Mulai Lakukan Penyelidikan, Polisi Amankan Aset Telecenter

Nganjuk, Bhirawa
Tidak ingin kecolongan, Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Polres Nganjuk langsung bergerak cepat dengan mengamankan sejumlah aset telecenter. Dari lokasi telecenter di Kantor Kelurahan Warujayeng, polisi hanya mengamankan 7 unit komputer yang sudah tidak utuh lagi.
“Ya, kami memang melakukan penyelidikan terkait raibnya aset telecenter,” papar Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP Deddy Iskandar saat dihubungi Bhirawa, Kamis (20/2).
Namun kondisi komputer yang kini telah diamankan tersebut tidak lagi utuh. Di antara komputer yang diamankan tidak ada lagi monitornya. Bahkan yang lebih parah lagi, ada beberapa dari komputer hanya tampak chasing-nya saja sementara komponen komputernya tidak ada lagi.
Sementara aset telecenter seperti printer, kamera digital, LCD proyektor¬† hingga saat ini masih dalam pencarian. Namun Deddy Iskandar mengaku pihaknya masih belum terlalu mendalami kasus lenyapnya aset telecenter. “Saat ini kami belum dapat memberikan keterangan secara rinci, karena kasusnya sendiri masih dalam penyelidikan. Namun untuk penanganan awal, kami baru mengamankan aset yang tersisa dari telecenter,” ungkap Deddy Iskandar.
Bahkan terkait dengan dugaan raibnya tiga unit mobil telecenter bantuan dari Kementerian Informasi dan Informatika, pihak kepolisian juga masih melacak keberadaanya. Karena di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemkab Nganjuk sendiri data terkait aset telecenter juga tidak tercatat, termasuk 3 unit mobil internet keliling.¬† “Dalam waktu dekat kami akan memanggil sejumlah pihak yang bertanggungjawab dan mengetahui aset telecenter,” tegas Deddy Iskandar.
Seperti diberitakan sebelumnya, hilangnya sejumlah aset telecenter yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Pemkab Nganjuk menjadi bahan sorotan kalangan anti korupsi di daerah setempat. Tidak hanya peralatan komputer yang raib, namun 3 unit mobil internet keliling bantuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika juga tidak jelas keberadaannya.
Penggiat anti korupsi, Yudha Harnanto SH dari LSM Jawa Dwipa menyebutkan sejak didirikan telecenter pada 2010 di Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjung Anom, Pemprov Jawa Timur telah menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk menyediakan sarana dan prasarana. Bahkan telecenter yang diberi nama Tanjung Anom Jaya mendapat hibah peralatan berupa komputer 10 unit, printer, kamera digital, LCD proyektor, meja, kursi, lemari serta perangkat jaringan program aplikasi operating system.
Sementara Pemkab Nganjuk hanya menyediakan ruang layanan internet, ruang pelatihan atau pertemuan, ruang kantor/tamu, papan nama dan biaya bulanan koneksi internet. Tetapi setelah berjalan selama tiga tahun, telecenter yang menggunakan salah satu ruang di Kelurahan Warujayeng itu kini tak berbekas. Ironisnya, laporan keuangan serta laporan aset dari telecenter tidak pernah ada. Padahal, dikatakan Yudha Harnanto, fungsi telecenter tersebut sangatlah strategis karena sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang melalui peningkatan kemampuan memperoleh dan menyebarkan informasi berbasis teknologi informasi komunikasi. Selain itu telecenter juga mampu menghasilkan pendapatan karena memiliki kegiatan layanan komersial berupa layanan pemanfaatan komputer untuk pengetikan, copy file. Kemudian layanan cetak dokumen, layanan akses internet, layanan scanning dokumen serta melakukan pelatihan komputer dan akses internet.  [ris]

Tags: