Meruwat Moda Perairan

Keprihatinan mendalam menyelimuti angkutan perairan, sebagai moda paling vital yang terabaikan. Padahal sangat banyak legenda dan epik yang sering dituturkan (dan lagu-lagu) bertema “nenek-moyangku seorang pelaut.” Tetapi hanya dalam sebulan, terjadi kecelakaan dengan ratusan korban jiwa. Boleh jadi, itu disebabkan meredupnya ke-bahari-an. Digantikan moda transportasi darat dan udara. Berbagai legenda dan tuturan syair lagu seolah-olah terbawa angin mamiri.
Ke-bahari-an yang meredup, menyebabkan surutnya kecintaan (dan kepedulian) terhadap moda transportasi perairan. Pelabuhan, dermaga, dan kapal, tidak diurus secara baik. Sampai mitigasi kelautan sering diabaikan. Padahal omzet transportasi laut yang diurus oleh Pelindo (Pelabuhan Indonesia) I sampai IV, masih menghasilkan ratusan trilyun rupiah. Juga menjadi moda transportasi utama ekspor dan impor seluruh komoditas. Serta angkutan barang antar-pulau (interinsuler).
Ratusan trilyun rupiah lainnya, juga diupayakan oleh masyarakat (dan kelompok) berupa nafkah nelayan dengan perahu dan kapal ikan. Juga dugaan “menguapnya” trilyunan rupiah dari illegal fishing yang melibatkan kapal besar. Serta trilyunan rupiah pula yang diduga dikorupsi dalam operasional pelabuhan. Barang bukti (berupa uang) terbesar hasil Operasi Tangkap tangan (OTT) KPK, adalah di Ditjen Perhubungan Laut.
Uang senilai Rp 20 milyar, merupakan suap proyek pengerukan pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, tahun 2017. Hanya di satu pelabuhan. Sedangkan di Indonesia terdapat 149 pelabuhan (skala besar dan kecil), yang tersebar di seluruh garis pantai gugus kepulauan. Korupsi, niscaya menimbulkan ke-abai-an. Berujung berbagai tragedi transportasi laut, tak jauh dari dermaga pula. Kemana jiwa dan peduli ke-bahari-an kita menghilang? Sehingga musibah transportasi laut terjadi berentetan.
Setiap kecelakaan transportasi laut, konyolnya, dipicu oleh masalah human error. Termasuk semau gue pelaku angkutan penyeberangan. Seperti dilakukan manajemen KM Sinar Bangun. Tidak terdapat catatan penumpang pada KM Sinar Bangun. Bagai naik perahu eretan di sungai Ciliwung (Jakarta). Ciri semau gue lain, selalu kelebihan muatan. KM Sinar Bangun diduga mengangkut lebih dari 180 penumpang, tenggelam di perairan Danau Toba (18 Juni lalu).
Berselang empat hari, di tempat yang sama, KM Ramos Risma Marisi, tenggelam, karena lambung kapal bocor. Ironis, kebocoran kapal disebabkan menabrak bambu! Berselang sepakan (29 Juni), kecelakaan terjadi lagi, di perairan Sei Nyamuk. Insiden melibatkan dua speedboat pengangkut TKI (Tenaga Kerja Indonesia). Tercatat lima korban jiwa. Penyebabnya, speedboat tidak dilengkapi lampu! Karena mengangkut TKI ilegal.
Kecelakaan di perairan terus berlanjut, karena praktik “semau gue” pelaku transportasi laut. Tak lama (3 Juli), KM Lestari Maju, tenggelam di Ujung Pa’badilang, kabupaten Selayar. Kapal feri ini mengangkut ratusan penumpang, puluhan mobil, bus penumpang, minibus dan motor. Korban jiwa sebanyak 29 orang. Sebelum tenggelam, sempat di-video-kan kepanikan penumpang. Nampak posisi kapal nyaris tenggelam, serta mobil yang mengapung di geladak terbawa arus ombak tinggi.
Terbukti, navigasi, dan mitigasi di pelabuhan, patut direvitalisasi (sarana dan petugasnya). Dampaknya, sebanyak 40 kapal nelayan terbakar di dermaga barat pelabuhan Benoa, Bali, pada Senin (9 Juli). Ternyata, seluruhnya tidak layak asuransi. Disebabkan badan kapal terbuat dari kayu ringkih dilapisi fiber. Buruknya navigasi dan mitigasi, juga menimpa kapal nelayan “Joko Berek,” karam di pantai Pelawangan, Jember (Jawa Timur). Mengorbankan jiwa enam nelayan, dan tujuh lainnya hilang.
Berdasarkan UU 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Gubernur memiliki hak koordinasi kawasan dari administratur pelabuhan (Adpel). Jika ditemukan kesalahan sistemik pada usaha pelayaran, Gubernur bisa mengusulkan pembekuan izin kepada Menteri Perhubungan.

——— 000 ———

Rate this article!
Meruwat Moda Perairan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: