Musim Tak Menentu, Produksi Tembakau Turun 25 Persen

Petani saat menjemur tembakau.

Petani saat menjemur tembakau.

Pemprov, Bhirawa
Produksi tembakau di Jatim saat ini menurun dibandingkan tahun lalu, sesuai dengan perkiraan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia yang memprediksi terjadi penurunan produksi tahun 2014 mencapai 20-25 persen.
Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Samsul Arifien MMA mengatakan, kondisi cuaca yang tidak menentu pada tahun ini membawa dampak besar bagi produksi tembakau. Sejumlah wilayah di Jatim diperkirakan mengalami gagal panen akibat tidak menentunya cuaca sepanjang tahun 2014.
Sedangkan mengenai harga dan kebutuhan saat ini, lanjut Samsul, harga masih dalam kondisi baik dan kebutuhan untuk pabrik rokok naik. Untuk produksi rokok saja, dari 330 miliar batang pada tahun lalu, pada tahun ini mencapai 350 miliar batang.  “Kalau cukai mengalami kenaikan dari Rp 108 triliun menjadi RP 120 triliun,” katanya.
Untuk harga tembakau di Jatim masih sangat bervariasi, tembakau madura antara Rp 30-35 ribu, tembakau kasturi Rp 40 ribu, tembakau virginia omprong Rp20-23 ribu dan rajangan Rp 12-15 ribu, tembakau paiton Rp 33-37 ribu, tembakau Na oost Rp 60-70 ribu dan degblaad 50-60 ribu oomblaad.
“Harga mengejutkan tembakau jawa mencapai Rp 80-100 ribu. Kondisi ini karena ada penurunan areal di temanggung Jateng. Banyak pedagang ke Magetan. Sebab, tembakau itu masih tetap dibutuhkan untuk campuran rokok kretek,” katanya.
Sebelumnya Ketua APTRI, Hafiz mengatakan, pihaknya juga mengurangi luas tanam tembakau dari 6 hektar tahun lalu, tahun ini berkurang menjadi 1,5 hektar.Rata-rata produksi tembakau di Jatim pertahunnya mencapai 170.000-180.000 ton. Sementara tahun lalu produksi tembakau mencapai 180.000 ton, dan tahun ini diperkirakan menurun hingga 20-25 persen.
Menurutnya, menanam tembakau harus mengikuti “pranoto mongso”. Jika cuaca tidak memungkinkan untuk menanan tembakau, petani harus beralih menanam komoditas lain. Tanam tembakau terpaksa dikurangi agar petani bisa maksimal tanamaman tembakau hingga panen.
“Persoalannya, pada saat musim tanam, cuacau tidak menentu. Dan ini yang membutuhkan pengendalian ekstra pada musim tanam. Situasi ini berbeda dengan musim panen saat ini, musim sangat baik,” paparnya. [rac]

Tags: