Mulai Disuntik Vaksin Harapkan PMK Sapi Kota Batu Segera Teratasi

Dengan mulai dilaksanakannya vaksinasi terhadap ternak sapi diharapkan bisa segera mengatasi wabah PMK yang sangat meresahkan Peternak Kota Batu.

Kota Batu, Bhirawa
Pemerintah Kota Batu mulai melakukan vaksin terhadap sapi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang ada di kota ini. Hal ini dilakukan setelah Kota Batu mendapatkan kiriman 12 ribu vaksin dari Pemerintah Pusat. Diharapkan mulai diaktifkannya giat vaksinasi sapi ini mampu segera menangani wabah PMK yang cukup membuat para peternak menjadi cemas.

“Semoga dengan vaksinasi yang telah dilakukan sejak Sabtu (25/6) kemarin bisa segera menangani masalah PMK di Kota Batu,” ujar Hj Dewanti Rumpoko, Wali Kota Batu, Senin (27/6).

Namun demikian, Wali kota menjelaskan bahwa jumlah vaksin yang telah dikirimkan ke Kota Batu masih belum mencukupi dengan jumlah yang dibutuhkan. Dewanti mengatakan bahwa kotanya membutuhkan sebanyak 30 ribu vaksin.

“Vaksin yang sudah datang dan sedang divaksinasikan sebanyak 12 ribu vaksin, jadi masih separuh dari yang dibutuhkan,” jelas Dewanti.

Diketahui, saat ini dari populasi sekitar 5 ribu ekor sapi milik peternak di 24 desa/kelurahan, sebanyak 3 ribu ekor di antaranya telah terpapar PMK. Bahkan, untuk angka kematian sapi sudah mencapai sekitat 400 ekor.

Kasus PMK Kota Batu terbanyak terjadi di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu. Dusun ini merupakan salah satu kawasan pusat peternak sapi terbesar, dan hampir keseluruhan sapinya terpapar PMK. Dan dari total sekitar 1.500 ekor sapi yang terpapar PMK sebanyak 160 ekor lebih telah mati.

Kepala Dusun Toyomerto, Yatemo membenarkan hal tersebut. Dan untuk menghindari kerugian lebih besar lagi, beberapa sapi yang ada terpaksa dijual.

“Semua ternak milik warga sebanyak 1.500 ekor sapi, terpapar PMK. Bahkan, untuk menghindari kerugian yang lebih besar sampai ada yang di jual murah yakni Rp 2 juta hingga 3 juta per ekor,” ujar Yatemo.

Ia mengakui bahwa kematian sapi akibat PMK cujup meresahkan peternak. Apalagi di Toyomerto junlah populasi sapi lebih besar dari lada jumlah penduduknya.

“Seperti sapi punya saya yang mati sampai empat ekor. Kemudian dua ekor yang lain terpaksa saya jual murah. Hal yang serupa juga terjadi pada peternak lain,” tandas Yaterno.(nas.gat)

Tags: