Menjaga Kearifan Lokal yang Mulai Punah

Oleh :
Lukman Hakim AR
Staf di lingkungan IAIN Jember dan Pengajar di Makhad Al-Jami’ah IAIN Jember
Indonesia saat ini berada pada masa modernisasi dan globalisasi. Globalisasi terjadi melalui sistem jaringan informasi dan komunikasi, tidak ada batas teritorial, negara, bangsa, suku dan sebagainya dengan menggunakan sistem satelit dan internet, maka komunikasi dapat terjadi di mana saja dan kapan saja. Teknologi berkembang pesat di dalamnya dan membantu keberlangsungan hidup manusia.
Teknologi yang dikemas dalam bentuk gadget adalah salah satu produk modernisasi dan globalisasi. Gadget berfungsi sebagai media komunikasi serta sebagai media untuk menambah ilmu pengetahuan. Gadget secara umum dapat digunakan untuk menyimpan data, gambar, audio dan dokumen. Pada gadget ada fitur yang beragam, salah satu bentuk fitur pada gadget adalah video games dan game online. Fitur tersebut menjadi media edukasi dan hiburan untuk anak.
Gadget memiliki dampak negatif seperti sebagai media penyebar hoax. Dampak lainnya juga membuat anak kecanduan seperti pada penggunaan game online dan video games. Kecanduan game tersebut menurut World Healty Organisation (WHO) masuk dalam gangguan mental. Hal tersebut dilengkapi juga dengan kasus di Jember sebab kecanduan game online, lima anak jalani perawatan kejiwaan. (regional.kompas.comkecanduan-game-online-5-anak-di-Jember-jalani-perawatan-kejiwaan)
Permasalahan-permasalahan kemudian muncul dan membuat orang tua gelisah akan perkembangan anaknya yang candu terhadap game online. Hal ini menyebabkan anak yang bermain game online atau sibuk dengan dunia gadget akan memiliki sikap sosial yang berbeda dengan anak yang lebih sering melakukan aktifitas lain di luar penggunaan gadget dalam kehidupan sehari-hari.
Bermain merupakan aktivitas manusia yang menyenangkan. Bermain bukan paksaan dari orang lain, tetapi karena pilihan anak itu sendiri. Melalui bermain dimungkinkan anak akan berfikir lebih kreatif, menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lain yang pernah dialami, dan membuat lebih mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan. Anak akan menemukan kekuatan dan kelemahan, keterampilan, minat, pemikiran dan perasaannya ketika bermain. Dalam bermain, anak tidak hanya mengembangkan kemampuan tubuh, otot, koordinasi gerakan, namun juga kemampuan berkomunikasi, berkonsentrasi, dan keberanian mencetuskan ide-ide kreatif. Fungsi permainan tidak hanya sebagai sarana hiburan, melainkan juga sarana sosialisasi. Mengingat pentingnya fungsi permainan dalam masyarakat, maka dalam masyarakat di berbagai daerah memiliki permainan tradisional, yaitu permainan yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Alat-alat bermain dalam permainan tradisional, biasanya berasal dari alam. Seperti kayu, bambu, biji buah sawo, pecahan genteng dan sebagainya. Namun ada juga yang buatan seperti kelereng dan alat untuk bermain dakon.
Permainan tradisional menjadi salah satu dari warisan budaya di Indonesia, atau bisa juga disebut dengan kearifan lokal. Terdapat dua jenis warisan budaya yakni warisan budaya benda dan tak benda. Budaya benda adalah warisan dengan wujud tetap dengan nilai historis, arkeologis, dan artefak, seperti contoh monumen di suatu daerah. Sedangkan budaya tak benda adalah warisan dengan wujud tak tetap, berubah-ubah sesuai dengan kreativitas, representasi, ekspresi, signifikasi komunitasnya masing-masing, diwariskan dan diciptakan kembali dari generasi ke generasi, seperti bahasa, sastra lisan, seni batik dan sebagainya.
Budaya permainan tradisional yang memiliki manfaat seperti melatih anak untuk berinteraksi dan bergerak serta kreatif justru mulai ditinggalkan. Hal tersebut kemungkinan bukan sepenuhnya salah anak, melainkan orang tua dan guru yang kurang gencar mengenalkan permainan tradisional yang pernah ada. Lembaga pendidikan harusnya menjadi tempat untuk menyelesaikan problema tersebut.
Budaya permainan tradisonal ini lambat laun semakin tenggelam dikarenakan adanya teknologi yang semakin canggih dan melesat pada peradaban saat ini, seperti dakon, kempyeng, gobak sodor, jumpritan, betengan, egrang dan sebagainya. Hal tersebut diakibatkan dengan meluasnya penyebaran gadget. Gadget secara umum dapat digunakan untuk menyimpan data, gambar, audio dan dokumen. Pada gadget ada fitur yang beragam, salah satu bentuk fitur pada gadget adalah video games dan game online.
Melestarikan permainan tradisonal melalui sekolah dan lingkungan masyarakat
Hal yang perlu diperhatikan baik bagi taman belajar (sekolah), orang tua dan masyarakat lebih mengenalkan dan mengajak anak-anak mereka untuk bermain dengan budaya permainan tradisional. Bagi orang tua dan masyarakat paling tidak setiap RW atau RT menyediakan tempat pojok permainan/ games corner, yang mana pojok permainan/games corner ini bertujuan memberi wawasan, pemahaman, nilai-nilai yang ingin ditanamkan dan kebebasan anak-anak sekitar untuk bermain dengan permainan tradisional. Begitupula sekolah setidaknya juga menyediakan tempat pojok permainan/games corner atau pojok literasi dan budaya yang mana didalamnya menyediakan peminjaman permainan tradisional. Selain itu orang tua dan sekolah mengawasi dan membatasi anak-anak dalam penggunaan gadget, baik dilingkugan sekolah maupun keluarga. Melaksanakan kegiatan pendukung yang berkaitan dengan pelestarian permainan tradisional serta memperhatikan karakter yang terbentuk ketika anak bermain permainan tradisional. Melaksanakan program lain yang berkaitan dengan perkembangan pada anak. Tetap melestarikan permainan tradisional sebagai aset bangsa, karena anak adalah generasi bangsa yang akan merawat beragam peninggalan budaya dari nenek moyang. Mendukung aktifitas anak dalam bermain permainan tradisional. Mengajarkan beragam kebiasan baik yakni mengenai nilai karakter anak.
Egrang yang mulai dikenal kembali
Permainan egrang merupakan permainan tradisional yang kini mulai langka dimainkan oleh anak-anak Indonesia. Egrang sendiri adalah alat permainan tradisional yang terbuat dari 2 batang bambu dengan ukuran selengan orang dewasa, sedangkan untuk tumpuan bawah bambunya agak besar.
Permainan tradisional ini sudah tidak asing lagi, mekipun di beberapa daerah di kenal dengan nama yang berbeda beda. Permainan Egrang sendiri sangat unik karena sangat dibutuhkan ketrampilan dan keseimbangan tubuh bila menaikinya, makanya tidak semua orang baik orang dewasa maupun anak-anak bisa bermain Egrang. Saat ini permainan ini juga sudah mulai sulit di temukan, baik di desa maupun di kota. Namun tidak dengan salah satu daerah di Kecamatan Ledokombo, Jember, Jawa Timur. Permainan ini sengaja dilestarikan dengan dilakukan Festival Egrang Ledokombo setiap tahunnya yang dipelopori oleh Komunitas Tanoker Ledokombo Jember. Tujuan tidak lain adalah ingin menjaga, melestarikan dan mengenalkan pada dunia bahwa Indonesia kaya akan dengan permainan tradisional yang menarik dan asyik.
Menjaga dan melestarikan adalah hal yang paling penting agar kearifan lokal tidak punah ditelan jaman. Mengadakan lomba maupun vestifal adalah salah satu cara agar kearifan lokal tetap eksis, tetap dikenal, dan digandrungi oleh masyarakat, harus dan harus sedini mungkin anak-anak dikenalkan dan diajak untuk menjaga dan melestarikan kearifan lokal agar mereka tidak mudah melupakan sejarah, asyik dan uniknya kearifan lokal (permaianan tradisional).
———- *** ————

Tags: