Menunggu Tuah Kebijakan Ekonomi

341995001345977652_moving_money_making_machine_animation1[1]SUDAH dua bulan pemerintahan baru berjalan. Namun, hingga kini tuah pemerintahan baru di sektor finansial benar-benar tak terasa. Di pasar uang, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) terus tertekan. Bahkan pada perdagangan kemarin menuju level terendah sejak 2008. Merujuk kurs tengah Bank Indonesia (BI), kurs rupiah bertengger di level Rp 12.432 per USD. Nasib sedikit lebih baik terjadi di pasar modal.
Meski pelan, indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil menguat. Hanya, penguatannya tak sesuai dengan ekspektasi investor. Sejak pergantian pemerintahan, IHSG hanya mondar-mandir di kisaran sempit. Padahal, banyak investor yang berharap Bursa Efek Indonesia (BEI) akan meroket seperti bursa India ketika presiden pilihan rakyat terpilih. Lantas, apa yang salah? Sebenarnya, tidak ada yang salah. Bahkan, kebijakan yang propasar seperti menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi telah dilaksanakan.
Namun, semua itu terbukti belum efektif mendongkrak kepercayaan investor di pasar finansial. Dalam perspektif orang awam, pasar finansial adalah simplifikasi paling sederhana untuk melihat kondisi perekonomian. Naik turunnya kurs atau indeks saham bisa menjadi cermin seperti apa kondisi perekonomian sebenarnya. Pelemahan kurs yang terjadi secara masif dan terstruktur bisa diterjemahkan sebagai kondisi perekonomian yang masih rentan.
Meski sudah menaikkan harga BBM, pemerintah memang masih menghadapi problem defisit neraca perdagangan. Itu merupakan salah satu pekerjaan rumah besar yang mendesak untuk diselesaikan. Kenaikan harga BBM yang diharapkan menekan impor ternyata belum mampu meredam defisit dagang. Apalagi, harga dan ekspor komoditas yang selama ini menjadi andalan belum menunjukkan tanda-tanda membaik.
Kini, memasuki pengujung tahun, tantangan yang dihadapi bakal makin berat. Rencana bank sentral AS (The Fed) menaikkan suku bunga pada 2015 diperkirakan makin memperberat kurs rupiah dan pasar modal. Investor asing yang selama ini menanamkan modalnya di pasar finansial juga terancam hengkang. Itu belum lagi dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berlaku pada 2015. Karena itu, pemerintah mesti mengambil langkah cepat untuk memulihkan kepercayaan investor.
Diakui atau tidak, dalam dua bulan ini memang belum ada kebijakan radikal yang membuat investor betah. Kebijakan investasi satu pintu di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memang layak diapresiasi. Namun, jangan sampai itu hanya tinggal janji, mengingat di tingkat implementasi, Indonesia biasanya rendah. Yang dibutuhkan saat ini adalah kebijakan ekonomi yang tepat sehingga kepercayaan investor di pasar finansial bisa menguat.

                                               —————————– ooo —————————-

Rate this article!
Tags: