Monumen Pesawat MIG 17 Percantik Taman Sultan Agung Batu

Proses perakitan pesawat MIG-17 di Taman Jalan Sultan Agung Kota Batu.

Proses perakitan pesawat MIG-17 di Taman Jalan Sultan Agung Kota Batu.

Kota Batu, bhirawa
Taman Sultan Agung dan Hutan Kota Batu bakal semakin cantik, karena tidak lama lai akan dibangun monumen Pesawat MIG – 17 yang sudah tidak dipakai lagi oleh jajaran TNI – AD sejak 1970. Dulu monument ini ada di Waduk Selorejo, namun karena tidak terawat di pindahkan ke Kota Batu,
Prosesi pemindahan dilakukan pada Senin (8/12) dinihari sekitar pukul 04.00 wib. Dinginnya suasana malam dan hujan yang terus turun tidak menghalangi boyongan pesawat MIG-17 dari kolam Taman Rekreasi Selorejo, Kecamatan Ngantang ke Taman Jl Sultan Agung, Kota Batu. Proses pengangkutan tetap dilakukan karena diharapkan sudah selesai dipasang sebelum perayaan tahun baru mendatang.
Suasana lengang jalanan dari Ngantang menuju ke Kota Batu, saat dini hari sedikit memudahkan proses pengangkutan pesawat.  Tepat  pukul 04.00, bodi pesawat ini sudah tiba di Jl Sultan Agung setelah melalui perjalanan 4 jam.
Proses pemindahan molor 2 hari dari jadwal semula karena untuk melepas sayap sebelah kiri mengalami kesulitan. Teknisi butuh waktu 2 hari untuk melepas baut. Berbagai peralatan dan cairan dipakai, namun tak juga mau lepas.  Demikian juga saat body pesawat akan diangkat dari landasan, ternyata tanpa disangka-sangka ada ular ‘Weling’ yang melilit landasan tersebut.
“Alhamdulillah proses pengangkutan berhasil, selanjutnya akan kita rakit ulang disini (Taman Sultan Agung-red) sambil menunggu selesainya pembangunan pondasi,” ungkap Ka Bengkel Afionik Skatek (Skadron Teknik) 022 Lanud Abd Saleh, Kapten Riza Rakhmad, Selasa (9/12).
Ditempat ini sayap, cockpit serta beberapa bagian pesawat yang dilepas akan dirakit kembali. Selain itu pihaknya juga akan melakukan perawatan terhadap besi pesawat yang keropos karena karatan.
MIG-17 adalah pesawat tempur  yang juga akrab disebut Fresco ini mulai digunakan untuk peperangan tahun 1952.  TNI AU mengoperasikan pesawat ini sejak tahun 1961. Salah satunya dipergunakan untuk persiapan operasi Trikora pada tahun 1962 di Papua. Pesawat ini juga pernah dipergunakan untuk tim aerobatic TNI AU dan mulai tidak dipakai lagi pada tahun 1970.
Pesawat ini akan dijadikan monument pesawat yang diletakkan tepat disamping hutan kota, Jl Sultan Agung atau berada tepat di jalan masuk menuju Stadion Gelora Brantas. “Pesawat ini akan menghadap ke Timur, lebarnya kurang lebih 11 meter, panjang 13 meter,” ujar Riza. Ia menjelaskan karena lokasi tepat berada di bawah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), maka tinggi monument ini maksimal hanya 5 meter. Tujuannya agar tidak menganggu SUTET dan membahayakan pengguna jalan.
Pemindahan monument pesawat ini dilakukan, karena kondisi monument di Bendungan Selorejo tidak terawat, ia berharap dengan dipindahkan ke tempat ini kondisi pesawat yang pernah dipergunakan untuk mempertahankan NKRI ini lebih terawat lagi.
Pembangunan Monumen Pesawat ini dilakukan untuk mendukung adanya hutan kota. “Kita harap monument pesawat ini bisa menambah daya tarik hutan kota. Wali Kota mempunyai konsep hutan kota akan dijadikan Alun-Alun kedua. Keberadaan monument pesawat ini tentunya menyatukan taman jalan kembar Sultan Agung dengan Hutan Kota yang berada di depan Stadion Gelora Brantas,” ujar Koordinator pembangunan monumen, Fafan Firmansyah.
Selain itu, keberadaan monument pesawat ini juga akan menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Karena itu didepan monumen ini akan dipasang prasasti sejarah mengenai pesawat tersebut.
“Pesawat ini sekaligus akan semakin mendekatkan masyarakat Kota Batu dengan TNI, khususnya TNI AU,” katanya.
Untuk pembangunan monument pesawat ini, Pemkot Batu melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) mengalokasikan anggaran sebesar Rp 200 juta. [sup]

Tags: