Meringankan Beban Warga, Cukup Rp 400 Ribu Sertifikat Sudah Jadi

Kepala Kanwil BPN Jatim Muchtar dan Kepala BPN Sidoarjo Nandhang Agus menunjukkan nama warga yang ada di sertifikat, Kamis (10/9).

Kepala Kanwil BPN Jatim Muchtar dan Kepala BPN Sidoarjo Nandhang Agus menunjukkan nama warga yang ada di sertifikat, Kamis (10/9).

Program Sertifikat Prona BPN
Kabupaten Sidoarjo, Bhirawa
Program pemangkasan birokrasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam mempercepat pelayanan masyarakat diapresiasi positif. Salah satunya masalah sertifikat tanah, masyarakat merasa senang dengan program tersebut karena meringankan beban mereka. Sebelumnya, untuk mengurus sendiri sertifikat tanah memerlukan waktu yang cukup lama, bahkan tahunan dengan biaya sekitar Rp 8 juga.  Lewat Sertifikasi Prona, sekarang prosesnya cukup singkat dengan biaya hanya sekitar Rp 400 ribu.
Rasa gembira atas adanya program Sertifikasi Prona yang dilakukan oleh BPN Sidoarjo dilontarkan oleh Amiyah (45) warga Desa Seketi, Kecamatan Balongbendo usai menerima sertifikat tanahnya secara resmi.
Dia menceritakan dulu saat mengurus sertifikat  waktunya sangat lama, bertahun-tahun juga belum bisa tuntas. Ditambah lagi biayanya juga cukup mahal, bisa mencapai sekitar Rp 8 juta.
Pemilik lahan seluas 370 meter persegi ini mengaku sangat senang dan aman karena lahan yang dimilikinya sekarang sudah bersertifikat resmi berkat program Sertifikasi Prona.  Sebelumnya tanah yang dimiliki hanya berstatus petok D, walaupun petok D juga diakui di masyarakat. “Tetapi tingkat legalitas lebih kuat sertifikat, dan resmi diakui oleh negara. Karena itulah saya ikut program Sertifikasi Prona. Selain prosesnya cepat dan mendapat keabsahan tanah,  dari segi biaya juga ringan,” katanya usai menerima sertifikat tanah miliknya dari Kepala Kanwil BPN Jatim Ir  Muchtar di Balai Desa Seketi, Kec Balongbendo Sidoarjo, Kamis(10/9).
Rasa senang juga diutarakan oleh Ny Darmi (78) yang datang dengan didampingi puteranya, Abdul Azis. Dia mengaku  program yang digulirkan BPN sangat bermanfaat untuk masyarakat seperti dirinya. “Apalagi bagi warga yang tidak mampu bisa mengangsur dengan bunga cukup ringan,” ujar Darmi usai menerima sertifikat tanah seluas 160 meter persegi miliknya.
Kades Seketi Seger Purwanto juga mengaku sangat senang karena warganya banyak mendapat fasilitas Sertifikat Prona BPN. Apalagi mayoritas warga yang menikmati program ini  adalah warga yang kurang mampu. “Memang program sertifikasi ini diutamakan bagi warga yang kurang mampu. Program ini sudah dilakukan sejak setahun lalu. Hari ini (kemarin) yang telah terealisasi sebanyak 460 sertifikat dari pengajuan sekitar 600 bidang,” katanya.
Kepala BPN Sidoarjo Ir Nandhang Agus Taruna usai menyerahkan sertifikat menegaskan, kalau sukses program Sertifikasi Prona ini merupakan buah dari kerja keras dan kerjasama yang cukup baik dari masyarakat dalam pengurusan sertifikat tanahnya. Pihaknya juga mengucapkan terima kasih kepada kalangan mahasiswa yang turut andil dalam proses sertifikat Prona ini.
Selain menuntaskan 460 sertifikat tanah warga Desa Seketi, BPN Sidoarjo juga telah menuntaskan sebanyak 3.500 sertifikat tanah dari 11 desa di Sidoarjo pada akhir Juli 2015 lalu. “Tahun lalu program Prona yang kita gagas selesai 100 persen, dan pada 2015 ini kita juga berharap target 100 persen bisa terealisasi,” harap Nandhang Agus.
Sementara itu Kakanwil BPN Jawa Timur Ir Muchtar yang menyerahkan secara simbolis sertifikat tanah kepada warga, berpesan agar warga Seketi bisa menyimpan sertifikatnya dengan aman. “Sertifikat ini sangat penting, karena bisa menghindari gugatan-gugatan dari pihak yang ingin menguasai bidang tanah,” jelas Muchtar.
Jika pemilik merasa tidak bisa menyimpan sertifikat tanah di rumah, bisa disimpan di kantor BPN setempat. Sertifikat ini akan disimpan di lemari anti terbakar, sehingga jaminan keselamatan sertifikat itu benar-benar terjamin. Selain itu, dengan sertifikat ini warga jangan sampai tersejerumus untuk ‘menyekolahkan’ sertifikatnya secara berlebihan. Misalnya dibuat jaminan pinjam ke bank dengan nilai terlalu banyak, sehingga tidak mampu untuk membayar angsurannya. “Akhirnya rumahnya disita oleh bank. Saya berpesan jangan sampai terjadi seperti itu,”  pesan Muchtar. [Achmad Suprayogi]

Tags: