Merawat Persaudaraan dalam Perbedaan

Oleh:
Ahmad Fatoni
Pengajar PBA-FAI Universitas Muhammadiyah Malang

Sejak Majelis Umum PBB menetapkan pada 4 Februari 2019 lalu sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional, momentum bersejarah tersebut menjadi perhatian dan menginspirasi banyak tokoh dunia di berbagai negara. Ada yang menginternalisasikannya dalam konstitusi, banyak juga negara yang memasukkannya dalam kurikulum pendidikan. Dalam konteks Indonesia, sikap persaudaraan sekemanusiaan sangat relevan bagi upaya penguatan moderasi beragama serta peran aktif Indonesia dalam mewujudkan perdamaian dunia.

Sebagai makhluk sosial, setiap manusia pasti hidup di tengah masyarakat yang beragam. Beragam agamanya, beragam warna kulitnya, beragam bahasanya, beragam adat serta budayanya. Al-Quran pun telah menegaskan bahwa keragaman dan perbedaan tersebut adalah hukum yang berlaku dalam kehidupan.

Kendati berbeda agama sekalipun, Islam sejak awal memberi sumbangsih bagi terciptanya hidup bersama dalam bingkai persaudaraan. Sebab pada prinsipnya, semua manusia adalah bersaudara. Hal ini sejalan dengan apa yang terkandung dalam Al-Quran surat Al-Hujur?t ayat 10 yang menyatakan bahwa orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.

Islam Mendorong Persaudaraan
Islam sebagai agama yang memiliki nilai-nilai luhur, mendorong semua pengikut agama-agama pada satu cita-cita bersama, yaitu kesatuan umat manusia (unity of human kind) tanpa membedakan ras, warna kulit, etnik, budaya dan agama. Kelahiran Islam memang ditujukan untuk membangun persaudaraan sekemanusiaan secara universal.

Tersebab faktor universalitas persaudaraan itulah Islam mengajak dialog semua insan beragama demi mencapai satu titik temu. Sebagaimana firman Allah SWT, “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.” (Q.S. ?li Imr?n: 64).

Dialog tentu bukan sebatas percakapan, melainkan pertemuan antara kejernihan pikiran dan ketulusan hati mengenai persoalan bersama, yang tujuannya agar setiap pemeluk agama dapat belajar dari yang lain sehingga terjadi perubahan ke arah kehidupan yang damai nan menyejukkan.

Dialog senyatanya dilakukan secara terbuka dan jujur hingga membawa pada kesaling-pengertian (mutual under-standing). Dengan demikian, prasangka, stigma, dan caci maki, dapat dikurangi dan dihilangkan. Pada saat yang sama, dialog memupuk rasa saling percaya (mutual trust) dan permakluman atas perbedaan dan keunikan di antara agama-agama dan budaya hidup keberagamaan.

Keragaman dan perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah yang tidak bisa ditolak kehadirannya. Dalam konteks kebangsaan, keberadaan masyarakat yang heterogen adalah karunia terindah bagi bangsa Indonesia yang harus dirawat bersama, agar benar-benar menjadi bangsa yang beradab dan masyarakat yang mendapatkan ampunan-Nya menuju cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr.

Allah SWT menciptakan hamba-Nya berbeda, supaya mereka saling mengenal, menyayangi, dan mencintai. Dalam konteks perbedaan agama misalnya, umat Islam yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan berarti bersedia memberikan keselamatan dan perasaan aman bagi komunitas yang berbeda keyakinan.

Tantangan Menghadapi Perbedaan
Namun fakta di lapangan, masyarakat kerap dipertontonkan oleh berbagai media bahwa di sebagian wilayah, ada masyarakat yang belum memahami tentang arti sebuah perbedaan. Berita-berita menunjukkan masih adanya pemaksaan kepada komunitas lain untuk menjadi bagian dari komunitasnya. Pemaksaan apa pun bentuknya tidak jarang menimbulkan konflik yang memicu pertengkaran sesama anak bangsa.

Suatu komunitas, bangsa, dan negara tidak akan berdiri dengan tegak, bila di dalamnya tidak terdapat persaudaraan. Salah satu upaya memperkuat persaudaraan ialah dengan mengajarkan nilai-nilai persaudaraan sejak dini dengan membiasakan budaya kebersamaan serta persatuan tanpa adanya sekat-sekat agama, ras maupun kebangsaan. Itulah yang diajarkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Sebagai sesama manusia, setiap muslim hendaknya menjaga persaudaraan dalam keragaman hidup bersosial dan beragama. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bagaimana beliau sangat menghormati orang lain, termasuk kepada yang berbeda agama. Dalam sebuah riwayat disebutkan, beliau berdiri sebagai tanda penghormatan saat ada iringan jenazah yang melewatinya. Ketika diinformasikan bahwa jenazah itu adalah orang Yahudi, Rasulullah menjawab, “Bukankah dia juga manusia?”

Betapa indahnya ajaran Islam yang mengajarkan umatnya untuk menghormati sesama, apapun agamanya, baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati. Itulah salah satu kunci kesuksesan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban Islam dimulai dari konsep mempersaudarakan antara penduduk Madinah yang heterogen. Dalam catatan sejarah, di Madinah ada Suku Auz dan Khazraj yang selalu berkonflik selama ratusan tahun. Mereka berhasil dipersaudarakan oleh Rasulullah SAW dalam syariat Islam.

Sejak berhijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah menyatukan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin dalam ikatan persaudaraan atas dasar keimanan. Tujuan Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin agar terjalin sikap kekeluargaan yang saling tolong-menolong di antara mereka.

Kiranya umat Islam perlu menggali kembali teks-teks keagamaan yang mengajarkan pentingnya merawat persaudaraan di tengah ragam perbedaan. Termasuk dalam menghadapi perpedaan pilihan jelang pesta demokrasi 2024, sesama anak bangsa tetap menjaga hubungan persaudaraan. Justru adanya perbedaan tersebut bisa dijadikan sebagai media untuk terus berlomba-lomba dalam kebaikan bersama. Selebihnya, kita menerima dengan lapang dada apa pun penilaian orang lain atas kebaikan yang kita lakukan.

——— *** ———–

Rate this article!
Tags: