Naikkan Nilai Jual, UMKM Harus Terapkan Teknologi

Para narasumber saat memberikan pemaparan terkait penggunakaan teknologi untuk meningkatkan daya saing UMKM, saat Rakor Pengembangan Teknologi Berbasis Potensi Lokal Jatim, kemarin.

Para narasumber saat memberikan pemaparan terkait penggunakaan teknologi untuk meningkatkan daya saing UMKM, saat Rakor Pengembangan Teknologi Berbasis Potensi Lokal Jatim, kemarin.

Pemprov Jatim, Bhirawa
Sentuhan teknologi menjadi satu hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing, terutama produk-produk yang dihasilkan usaha mikro kecil  dan menengah (UMKM). Teknologi yang tepat akan semakin meningkatkan nilai jual yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian Setdaprov Jatim I Made Sukarta mengatakan, peran teknologi akan terus dikembangkan pada UMKM. “Komoditas yang kita miliki saat ini cukup bisa bersaing di perdagangan dalam maupun luar negeri. Dengan sentuhan teknologi yang tepat, kita optimis barang milik Jatim akan laku keras di luar,” kata Made, saat Rapat Koordinasi Pengembangan Teknologi Berbasis Potensi Lokal Jatim, Kamis (20/11).
Potensi komoditas Jatim, lanjutnya, sangat beragam dan memiliki nilai jual yang tinggi. “Kita memang lemah di sektor kemasan atau packaging. Sesuai dengan keinginan Pak Gubernur harus ada sentuhan teknologi agar kemasan ini bisa lebih bagus lagi,” jelasnya.
Made menambahkan, pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam produk UMKM merupakan factor yang sangat penting. Mulai dari ide, pengembangan produksi, distribusi hingga pasar membutuhkan sentuhan teknologi. “Ini akan menentukan nilai tambah dan daya saing produk di pasaran,” katanya.
Made mencontohkan, sentuhan teknologi untuk produk holtikultura yang tidak bisa diawetkan, seperti buah-buahan jika produksi melimpah, harus ada inovasi untuk membuat ekstrak dari buah tersebut. “Namun yang lebih penting lagi adalah proses kemasan yang dibuat semenarik mungkin agar bisa memiliki nilai tambah yang pada akhirnya nanti bisa meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM,” jelasnya.
Selain contoh itu, ada lagi produk UMKM di Sumenep. Karena produk Jagung melimpah, mereka berinistatif untuk membuat mie dari jagung. “Ini kan ada kemajuan secara teknologi, dan yang harus didorong saat ini adalah pengemasannya agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Menurut dia, peranan UMKM menjadi salah satu factor pendorong utama memajukan sector perekonomian Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada peran UMKM yang banyak membantu meningkatkan tarap kesejahteraan pelakunya, mengurangi pengangguran hingga menekan angka kemiskinan.
“UMKM telah membuktikan kiprah dan kemampuannya untuk bertahan ketika industry besar terpuruk saat krisis ekonomi. Namun demikian tidak berarti pekerjaan kita telah selesai dan membiarkan UMKM untuk berkembang sendiri,” jelasnya.
Pekerjaan besar pemprov, lanjutnya, adalah memperkuat daya saing produk akibat persaingan global semakin terbuka. Berdasarkan data world economic forum pada 2013, rangking daya saing Indonesia berapa pada posisi kelima di kawasan negara ASEAN dan Asia Selatan.
Sedangkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura diposisi kedua, Malaysia posisi 24 Brunai Darussalam 26, dan Thailand posisi 37. “Peringat daya saing Indonesia mengalami kemajuan dari tahun ketahun meski masih kalah dengan Singapura,” tandasnya. [iib]

Tags: