Minta Pemerintah Tekan Harga Kebutuhan Pokok

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Pernyataan Kepala Disnak Jatim, Maskur yang menganggap kenaikan harga 10% persen masih wajar, mendapat tanggapan beragam. Namun intinya masyarakat berharap pemerintah bisa menekan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Menurut Hamidah, naiknya harga kebutuhan pokok menjelang Bulan Ramadan membuatnya harus berfikir keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Suami saya seorang kernet truk dan saat harga naik saya harus menghitung penghasilan sehari-hari. Jika sebelumnya seminggu bisa memasak ayam goreng 2 kali, saat ini hanya bisa satu kali,” ujar warga Sidosermo, Selasa (24/6) saat ditemui Bhirawa  di Pasar Krempyeng Sidosermo Surabaya.
Ia berharap pemerintah bisa mengendalikan kenaikan harga, terutama untuk pemenuhan makanan empat sehat lima sempurna yang saat ini harganya terus naik. “Kalau mau empat sehat lima sempurna setiap hari bisa membutuhkan sekitar Rp.50 ribu. Dengan uang sebesar itu setiap hari, anak bisa-bisa tidak sekolah pak. Paling beli daging 1/4 kg dua minggu sekali, lainnya, anak-anak dan suami makan sayur, tahu, dan tempe saja,” jelasnya.
Sedangkan Aminah saat ditemui di Pasar Bendul Merisi mengatakan kenaikan tersebut dianggapnya sangat wajar, karena pedagang juga memerlukan keuntungan ganda ketika Idul Fitri. ” Saya memaklumi, karena bakul (pedagang) juga membutuhkan untung untuk menyambut Idul Fitri. Tapi saya pribadi masih berharap kenaikan jangan sampai terlampau tinggi. Kalau naik sekitar Rp 1.000-Rp 2.000, masih wajarlah. Tapi kalau sudah lebih dari Rp 5.000, memang sangat mempengaruhi uang belanja yang diberikan suami,” tutur wanita berkacamata ini.
Ia mengharapkan kenaikan tersebut tidak berlangsung lama, paling tidak setelah Idul Fitri semua kebutuhan pokok tersebut bisa mulai turun kembali. Karena biasanya setelah lebarab harga belum langsung turun, bisa menunggu hari raya kupatan baru berangsur-angsur kembali ke harga normal. [wil]

Tags: