008), salah satu pendekatan untuk memahami disabilitas adalah pendekatan hak asasi. Di Indonesia, hak penyandang disabilitas diatur secara khusus dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas ditegaskan bahwa para penyandang disabilitas memiliki hak: Hak hidup, Hak bebas dari stigma, Hak privasi, Hak keadilan dan perlindungan hukum, Hak pendidikan, Hak pekerjaan kewirausahaan dan koperasi, Hak kesahatan, Hak politik, hak kebudayaan dan pariwisata, Hak kesejahteraan sosial, Hak aksesibilitas, Hak pelayanan publik, Hak perlindungan dari bencana, Hak habilitasi dan rehabilitasi, Hak konsesi, Hak pendataan, Hak hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam masyarakat, Hak berekspresi, Hak berkomunikasi, dan memperoleh informasi, Hak berpindah tempat dan kewarganegaraan, dan bebas dari tindakan diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi.

Penyandang disabilitas merupakan bagian integral dari masyarakat yang seringkali dihadapkan pada berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Upaya untuk mendorong agar para penyandang disabilitas bisa hidup mandiri adalah suatu hal yang penting dan perlu dilakukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam upaya mencapai kemandirian bagi penyandang, antara lain:

Pertama, Mendorong kemandirian melalui pendidikan. Pendidikan memainkan peran kunci dalam meningkatkan kemandirian penyandang disabilitas. Dukungan aksesibilitas terhadap fasilitas pendidikan dan metode pengajaran yang inklusif dapat membantu mereka mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk hidup mandiri. Program pelatihan keterampilan khusus juga dapat dirancang untuk memenuhi kebutuhan individu, memastikan bahwa setiap penyandang disabilitas memiliki kesempatan yang setara.

Kedua, Peluang pekerjaan yang inklusif. Kesempatan untuk bekerja tidak hanya memberikan penghasilan, tetapi juga meningkatkan harga diri dan memberikan rasa kemandirian. Mendorong perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja inklusif dengan menyediakan fasilitas yang dapat diakses dan mempekerjakan penyandang disabilitas sesuai dengan keterampilan mereka adalah langkah penting. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam mendorong peluang pekerjaan yang setara dapat membuka pintu bagi kemandirian ekonomi.

Ketiga, Aksesibilitas dan Mobilitas. Kemandirian juga terkait erat dengan aksesibilitas fisik dan mobilitas. Masyarakat harus bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas, termasuk akses yang mudah di transportasi umum, bangunan yang dapat diakses, dan fasilitas umum lainnya. Inisiatif ini akan memberikan penyandang disabilitas kebebasan untuk menjelajahi dunia dengan lebih mandiri.

Keempat, Pemberdayaan sosial dan psikologis. Mendukung penyandang disabilitas secara sosial dan psikologis juga kunci dalam membangun kemandirian. Inisiatif ini mencakup kampanye kesadaran, pelatihan untuk mengatasi stereotip dan diskriminasi, serta membangun jaringan sosial yang positif. Dengan merasa diterima dan didukung oleh masyarakat, penyandang disabilitas akan merasa lebih mampu mengatasi rintangan dan mencapai tujuan mereka.

Kelima, Mendorong kreativitas dan inovasi. Penyandang disabilitas sering kali memiliki keunikan dan bakat tertentu. Mendorong kreativitas dan inovasi di kalangan mereka dapat membuka peluang baru. Dukungan untuk inisiatif kewirausahaan dan proyek-proyek seni atau teknologi yang dipelopori oleh penyandang disabilitas dapat menjadi langkah penting dalam mewujudkan kemandirian mereka.

Mari kita dukung agar para penyandang disabilitas bisa hidup mandiri.

———– *** ————

Rate this article!
Tags: