MUI Sidoarjo Tolak Pendirian Monumen Jayandaru

5-HL-1Sidoarjo, Bhirawa
Pendirian Monumen Jayandaru terdiri atas sembilan patung yang menggambarkan kehidupan agraris warga Sidoarjo mendapatkan penolakan dari berbagai kalangan organisasi Islam. Diantaranya MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kab Sidoarjo.
Ornament setinggi 25 meter itu merupakan bantuan perusahaan PT Sekar Laut dari program CSR (Coorporate Social Responsibilty), dan telah dibangun pertengahan 2014 hingga selesai. Ornament yang  berisi sembilan patung, yakni patung petani, patung nelayan, patung udang dan bandeng serta ornament hasil produksi, yaitu krupuk udang.
Menurut Ketua MUI Sidoarjo, KH Usman Bahri, Kamis (29/1) kemarin dengan tegas mengatakan kalau patung-patung itu tak selayaknya dibangun di Alun-alun Kota Sidoarjo. Mungkin kalau ada patung-patung peninggalan kerajaan tak ada masalah. ”Tetapi kalau dipasang dengan patung yang baru ya jangan, apalagi pemasangannya di pusat kota atau di alun-alun,” tegas Usman Bahri.
Perlu diketahui pula, sekitar alun-alun pemerintah sudah juga menghiasi dengan ornament tulisan kaligrafi asmaul husna. Jadi tak sepantasnya, dipasang lagi patung-patung yang begitu besar-besar, juga tak seirama dengan nama-nama Tuhan. ”Saya berharap, bagaimana caranya pemerintah menyisihkan patung-patung itu, agar tak dipasang di alun-alun. Karena beberapa Ormas Islam juga menolak atas pendirian Monumen Jayandaru itu,” pungkas Usmas Bahri.
Hal yang sama juga ditegaskan Ketua Banser Sidoarjo, Slamet Budiono juga meminta kepada DKP untuk menurunkan patung-patung itu. Jika tidak, pihaknya bersama jajaran PC NU Sidoarjo, mulai pengurus hingga anggota akan menurunkan sendiri patung-patung itu. ”Patung-patung itu tak sesuai dengan ajaran Agama Islam, yang sebagian besar dianut oleh warga Sidoarjo,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Bahrul Amig, mengatakan, sangat menghargai pendapat atau masukkan, sudut pandang dari warga Sidoarjo. Karena yang jelas, tak ada niat secuilpun dari pihaknya untuk menjadikan patung-patung itu sebagai objek berbau mistis maupaun tempat sesembahan.
”Kami melihat keberadaan patung ini mencerminkan kondisi masyarakat Sidoarjo sesungguhnya. Ada patung petani, nelayan, dan beberapa patung lain yang menggambarkan tradisi masyarakat Sidoarjo. Dan ini murni untuk menjadikan kawasan alun-alun semakin cantik,” tuturnya.
Di sisi lain, kami sangat menghargai perusahaan yang telah sudi memberikan apresiasi terhadap pemerintah, melalui program CSRnya. Jadi monument itu merupakan wujud partisipasi perusahaan yang ingin mempercantik Kab Sidoarjo. Semua maket maupun biaya pembuatan Monumen Jayandaru dari perusahaan itu. Tak ada biaya sedikitpun dari pemerintah. ”Oleh karena itu, dengan banyaknya masukkan ini, kami akan membuka ruang diskusi kepada pihak-pihak yang menolak untuk dicarikan jalan keluarnya,” pungkas Bahrul Amig.
Sementara itu, bertempat di Alun-alun Sidoarjo, pemasangan patung gotong royong di Alun-alun Sidoarjo mendapat reaksi negatif dari massa Ormas yang akan melakukan unjukrasa di kantor DPRD. Polres Sidoarjo, Kamis (29/1) sudah menyiapkan water canon di tepi jalan untuk mencegah kemungkinan terburuk. Namun ditunggu sejak siang hingga sore, massa tidak muncul.
Informasi yang diterima wartawan, massa Ormas itu akan bertindak sendiri menurunkan tujuh patung yang berharga miliaran rupiah itu. Namun sore hari sekitar jam 15.00 yang demo di dewan ternyata warga Bluru (pedagang) yang mempermasalahkan pembongkaran pasar di Perumahan Bluru Permai. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Bahrul Amig, membenarkan patung yang dipesan dari pemahat Bali itu sudah dipasang. Patung itu akan menjadi latar depan alun-alun yang tampilannya bisa dipandang dari empat penjuru mulai di  persimpangan Jl Jend A Yani-Trunojoyo, Sidoarjo. [ach.hds]

Keterangan Foto : Kondisi pembangunan Monumen Jayandaru yang masih berjalan.[achmad suprayogi/bhirawa]

Tags: