Menyusuri Sejarah Kopi di Malang

Judul Buku : Kopi, Pagebluk, dan Kota: Menyulam Wajah Kota Malang di Era kolonial
Penulis : Pipit Angraeni, dkk.
Penerbit : Setara Press, Malang
Cetakan : Pertama, 2021
Tebal : xvi + 118 halaman
ISBN : 978-623-95424-1-2
Harga : Rp51,000
Peresensi : Ahmad Fatoni,
Pecandu kopi, pengajar Universitas Muhammadiyah Malang

Mula-mula Malang hanyalah sebuah daerah kecil di pedalaman. Secara geografis, bentang alam di Malang membuat daerah ini sedikit terisolasi dan perkembangannya agak melambat. Daerah Malang boleh dikatakan penuh dengan hambatan alam sebab dikelilingi dua pegunungan, yakni pegunungan Arjuna-Panderman-Kawi di sebelah barat dan Bromo-Semeru di sebelah timur.

Di sisi lain, tanah di wilayah Malang tergolong subur dan kaya akan abu vulkanik dan sumber air. Tak heran jika di akhir abad ke-19 banyak terdapat perkebunan. Sebelum tanaman kopi masuk, perkebunan di Malang ditumbuhi tebu dan tembakau. Seiring dengan liberalisasi di Hindia Belanda, perkebunan kopi bermunculan di selatan Malang. Karena kopi, Belanda tak ragu membangun Malang demi mereguk keuntungan ekonomi.

Sebagaimana sejarah masuknya kopi di Indonesia, menelusuri jejak sejarah kopi di Malang memang tak lepas dari sejarah perkebunan. Tidak ada catatan pasti mulai kapan tanaman kopi memasuki wilayah Malang. Diperkirakan tidak lama semenjak kultivar kopi dari Batavia menuai sukses dan kemudian disebar ke wilayah koloni Belanda lainnya. Catatan sejarah menunjukkan perkebunan kopi mulai marak ditanam di Malang pada era Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kebijakannya dikeluarkan oleh gubernur jenderal Van Den Bosch pada tahun 1832.

Sejak kopi ditanam di Malang, wajah wilayah ini perlahan mulai berubah. Pemerintah kolonial Belanda pun mulai menaruh perhatian dan menjadikan Malang sebagai basis perkebunan kopi sekaligus sasaran eksploitasi. Perubahan ini dimulai dari kebijakan Ordonansi Priangan yang dikeluarkan oleh gubernur jenderal H.W. Daendels di tahun 1808. Ketika itu, Daendels mengeluarkan peraturan berisi kewajiban penanaman kopi di daerah lain di Jawa dan dilakukan dengan cara yang sama seperti di Kabupatenan Priangan.

Dampak dari kebijakan tersebut merambah sampai ke wilayah Karesidenan Pasuruan. Ini diperkuat oleh catatan dari Residen Pasuruan yang mengatakan bahwa antara tahun 1827 hingga 1830 penduduk Kabupaten Malang yang hanya sejumlah 40.000 jiwa dapat menghasilkan 57.000 pikul kopi.

Salah satu dampak terpenting dari aktivitas perkebunan adalah perluasan jaringan transportasi. Sebagai sebuah aktivitas ekonomi yang berorientasi pasar internasional, perusahaan perkebunan menuntut kemudahan transportasi untuk menghindarkan terjadinya penyusutan kualitas dari produk yang dibawa. Beberapa titik produksi terletak di pedalaman sehingga menuntut adanya penghubung antara pusat produksi dengan daerah pengumpul.

Karena kopi pula, jalur kereta api dibangun menembus hutan belantara Malang, berdiri gagah di atas Daerah Aliran Sungai Brantas. Jalur rel trem turut membelah jantung kota, demi mengangkut biji kopi dari pedalaman, lalu dikirim oleh perusahaan-perusahaan swasta ke berbagai penjuru dunia.

Akan tetapi, moda transportasi massal pengangkut manusia dan hasil perkembunan itu turut andil dalam mempercepat penebaran wabah pes di Malang. Akibat kegagapan pemerintah kolonial, wabah mengerikan merenggut ribuan korban jiwa dari rakyat jelata. Desa dan kampung terpaksa dibumihanguskan demi mencegah penyebaran wabah.

Wabah pes ikut berperan dalam mengubah wajah kota, membuat pemerintah kolonial menata permukiman penduduk sedemikian rupa. Wabah juga menjadi salah satu alasan Belanda tak ragu mempercepat penetapan Kotamadya Malang. Bisa dibilang, kopi dan wabah menjadi titik simpul pembentuk Kota Malang.

Namun demikian, kondisi geografis Malang tak dapat dipungkiri menjadi satu poin penting dalam menentukan perencanaan pengembangan kota. Sebuah kota yang didesain layaknya kota taman. Kota yang nyaman untuk dihuni dan menjadi tempat peristirahatan bagi para meneer dan noni Belanda selama seratus tahun ke depan.

Sayangnya, sisa-sisa arsitektur kota terbaik di Hindia Belanda itu kini tinggal cerita. Herman Thomas Kasrten, aristek asal Amsterdam yang berperan dalam perencanaan wilayah pemukiman di Hindia Belanda, bila masih hidup, tentu akan terkejut melihat kondisi kota yang dirancangnya itu kini semrawut. Dengan jumlah penduduk yang semakin berlipat ganda, pembangunan kota seolah dirancang tanpa pola. Dalihnya pun tetap sama, demi pembangunan ekonomi semata.

Buku ini, selain membentangkan jejak historis perkebunan kopi di Malang, juga menyajikan sejarah berdirinya sebuah kota dengan segala elemen pembentuknya sebagai pembanding bagaimana manusia dan kotanya tumbuh seiring perkembangan zaman. Dari sejarah itu pula kita bisa belajar, agar tak terus berulang terperosok ke lobang permasalahan yang sama.

——— *** ———–

Rate this article!
Tags: