Merindukan Wakil Rakyat Transformatif di Tengah Pandemi

Oleh :
Susanto
Alumni UNS Surakarta.

Wakil rakyat seharusnya merakyat
Jangan tidur kalau sidang soal rakyat
(Wakil Rakyat: Iwan Fals)

Ada sesuatu yang baru di kalangan DPRD Kabupaten. Bojonegoro pada tahun 2021. Perubahan Peraturan DPRD Nomor 9 Tahun 2015 terkait kode etik yang harus dipatuhi oleh wakil rakyat. Lebih detail dalam berita itu ada 6 point yang harus dipatuhi oleh anggota DPRD diantaranya: tidak bermain ponsel, tidak boleh merokok, tidak memotong pembicaraan saat anggota DPRD lainnya berbicara. Hal lain juga tidak menggunakan kata kata atau tindakan tidak sopan, tidak meninggalkan ruangan rapat sebelum selesai kecuali ada hal mendesak dan izin pimpinan rapat. Tidak membaca buku atau surat kabar kecuali berkaitan dengan permasalahan yang dibicarakan juga hal baru dalam perubahan kode etik itu.(Radar Bojonegoro Edisi Sabtu 16 Januari 2021).

Terlepas permasalahan di atas, sejumlah pemasalahan mendasar perlu untuk didiskusikan kembali. Mengapa wakil rakyat harus patuh pada kode etik dan harus dilaksnakan? Dan apa yang harus dilakukan saat pandemi seperti ini?

Sosok Inspiratif

Wakil rakyat itu harus bisa menyatu dengan yang diwakili apalagi saat pandemi seperti saat ini yang sudah berlangsung sejak Maret 2020. Wakil rakyat harus peka terhadap problema masyarakat di akar rumput. Tentunya harus peka terhadap permasalahan masyarakat yang dialaminya. Tentunya harus menampilkan sosok politisi transformasi dan bukan memilih politisi instan. Sebab bagaimanapun politisi yang demikian, tentunya akan lebih mementingkan diri sendiri, kelompok dan partainya sendiri dan bukan kepentingan masyarakat atau bangsa ini.

Menurut Podsakoff dkk (1996) kepemimpinan transformatif merupakan faktor penentu yang mempengaruhi sikap, persepsi, dan perilaku yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan motivasi, kepuasan sehingga mampu mengurangi konflik. Esensi dari transformatif ini sesuai yang dikenalkan oleh Mc. Gregor Burns bahwa seorang pemimpin atau wakil rakyat harus bisa memahami apa yang diinginkan oleh bawahan (baca: rakyat) sehingga adanya kepercayaan.

Bertolak dari pemahaman ini tentunya, tentunya wakil rakyat harus menjawab keraguan masyarakat. Tentunya jawabannya harus mementingkan rakyat bukan partainya. Artinya, menjauhkan pola wakil rakyat yang bergaya transaksional yang lebih mementingkan kekuasaan, dan hanya mengedepankan pencitraan (legalitas) semata. Dengan demikian, wakil rakyat yang telah dilantik selalu memberikan pengaruh kuat pola pikir, etos kerja yang menginspirasi. Dengan demikian, wakil rakyat benar-benar menampilkan sosok pribadi wakil rakyat yang transformatif bukan politisi instan.

Komitmen dengan Masyarakat

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh wakil rakyat. Pertama, memiliki komitmen untuk mengabdi pada rakyat. Mereka harus selalu menjadi sosok inspiratif melakukan pembelajaran politik santun, selalu melakukan sosialisasi program mengenai pemerintahan. Artinya wakil rakyat harus berpolitik yang bisa menenteramkan rakyat apalagi sekarang dimasa pandemi covid-19. Harus bisa menjadi peneduh saat masyarakat mengalami permasalahan.

Kedua, partai politik selalu mengingatkan para kadernya yang duduk di dewan jangan terjebak perilaku semau gue dan juga KKN . Para elit parpol harus mengawal para wakil rakyat untuk mengedepankan standar integritas moral, sikap pola perilaku antikorupsi. Mengapa ini ini penting? Menurut saya banyak elit parpol yang terjebak dalam pusaran korupsi atau budaya KKN. Misalnya, ada seorang ketua umum parpol menjadi tersangka oleh KPK karena ada indikasi melakukan KKN yang melibatkan kader sesama partai. Hal-hal inilah semestinya yang perlu mendapatkan perhatian ekstra dari para elit parpol. Sehingga kader parpol atau nonparpol yang akan menjadi wakil rakyat adalah orang-orang yang memiliki reputasi dan jiwa mengabdi.

Ketiga, para wakil rakyat harus memberikan teladan kepada rakyat terkait dengan menampilkan sosok keteladan sebagaimana dalam kode etik yang telah disahkan sebagaimana yang telah disahkan. Mengapa harus demikian? Karena masyarakat saat ini dalam menjalani masa masa sulit yaitu adanya pandemi covid-19, Pandemi membuat tata kelola perilaku masyarakat tentunya menyesuaikan kondisi. Artinya, para wakil rakyat harus patuh terhadap peraturan atau kode etik yang melekat pada dirinya.

Keempat, para wakil rakyat harus memiliki empati kpada rakyat di tengah pandemi. Lebih bijaksana manakala para wakil rakyat juga melakukan pendampingan kepada masyarakat terkait terkait dampak sosial dan pendidikan saat pandemi seperti saat ini. Dalam bidang pendidikan misalnya selama wabah Covid-19 apa yang dilakukan sehingga para siswa bisa belajar dengan baik. Para wakil rakyat bersinergi dengan konsep merdeka belajar yang digelorakan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Para wakil rakyat harus juga melakukan penguatan karakter dalam memahami kompleksitas hidup khususnya dalam hal protokol kesehatan 3 M maupun kampanye terkait dengan perlunya vaksin.

Dalam bidang sosial, para wakil rakyat harus bisa melindungi dan memberikan solusi agar masyarakat bisa terhindar dampak adanya pandemi Covid-19. Terpenting bagaimana masyarakat ada jaminan keamanan dan kesehatan. Jujur harus diakui bahwa selama pandemi banyak masyarakat yang kehilanagan pekerjaan dan juga penghasilannya menurun, Pada tataran inilah para wakil rakyat harus bisa memberikan solusi dan jemput bola untuk ikut mengatasi masalah yang dihadapi.

Nah, di era pandemi seperti ini peran wakil rakyat harus maksimal. harus tetap melakukan penguatan karakter kepada masyarakat untuk selalu hidup sehat. Covid-19 harus dimaknai oleh wakil rakyat untuk selalu menggelorakan perilaku sportif dan inspiratif. Semangat bersama sama masyarakat untuk Prokes. Sesuai pesan Ibu untuk memakai masker, cuci tangan, social distancing dan juga phsycal distancing harus menjadi perilaku sehat. Dengan demikian, melaksanakan 3 M itu sama terhormatnya juga untuk melaksanakan kode etik DPRD Bojonegoro untuk tidak merokok saat sidang dan main HP saat sidang berlangsung serta menghargai pembicaraan saat orang lain berbicara. Bukankah begitu para wakil rakyat?

———- *** ———–

Tags: