Menjaga Pendidikan Berkualitas

Oleh :
Amir Rifa’i
Pemerhati Pendidikan dan Dosen AIK UMM

Pendidikan nasional bukan sekadar menghayati dan mengembangkan unsur-unsur kependidikan dan kebudayaan, tetapi juga ikut membangun peradaban nasional. Pendidikan yang didasarkan pada pranata-pranata sosial untuk pendidikan seperti keluarga, sekolah, haruslah menjadi pusat-pusat penggalian dan pengembangan kebudayaan lokal dan nasional.

Pendidikan bertujuan membentuk kepribadian seimbang di kalangan peserta didik melalui latihan rohani (spiritual), intelektual, emosional, dan jasmani dengan menunjukkan peserta didik itu kepada berbagai pengalaman pada aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan tujuan luhur pendidikan.

Pendidikan juga bisa disebut sebagai bimbingan secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik dalam hal perkembangan jasmani dan rohani menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan tidak hanya untuk kepentingan individu atau pribadi, tetapi juga untuk kepentingan masyarakat sehingga terwujud masyarakat yang berbudi dan peduli.

Maka tidak salah jika kita berkata bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban suatu bangsa, karena dengan adanya kesadaran akan arti pentingnya pendidikan dapat menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) dari generasi ke generasi. Oleh karena itu substansi pendidikan, materi pembelajaran, metodelogi pembelajaran, dan manajemen pendidikan yang berkualitas sudah seharusnya menjadi perhatian khusus bagi para penyelenggara negara.

Dalam amanah konstitusi, yang terdapat pada Pasal 31 UUD Tahun 1945, telah jelas bahwa gagasan utama dari pasal tersebut adalah prioritas di bidang pendidikan, Negara menjamin setiap warga negara untuk menjadi subjek dalam proses pendidikan dan pemerintah wajib turun tangan dalam membangun peradaban melalui pendidikan.

Dari beberapa devinisi tersebut kita jadi tahu bahwa sebagai warga yang baik, seta ikut dalam dunia pendidikan, hendaklah menjaga pendidikan supaya tetap berkualitas. Dalam sebuah diskusi, Menteri Pendidikan, Nadiem, pernah berpesan dalam pidatonya yaitu akan membuat terobosan dalam dunia pendidikan, terutama imbauan kepada para guru untuk menjadi agen pertama perubahan (agen of change) dalam dunia pendidikan, mengubah budaya dan metodologi mengajar, menggali kemampuan berkarya dan berkolaborasi.

Dalam pesanya tersebut mentri memberikan 5 poin penting tugas berat guru ke depan, yakni mengajak kelas berdiskusi dan bukan hanya mendengar, memberi kesempatan kepada murid untuk praktik mengajar di kelas, tidak hanya guru yang mengajar, mencetuskan proyek bakti social kepada masyarakat, menemukan bakat dalam diri seorang murid yang kurang percaya diri dan memberikan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan.

Seorang guru harus memperhatikan prior knowledge, apa yang telah diketahui seorang siswa mengenai suatu topik. Hal ini akan memengaruhi proses pembelajaran siswa tersebut. Kemudian dalam proses pembelajaran, guru harus memperhatikan bahwa siswa tersebut tidak sekadar menyerap dan menghafal suatu informasi, tetapi juga mampu untuk memproses informasi yang diperoleh. Dengan pemahaman ini, seorang siswa kemudian juga diajarkan untuk dapat mengaitkan ide tersebut dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Dari sini penulis menangkap bahwa, guru dituntut untuk memenuhi semua kualifikasi sumber daya manusia dengan sebaik-baiknya. Selain ada standar minimal pendidikan untuk menjadi guru, kemampuan mengajar, juga kemampuan sebagai psikolog bagi murid dalam menemukan talenta tersembunyi yang ada pada diri mereka untuk mencetak generasi masa depan yang berkualitas dan mampu bersaing dengan dunia luar.

Menurut hemat penulis, terlepas dari berbagai tugas yang cukup berat tersebut, pemerintah hendaklah juga memikirkan kesejahteraan guru yang hingga kini dirasa belum terlaksana dengan baik. Kenapa kesejahteraan menjadi point penting untuk memberi semangat bagi guru? Karena banyak diantara guru kita yang mengandalkan dan menggantungkan kehidupanya kepada profesi yang digelutinya. Bahkan itu bisa menjadi kendala utama dalam proses belajar mengajar jika kesejahteraan tidak terpenuhi dengan baik.

Di Indonesia sendiri, gaji guru terutama honorer bisa dikata masih cukup memprihatinkkan. Banyak contoh yang bisa dilihat, beberapa waktu lalu seorang guru sempat viral karena membuat status gaji Rp700 ribu selama mengajar 4 bulan, di laman Facebook (FB), seorang guru tersebut mengajar di sebuah SD Negeri, yang berada di Sulawesi Selatan. Dan akhirnya guru tersebut-pun dipecat oleh fihak sekolah.

Dalam sebuah berita, diungkapkan bahwa guru tersebut bernama Hervina (34) dipecat hanya karena dia memasang tentang gaji-nya di media sosial. Padahal, ia mengunggah hal itu tidak dilandasi oleh niat buruk. Seperti diketahui sang guru Hervina telah bertugas selama 16 tahun, terhitung sejak 2005.

Sungguh miris memang jika kita menyadari bahwa sebuah tugas mulia dengan tenaga maksimal dan penuh dengan dedikasi selama bertahun-tahun hanya mendapat gaji yang bisa dibilang sedikit untuk ukuran saat ini. Namun tidak semua alasan itu harus dibebankan kepada guru, karena kemajuan sebuah pendidikan memerlukan proses, dan proses tidak hanya dapat dilakukan oleh segelintir kelompok dalam hal ini adalah guru.

Tapi semua harus ikut aktif dalam menjaga kualitas dari pendidikan, tanpa terkecuali seorang murid. Murid mempunyai peranan penting dalam memajukan lembaga pendidikan dan ikut tampil dalam membangun peradaban sebuah bangsa. Murid juga sebagai SDM yang menjadi proiritas dalam menjalankan misi mullia menjadi pendidikan berkualitas.

Pendidikan yang berkualitas akan dapat diperoleh ketika kegiatan belajar dan mengajar saling berhubungan antara guru dan murid. Sebuah pengajaran harus memengaruhi pembelajaran, dan pembelajaran harus memengaruhi pengajaran. Dalam hal ini kita melihat bahwa mengajar lebih dari sekadar memberi tahu, dan belajar lebih dari sekadar mendengarkan.

Ada sinergitas antara guru dan murid akan menjadikan sebuah pedidikan menjadi baik, selain itu dari kedua fihak diharapkan mengerti akan pentingnya penciptaan kondisi belajar yang positif. Hal ini dapat diciptakan di antaranya dengan membangun suasana belajar yang kolaboratif, mendorong siswa untuk mengungkapkan ide mereka, serta memacu siswa untuk memiliki rasa ingin tahu.

Selain guru dan murid diperlukan juga peran orangtua sebagai guru dilingkungan rumah dan juga para pemangku kebijakan pendidikan untuk bersama menjaga kualitas pendidikan yang lebih baik. Jika semua ikut bersinergi dalam menjalankan tugas mulia pendidikan, maka kualitas pendidikan akan tetap terjaga dengan baik.

———– *** ———-

Rate this article!
Tags: