Mogok Massal Angkutan Tak Kompak

Serikat Pekerja Transportasi Indonesi (SPTI) Cabang Jatim masih tetap beroperasi kemarin, namun mereka merencanakan untuk mogok Kamis (20/11) hari ini.

Serikat Pekerja Transportasi Indonesi (SPTI) Cabang Jatim masih tetap beroperasi kemarin, namun mereka merencanakan untuk mogok Kamis (20/11) hari ini.

Surabaya, Bhirawa
Aksi mogok nasional angkutan umum yang telah disepakati dalam Musyawarah Kerja Nasional DPP Organisasi Angkutan Darat (Organda) tidak sepenuhnya ditaati. Aksi mogok tak sepenuhnya terjadi di kota-kota besar. Termasuk di Surabaya. Sebagian ada yang tetap jalan, sebagian mematuhi imbauan mogok nasional dengan jam operasional terbatas. Aksi mogok ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dan menuntut pemerintah menaikkan tarif angkot secara resmi.
Serikat Pekerja Transportasi Indonesi (SPTI) Cabang Jatim misalnya masih beroperasi untuk melayani masyarakat yang membutuhkan angkot.  Dari pantauan Bhirawa di Terminal Kenjeran, dari 800 sopir atau awak angkot  di Terminal Surabaya Timur ini terlihat masih ada yang beroperasi melayani penumpang. Namun jumlah penumpang memang relatif sepi, tak seperti biasanya.  Di terminal itu  ada dua golongan kelompok, yaitu yang tergabung dalam Organda yang sebagian sudah melakukan mogok massal, Rabu (19/11). Mogok Organda dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 17.00. Setelah itu mereka kembali melayani penumpang.  Sebaliknya SPTI berencana mogok massal , Kamis (20/11) hari ini dan kemarin mereka tetap beroperasi seperti biasa.
Perbedaan pendapat ini tak membuat para sopir dari Organda dan SPTI di satu tempat bersitegang. Mereka masih menjalankan sesuai instruksi dari pusat. Para sopir dari Organda lebih memilih berhenti beraktivitas  hingga pukul 17.00 dan sopir dari SPTI tetap melakukan aktivitasnya untuk beroperasi.
Pimpinan Unit Kerja Lyn R di Terminal Kenjeran, Fuad Pribadi yang juga masuk dalam Organda mengatakan, pihaknya melakukan mogok massal karena memang sesuai instruksi dari pusat.  Mogoknya angkot, kata Fuad terhitung mulai pukul 00.00 Rabu dini hari sampai 17.00.
” Kita patuh sama instruksi dari pusat yaitu mogok massal. Karena Organda pusat mengusahakan minta subsidi BBM untuk angkutan kota. Dan instruksi itu sudah kami laksanakan sampai jam lima sore. Kita juga gak bisa nolak karena bersama-sama se-Indonesia,” terangnya, Rabu (19/11) kemarin.
Di Terminal Kenjeran sendiri, Fuad menyanyangkan akan tidak kompaknya para sopir yang tidak melakukan mogok secara bersamaan. Dirinya mengakui, atasan Organda sama SPTI dari dulu saling beda pendapat. Jadi, para sopir kalau ada aksi tidak semua mengikutinya.
Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja Transportasi Indonesi (SPTI)Surabaya Moch Subekti mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan seluruh sopir angkot untuk tetap beroperasi. Karena mereka  tidak mau merugikan masyarakat.  Akan tetapi, Subekti sudah menginstruksikan seluruh sopir di Surabaya yang di bawah naungan SPTI, Kamis (20/11) akan melakukan aksi mogok massal.  ” Kamis (hari ini) para sopir melakukan aksi mogok sebelum tuntutan kita dipenuhi, tapi kita tetap membolehkan para sopir yang ingin tetap narik (operasi). Dan rencana hanya angkutan kota saja yang mogok,” papar Subekti.
Sementara itu sebagian sopir angkutan umum baik bus kota maupun bemo yang berada di Terminal Joyoboyo, Rabu (19/11) melakukan aksi mogok operasional. Aksi mogok ini sebagai bentuk kekecewaan para sopir angkot terhadap keputusan pemerintahan Jokowi-JK pasca kenaikan harga BBM subsidi. Namun, juga tidak sedikit sebagaian sopir angkot yang masih beroperasi.
Kepala Dinas Perhubungan Surabaya, Eddy mengatakan, mogok yang dilakukan sopir angkot pasca kenaikan harga bbm, dinilainya wajar. Sehingga dia ikut memaklumi jika ada sebagian sopir angkot melakukan mogok. Namun, ia berharap aksi mogok ini tidak sampai berkepanjangan, sehingga tak merugikan penumpang. “Saya tahu ini adalah rasa bentuk kekecewaan sopir angkot di sini pasca kenaikan harga BBM. Sebab sebelum BBM naik saja sepi penumpang, apalagi sekarang. Makanya itu, saat ini kita cari cara bagaimana agar para sopir ini bisa kembali bekerja seperti dulu lagi, dan banyak penumpang,” katanya saat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) di Terminal Joyoboyo.
Sementara itu, salah satu sopir angkot di Terminal Joyoboyo, Ari, mengakui jika dirinya dan rekan-rekannya mogok akibat kenaikan harga BBM. Sebab dia kecewa dengan keputusan Presiden Jokowi yang menaikan harga BBM, tanpa memikirkan bagaimana nasib rakyat kecil.
“Memang sebagian dari kami ada yang mogok. Tapi juga ada yang masih jalan. Karena, di Joyoboyo belum ada koordinasi yang jelas. Makanya, sebagian dari kami ada yang mogok dan ada juga yang tetap narik,” ujarnya.
Ari menuturkan, memang jika sebelum kenaikan harga BBM saja jumlah penumpang sudah sepi, kini ditambah naiknya harga BBM justru akan semakin membebani pendapatan para sopir angkot karena banyak yang beralih menggunakan motor. Ia menambahkan, memang secara resmi pemerintah belum mengeluarkan tarif angkot pasca naiknya harga BBM. Namun, seluruh sopir angkot di Joyoboyo sepakat menaikkan tarif sendiri-sendiri.
“Kalau menunggu keputusan pemerintah terlalu lama. Makanya, sambil menunggu, kami di sini sudah sepakat untuk naikkan sendiri tarif angkutan umum. Dari Rp 4.000 menjadi Rp 4.500-Rp 5.000,” pungkasnya.
Sementara  salah satu anggota DPRD Surabaya menyebut aksi mogok organda secara nasional yang dilakukan dianggap sebagai sikap yang tidak realistis dan kekanak-kanakkan.Budi Leksono, anggota Fraksi PDIP menyebut aksi mogok Organda  tidak mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan, utamanya terhadap buruh. “Untuk apa Organda harus memberikan keputusan  seperti itu, jika persoalannya hanya soal tambahan tarif, hal itu bisa dinego dengan pengusaha terkait, sambil menunggu kebijakan pemerintah secara resmi,” ucap politisi asal PDIP yang berlatar belakang pengusaha pengurusan jasa kepabeanan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya ini. [geh,gat]

Rate this article!
Tags: