Merawat Kebersamaan di Tengah Wabah Corona

Oleh :
Ilham Akbar
Esais dan Pemerhati Sosial ; Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Serang Raya
Awal tahun 2020 Indonesia benar-benar menghadapi berbagai macam permasalahan yang sangat rumit, mulai dari bencana alam sampai munculnya virus corona yang membuat masyarakat menjadi panik dan takut. Dari kedua permasalahan tersebut, yang sampai saat ini masih menjadi momok yang sangat menakutkan ialah, permasalahan mengenai virus corona. Virus tersebut bukan hanya virus biasa, karena virus tersebut sangat mudah tertular ke banyak orang. Buktinya saja pada tanggal 14 Maret 2020 kemarin, pemerintah sempat mengumumkan bahwa 96 orang telah terinfeksi virus corona.
Sampai saat ini virus corona telah mengundang spekulasi bagi semua orang, bahkan beberapa media sempat menduga bahwa virus tersebut merupakan senjata biologis buatan Tiongkok, dan Mahmoud Ahmadinejad selaku mantan presiden Iran juga sempat mengatakan bahwa virus tersebut merupakan senjata biologis buatan Amerika serikat. Namun disamping itu semua, pada kenyataanya virus corona telah membawa mala petaka bagi bangsa Indonesia. Virus tersebut bukan hanya menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi takut, tetapi juga virus tersebut bisa menjadi ujian bagi persatuan negara Indonesia.
Kehadiran virus corona di Indonesia kini berdampak buruk bagi interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kini masyarakat semakin takut untuk melakukan interaksi secara langsung, dan masyarakat juga akan memilih untuk berdiam diri di rumahnya daripada harus pergi ke luar rumah. Bahkan Menteri Agama Fachrul Razi pun menyarankan kepada para jemaah masjid untuk tidak melakukan jabat tangan antara sesama jemaah lainnya, dan ia juga menyarankan kepada para jemaah untuk tidak melakukan sentuhan pipi. Begitu pun sama halnya dengan Pemprov DKI Jakarta yang telah menutup 17 tempat wisata yang selama ini menjadi destinasi liburan bagi masyarakat.
Saran yang dilakukan oleh Menteri Agama dan tindakan menutup 17 tempat wisata dari Pemprov DKI Jakarta merupakan suatu hal yang secara tidak langsung akan menguji persatuan Indonesia. Misalnya apabila para jemaah masjid tidak melakukan jabat tangan dan melakukan sentuhan pipi antara satu sama lain, maka mereka tidak bisa lagi merasakan kesatuan dan persatuan yang selama ini ada di dalam masjid. Dan juga, apabila 17 tempat wisata di Jakarta itu ditutup maka masyarakat tidak bisa menikmati liburan dan tidak bisa melakukan komunikasi antar budaya antara satu sama lain. Padahal tempat wisata merupakan salah satu sarana komunikasi antar budaya yang telah menjadi kearifan lokal di negara ini.
Pada akhirnya ketika hal itu terjadi, maka akan menciptakan berbagai macam disinformasi yang hadir di media sosial. Misalnya mengenai saran untuk tidak melakukan jabat tangan dan tidak bersentuhan pipi di masjid, akan mendorong para buzzer untuk memelintir berita bahwa Menteri Agama telah menghina agama Islam, atau pemerintah tidak peduli dengan agama Islam. Dan juga, mengenai penutupan 17 tempat wisata akan mendorong para buzzer untuk memelintir berita agar Pemprov DKI Jakarta terlihat buruk. Itu semua bisa terjadi, bukan? Maka dari itu, sebelum virus corona ini semakin membuat bangsa Indonesia menjadi terpecah belah, maka semua pihak harus saling melakukan tindakan yang bisa menjaga persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
Mengantisipasi Rumor
Rumor adalah informasi yang tidak jelas dari mana asalnya, siapa yang membawanya, dan kebenarannya tidak dapat dipertanggung jawabkan. Rumor terjadi karena setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengira-ngira atau membuat analisis sendiri tentang apa yang terjadi (Kriyantono, 2012: 175). Ketika melihat kultur dari masyarakat kita yang sangat senang dalam menyebarkan informasi yang tidak benar, maka sangat lah tepat untuk mengatakan bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat senang menyebarkan rumor. Sehingga ketika rumor itu disebarkan, yang tercipta hanyalah keresahan masyarakat mengenai virus corona. Maka dari itu, rumor merupakan hal yang sering dianggap sepele, namun di sisi lainnya rumor juga sangat sulit untuk diantisipasi.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan masyarakat saling bahu-membahu dalam mengantisipasi rumor yang sering beredar di media sosial, maupun rumor yang beredar dari mulut ke mulut. Pemerintah juga harus selalu siap ketika menghadapi rumor yang terkadang lebih cepat daripada informasi yang disampaikan oleh pemerintah. Selain itu juga, kini masyarakat harus menahan diri untuk tidak terpancing dengan rumor-rumor yang belum pasti kebenarannya. Dan yang tak kalah penting, masyarakat tidak boleh melakukan analisis dengan seenaknya sendiri, karena hal itu akan membuat masyarakat lainnya menjadi bingung dan tidak mendapatkan informasi yang sebenarnya.
Memperkuat Kohesi Sosial
Kohesi yang dimaksud di sini adalah penyatuan. Artinya, media massa mendorong masyarakat untuk bersatu. Dengan kata lain, media massa merangsang masyarakat untuk memikirkan dirinya bahwa bercerai-berai bukan keadaan yang baik bagi kehidupan mereka. Termasuk di sini media massa yang mampu meliput beritanya dengan teknik cover both sides (meliput dua sisi yang berbeda secara seimbang) atau bahkan all sides (meliput dari banyak segi suatu kejadian) (Nurudin, 2015: 77).
Peran media massa dalam memperkuat kohesi sosial tentu sangatlah penting, karena media massa mampu merangkai dan membingkai suatu informasi yang membuat masyarakat langsung memercayainya. Di tengah wabah virus corona ini, sebaiknya media harus berfokus untuk memberikan informasi yang benar-benar jernih. Media massa tidak boleh seenaknya memberikan indoktrinasi mengenai virus corona, sehingga membuat masyarakat menjadi takut. Oleh karena itu, ketika suatu negara sedang di landa oleh wabah penyakit, maka semua pihak yang ada di negara tersebut harus saling berupaya untuk menjaga kesatuan dan persatuan yang telah mereka bangun. Begitu pun dengan negara Indonesia, kini sudah saatnya pemerintah, masyarakat, dan media massa saling menjaga persatuan Indonesia dengan sebaik mungkin.
———— *** ————

Tags: