Musim Penghujan, Awas Serangan Demam Berdarah Dengue

Pasien DBD anak-anak tengah dirawat di Paviliun Seruni, RSUD Jombang, Selasa (21/01/2020).

(Sejumlah daerah Lakukan antisipasi)
Surabaya, Bhirawa
Musim penghujan yang mulai rapat membuat sejumlah daerah melakukan antisipasi untuk pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue(DBD). Memang penyakit DBD yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus angkanya selalu naik selama musim penghujan.
Pemkot Surabaya melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan berbagai kegiatan mengantisipasi pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Upaya tersebut, mempedomani Peraturan Menteri Kesehatan 1501/MENKES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, Febria Rachmanita mengatakan, untuk mengantisipasi datangnya DBD, pihaknya sudah menyiapkan berbagai upaya. Mulai dari penerbitan surat edaran walikota tentang kewaspadaan DBD, Sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat, sampai peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan programnya yaitu “Gerakan 1 rumah 1 jumantik”.
“Kami melakukan pendampingan dan monitoring Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik oleh 22.995 orang kader jumantik di bawah koordinasi puskesmas, camat dan lurah,” kata Feny sapaan akrab Febria Rachmanita, Selasa (21/1).
Ia menjelaskan, tugas para jumantik ini menjadi mitra puskesmas dalam mencegah dan menurunkan angka penyakit DBD. Selain itu, kader ini juga bertugas untuk memantau kondisi lingkungan sekitar dari penyebaran penyakit melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin setiap hari Jumat.
“PSN itu terdiri dari pemantauan tempat perkembangbiakan, cara pemberantasan, mengetahui siklus nyamuk, memahami Angka Bebas Jentik (ABJ) dan mengetahui penggunaan larvasida (bubuk pembunuh jentik),” jelasnya.
Tidak hanya itu, Diknes bersama kader lingkungan juga menerapkan sistem “3M PLUS”. Yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang. Sedangkan PLUSnya, yang berarti memiliki 11 poin. Pertama, mengganti air vas bunga, memperbaiki saluran dan talang yang tidak lancar. Ketiga, menutup lubang-lubang pada potongan pohon, menaburkan bubuk pembunuh jentik, memelihara ikan pemakan jentik di kolam.
“Lalu memasang kawat kasa di jendela, mengatur barang secara rapi dalam ruangan, memakai obat yang mencegah gigitan nyamuk, penanaman bunga pengusir nyamuk dan membersihkan lingkungan,” paparnya.
Sementara di Jombang dilaporkan penyakit DBD mulai menggejala terutama pada anak-anak. Delapan pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang, Selasa (21/1).
Kedelapan pasien ini terdiri satu pasien dewasa dan tujuh pasien anak-anak. Direktur RSUD Jombang, Pudji Umbaran mengatakan, pada awal musim penghujan, kunjungan pasien DBD di RSUD Jombang relatif ada peningkatan meskipun jumlahnya tidak terjadi lonjakan yang signifikan.
“Dari rata-rata pasien yang kita rawat di bulan-bulan sebelumnya, kurang lebih satu dua tiga pasien. Sekarang ini kita rawat lebih dari itu, hari ini kita merawat ada delapan pasien DBD, satu orang pasien dewasa, yang alhamdulillah sudah membaik, Insya Alloh siang ini boleh pulang. Kemudian tujuh orang pasien anak-anak,” papar Pudji Umbaran.
Pudji Umbaran menerangkan, di antara tujuh pasien anak-anak ini, satu di antaranya dirawat di Ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit), tiga dirawat di ruang biasa, kemudian tiga pasien lagi dirawat di Ruang HCU (High Care Unit) karena butuh pengawasan ketat.
Pudji Umbaran menambahkan, karena pada musim penghujan ini banyak genangan-genangan air yang mungkin terlupakan oleh masyarakat untuk tidak dibersihkan, seperti botol-botol bekas, gelas-gelas yang terisi air hujan, ataupun pelepah-pelepah pisang dan sebagainya, yang kemudian benda-benda tersebut akhirnya menjadi sarang nyamuk dan karena ada kasus DBD disekitarnya, sehingga masyarakat akan tertular.
“Harapan kita, masyarakat menyadari ini supaya rantai penularan bisa kita putus, tetap melalui 3M Plus, Menutup, Menguras, Mengubur, serta Plusnya adalah bisa mengunakan ikan pemakan jentik ataupun mengoles anak-anak yang bepergian sekolah, ataupun ngaji, ataupun bemain dengan anti nyamuk,” paparnya lagi.
Bagi pasien DBD di RSUD Jombang lanjut Pudji Umbaran memang bisa datang sendiri ataupun atas rujukan dari Faskes pertama, baik dari dokter praktek mandiri maupun dari Puskesmas.
“Dan alhamdulillah atas kesigapan teman-teman di lapangan sehingga rujukan relatif aman. Sehingga kami bisa merawat lebih baik lagi,” tandas Pudji Umbaran.
Meski begitu, Pudji Umbaran menyampaikan, satu orang pasien DBD yang dirawat di Ruang PICU, kondisinya memang agak berat, namun tetap masih dilayani oleh RSUD Jonbang dengan baik.
Sedangkan di kabupaten Trenggalek Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkesdalduk KB) Trenggalek, Saeroni, berharap agar masyarakat lebih waspada serta menjaga kebersihan lingkungan.
“Salah satu upaya mengurangi persebaran penyakit DBD yaitu dengan menjaga kebersihan lingkungan. Melalui PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan 3 M (menguras, menutup dan mengubur) Plus,” pintanya, Selasa (21/1).
Ia menjelaskan maksud plus adalah dengan menaburkan bubuk larvasida hingga ikanisasi. Upaya pencegahan itu minimal dilakukan minimal seminggu dua kali untuk mencegah nyamuk berkembang biak. “Kemudian dalam tataran tertentu kita lakukan fogging setelah kita melakukan kajian di lapangan. Jadi tidak serta merta langsung di fogging, ada tahapannya,” kata Saeroni.
Kasus DBD di Trenggalek cukup menyita perhatian publik. Tahun 2018 terdapat 272 kasus dengan korban jiwa mencapai 3 orang. Sementara pada tahun 2019, kasus DBD naik drastis menjadi 507 dengan total korban jiwa mencapai 5 orang. Beberapa daerah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). “Kalau Trenggalek tidak (KLB), hanya peningkatan kasus,” jelasnya.
Untuk menanggulangi kejadian serupa, pihaknya telah merumuskan sejumlah terobosan. Diantaranya adalah adanya gerakan Kader Pemantau Jentik (Jumantik) minimal satu orang dalam lingkup sebuah keluarga. Mereka akan dibekali tentang penanggulangan penyakit DBD. “Sekitar tahun 2016 ada jumantik, sekarang ini sudah menyebar ke seluruh desa,” pungkasnya. (iib.rif.Wek).

Tags: