Nasihat Tua yang Tetap Relevan

Judul : Kitab Nasihat
Penerbit : Zaman Cetakan I, 2018
ISBN : 978-602-6273-08-6
Tebal : 363 halaman
Penerjemah : Muhammad Al-Faiz
Peresensi : Rosy Nursita Anggraini.
Sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Fakultas Ilmu Administrasi
dengan Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik, Universitas
Brawijaya Malang.
“Ulama adalah pewaris para Nabi.” Ungkapan padat namun berisi. Ulama merupakan orang yang memiliki banyak ilmu. Tingkat ke shahihan ilmu mereka tidak diragukan lagi. Karena sanad ke ilmuan mereka sampai pada Nabi Muhammad S.A.W. Lewat para guru mereka yang dulunya juga menuntut ilmu pada para ulama yang juga punya sanad ke ilmuan sampai pada Nabi Muhammad S.A.W. Dalam buku ini memuat beberapa ulama yang cukup terkenal dengan petuah-petuahnya yang tetap relevan hingga saat ini.
Hujjatul Islam wal muslim, gelar ulama termasyhur yang cukup di kenal masyarakat luas beliau adalah Imam al-Ghazali. Beliau masih keturunan Nabi Muhammad S.A.W. Salah satu petuah beliau yang cukup relevan hingga saat ini adalah adalah tentang ghibah. Contohnya ghibah yang diharamkan oleh Islam, tidak hanya sebatas lisan, sebagaimana yang telah kita ketahui. Akan tetapi, menurut al-Ghazali, ada kalanya ghibah itu dengan kata-kata, sindiran, perbuatan, isyarat, kepercayaan, kedipan, cibiran, tulisan, gerakan, dan segala sesuatu yang dipahami maksudnya (hlm 13). Dari situ kita dapat mengartikan bahwa ghibah dapat pula di lakukan lewat media sosial. Petuah beliau inilah yang patut kita gunakan untuk membentengi diri dari perbuatan ghibah baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Masih seputar media sosial dan dunia maya. Banyak sekali yang dapat kita lakukan di dunia maya terlebih di media sosial yang biasa di gunakan untuk melakukan obrolan mapupun mempopulerkan karya, misal tulisan. Ketika terlalu asyik menulis terkadang turut menyinggung orang lain, entah disadari maupun tidak. Dan hal ini menjadi sorotan para netizen kala berselancar di dunia maya. Padahal di masa hidup al-Hasan al-Bashri, intropeksi diri merupakan topik besar yang dikitari oleh banyak petuah al-Hasan. Beliau menasihati anak Adam untuk mengoreksi aib-aib dirinya, niscaya dalam hal itu ia akan memiliki suatu pekerjaan yang membuatnya tak punya waktu untuk memperhatikan aib-aib orang lain atau menggunjing mereka (hlm 152).
Syekh Abdul Qodir al-Jailani, yang bergelar sulthonul auliya’, semasa hidupnya telah memberikan petuah tentang ketertipuan dengan ketaatan. Petuah ini masih relevan hingga saat ini. Melihat zaman dengan segala fasilitasnya hingga dapat membuat masyarakat bergantung padanya dan terlena oleh kemewahan yang di suguhkan hingga lalai kepada Allah dan Rosul-Nya. Misalnya untuk menutup aurat, telah tersedia berbagai macam gaun seperti gamis yang mewah hingga melupakan akan hakikat fungsi dan pemberi gamis tersebut. Karena sesungguhnya, siapa yang mengenal Allah, tidaklah bergantung kepada sesuatu, tidak tertipu oleh sesuatu, tidak merasa aman hingga keluar dari dunia dalam keadaan selamat agamanya, serta menjaga hubungannya dengan Allah (hlm 119).
Kadang untuk berkabar ke teman-teman di kontak akun media sosial, kita cukup mengunggah foto tentang apa yang sedang kita lakukan sekarang. Termasuk sedang membaca Al-Qur’an maupun berbuat baik lainnya. Bahkan hal tersebut dapat membuat bangga pada hati kita masing-masing. Padahal, Ibn Taimiyah mengatakan bahwa “Berbuat kebajikan, lalu bangga dan berbesar hati dengannya, itu memasukkannya ke neraka. Berbuat keburukan, lalu seantiasa takut dan bertobat darinya, itu memasukkannya ke surga” (hlm 330).
Petuah berikutnya ialah dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, yakni tentang kebahagiaan. Dari dulu hingga sekarang banyak orang membahas, mencari dan berusahan untuk menemukan kebahagiaan. Maka tak heran jika dalam kitab al-Wabil al-Shayyib, yang membahas tentang zikir dan do’a Ibnu Qayyim meletakkan persoalan ini di awal. Tujuannya tidak lain agar mendapat perhatian lebih dari pembaca. Sebab, kebahagiaan merupkan tujuan yang dicari oleh seorang muslim. Menurut Ibnu Qayyim, ada tiga rukun kebahagiaan: 1) mensyukuri nikmat, 2) bersabar atas cobaan, dan 3) menmohon ampun atas kesalahan (hlm 45).
Dan masih banyak nasihat-nasihat dari ulama terdahulu yang cukup relevan hingga saat ini. Nasihat-nasihat tersebut dapat di jadikan pegangan untuk menjalani kehidupan ini agar senantiasa terselamatkan dari hal-hal yang menyesatkan. Terlebih dengan keterbukaan informasi yang dapat membuat terlenanya hati manusia saat ini.
——– *** ———

Rate this article!
Tags: