NTP Jawa Timur, Year on Year Naik 2,26 Persen

Pemprov Jatim, Bhirawa
Salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah perdesaan adalah indikator Nilai Tukar Petani (NTP). Perkembangan NTP masing-masing subsektor bulan Januari 2020 terhadap bulan Januari 2019 (year-on-year), semua subsektor mengalami kenaikan NTP.
Jika dibandingkan dengan bulan Januari 2019, perkembangan NTP Bulan Januari 2020 (year-on-year) mengalami kenaikan sebesar 2,26 persen. Kenaikan NTP terbesar terjadi pada Subsektor Hortikultura sebesar 5,03 persen. Diikuti subsektor Tanaman Pangan sebesar 2,083 persen, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 2,082 persen, Subsektor Peternakan sebesar 1,44 persen, dan Subsektor Perikanan sebesar 0,73 persen.
Begitupula dengan NTP Jatim pada bulan Januari 2020 naik sebesar 0,65 persen dari 103,32 menjadi 103,98. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (It) mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib). “Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,37 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,72 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jatim, Dadang Hardiwan, Rabu (12/2) kemarin.
Dipaparkannya, jika dilihat perkembangan masing-masing subsektor pada Januari 2020, tiga subsektor pertanian mengalami kenaikan NTP, sedangkan sisanya mengalami penurunan. Subsektor yang mengalami kenaikan NTP terbesar terjadi pada Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 3,88 persen.
Diikuti Subsektor Hortikultura sebesar 3,02 persen, dan Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,31 persen . Sedangkan subsektor yang mengalami penurunan NTP adalah Subsektor Peternakan sebesar 0,67 persen. dan Subsektor Perikanan sebesar 0,53 persen.
Dikatakannya, ada sepuluh komoditas utama yang menyebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani bulan Januari 2020 adalah tebu, cabai rawit, kentang, cabai merah, cumi-cumi, ikan kembung, tembakau, ikan layang, teri, dan gabah.
Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang diterima petani adalah gurame tawar, bandeng payau, bawang merah, cengkeh, ayam ras pedaging, buncis, rajungan, ikan layur(beladang), jeruk, dan sapi perah.
Di sisi lain, dijelaskan pula, indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu golongan konsumsi rumah tangga dan golongan biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM). Golongan konsumsi rumah tangga dibagi menjadi kelompok makanan dan kelompok non makanan. Pada bulan Januari 2020, indeks harga yang dibayar petani naik sebesar 0,72 persen dibanding bulan Desember 2019.
Kenaikan indeks ini disebabkan karena indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen, dan indeks harga biaya produksi dan pembentukan barang modal (BPPBM) naik sebesar 0,49 persen.
Indeks harga konsumsi rumah tangga (inflasi perdesaan) bulan Januari 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen pada bulan Desember 2019. Dan Indeks harga biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) bulan Januari 2020 naik sebesar 0,49 persen.
Sepuluh komoditas utama yang mendorong kenaikan indeks harga yang dibayar petani adalah pelet, perahu tanpa motor, sewa tanah untuk tambak/kolam, benih udang payau, cabai rawit, cabai merah, tarif perbaikan, ongkos angkut, benih bandeng/nener payau, upah angkut ke TPI.
Sedangkan sepuluh komoditas utama yang menghambat kenaikan indeks harga yang dibayar petani bulan Januari 2020 adalah bakalan sapi, daging ayam ras, rumput segar, genset/dompeng, telur ayam ras, bekatul, garam, buncis, bensin, dan salak.
Dari lima provinsi di Pulau Jawa yang melakukan penghitungan NTP pada bulan bulan Januari 2020, dua provinsi mengalami kenaikan NTP sedangkan tiga provinsi mengalami penurunan. Kenaikan NTP terbesar terjadi di Provinsi Jawa Timur sebesar 0,65 persen.[rac]

Tags: