Merealisasi Kenaikan Gaji

Postur (kandungan isi) APBN 2024 mengesankan cukup dermawan, terutama terhadap pegawai negeri. Bulan Pebruari ini, pemerintah akan merealisasi kenaikan gaji ASN (Aparatur Sipil Negara), TNI, dan Polri sebesar 8%, serta kenaikan pensiunan sebesar 12%. Ke-dermawanan juga tergambar pada pagu anggaran untuk Perlindungan Sosial, sebesar Rp 496,8 trilyun (sekitar 14,94% dari total Belanja APBN). Pada tahun politik, ada Pemilu Legislatif, dan Pilpres.

Harus diwaspadai kedermawanan APBN bisa menjadi “alat pemenangan” golongan tertentu. Maka Presiden sebagai pucuk pimpinan negara (dan pemerintahan), seyogianya memastikan pelaksanaan APBN tidak menjadi alat politik golongan tertentu. APBN 2024 ditetapkan sebesar Rp 3.325,1 triliun. Diantara kerawanan anggaran, bisa terjadi pada program “Subsidi,” sebesar Rp 286 triliun untuk stabilisasi harga, sekaligus menjaga daya beli serta mendukung UMKM.

Kenaikan gaji ASN, sepenuhnya wewenang presiden. Tahun (2024) ini kenaikan gaji telah dicanangkan dalam RAPBN, sejak Agustus 2023 lalu. Pemerintah akan menaikkan gaji PNS (Pegawai Negeri Sipil) dari golongan I sampai IV. Tertuang dalam PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 5 Tahun 2024 tentang Perubahan Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Kenaikan gaji ASN, mulai berlaku pada gaji bulan Pebruari 2024.

Sejak diterbitkan tahun 1977, PP ini telah mengalamai perubahan sebanyak sembilan belas kali. Yakni, PP Nomor 7 Tahun 1977 Tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil. Presiden Joko Widodo telah mengubah PP Peraturan Gaji, sebanyak dua kali. Kenaikan gaji PNS, menurut PP, bertujuan meningkatkan kinerja dan kesejahteraan PNS serta mengakselerasi transformasi ekonomi dan pembangunan nasional.

Jumlah ASN yang akan menerima kenaikan gaji, sebanyak 4,32 juta orang. Pagu kenaikan gaji mencapai Rp 52 trilyun, sudah dialokasikan pada APBN 2024. Akan dibayarkan secara rapel pada bulan April. Bersamaan menyongsong Idul Fitri 1445 Hijriyah. Maka seluruh ASN akan nampak lebih “tajir.” Namun beberapa ekses gaji rapel, patut diwaspadai. Termasuk kemerosotan nilai kurs rupiah. Karena rupiah lebih banyak digelontor.

Kenaikan gaji ASN, biasanya di-ikuti kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, terutama sandang, dan pangan. Sampai SPP sekolah juga ikut-ikutan naik. Akan terjadi inflasi, dan indeks kemahalan permanen. Niscaya akan menggerogoti perekonomian rakyat, terutama rumah tangga non-ASN. Sehingga pemerintah berkewajiban menjaga agar kenaikan gaji ASN tetap “berkah.” Bukan sebaliknya menjadi bencana perekonomian tingkat grass-root.

Problem perekonomian lain yang wajib diwaspadai, adalah tren defisit anggaran yang diperkirakan mencapai 2,29% PDB. Patut dijaga seksama, melalui penghematan. Begitu pula kesan optimistis pemerintah dengan pertumbuhan sebesar 5,2%. Bisa meleset, karena perekonomian global sedang “tidak baik-baik saja.” Indikasi lain yang patut dijaga adalah inflasi, harus kukuh dijaga pada kisaran 2,8%. Wajib tidak boleh lebih dari 4%.

Inflasi bisa terjadi seperti anomali cuaca. Sebagai “warning,” Tahun (2022) lalu tercatat inflasi 4,94% (pada bulan Juli) tertinggi selama 80 bulan. Cukup miris, karena kelompok pangan memimpin laju inflasi (sampai 11,47%). Padahal untuk urusan Ketahanan Pangan, RAPBN 2024 mengalokasikan sebesar Rp114,3 triliun. Termasuk menjamin ketersediaan, dan stabilitas harga. Antara lain operasi pasar Bulog, dan impor pangan.

Beberapa indikator makro ekonomi, juga sering meleset. Terutama nilai kurs dolar. Pada APBN 2024 mem-banderol kurs nilai rupiah sebesar Rp 15 ribu per-US$. Buktinya saat ini kurs dolar Amerika sudah mencapai Rp 15.700,-, terasa terus melambung sejak lepas Idul Fitri (Mei) 2023. Kurs dolar patut dijaga ketat, karena hampir selalu melebihi perkiraan. seringkali tidak sesuai realita.

——— 000 ———

Rate this article!
Merealisasi Kenaikan Gaji,5 / 5 ( 1votes )
Tags: