Nyala Perempuan di Masa-Masa Kritis

Judul : Khofidah Bukan Covid
Pengarang : Dian Dahlia
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tebal : 304 halaman
Cetakan : Pertama, Juli 2023
ISBN : 978-623-253-143-7
Peresensi : Thomas Utomo, Guru SD Negeri 1 Karangbanjar, Purbalingga

Khofidah Bukan Covid adalah novel remaja populer karya Dian Dahlia, seorang dokter umum di Malang. Draft karya ini didapuk sebagai Naskah Favorit Dewan Juri Kompetisi Menulis Indiva Kategori Novel Remaja.

Novel yang semula berjudul Daring ini, menuturkan fragmen kehidupan Khofidah alias Ida; siswa kelas VII SMP, keluarga, dan teman-temannya di masa pandemi Covid-19. Ida dan teman-temannya tidak boleh berangkat sekolah. Mereka hanya diizinkan mengikuti pembelajaran daring yang menyisakan tugas mandiri bertumpuk-thundung. Ayah Ida diberhentikan dari pekerjaan sebagai sekuriti di perusahaan swasta, sedangkan ibunya yang berdagang kecil-kecilan sempat merugi karena dagangannya tidak laku di masa awal pandemi. Teman-teman Ida dan keluarga, tak kurang mengalami persoalan.

Bagi pembaca usia remaja-terutama para gadis, persoalan yang dialami Ida, seperti cyber bullying, miskomunikasi dengan teman, suasana hati yang silih-berganti, dan pasang-surut hubungan perkawanan, akan sangat relevan. Tak kalah penting, novel teenlit islami ini juga memuat pesan halus berupa penyadaran” betapa vitalnya peran perempuan di masa-masa krisis. Seperti emaknya Ida yang menjadi penyambung napas keluarga dengan berdagang keripik pisang, mamanya Icha si pegiat UMKM, dan ibunya Rara: dokter di rumah sakit rujukan Covid-19. Mereka-seperti kebanyakan perempuan-menyala dan berdaya sesuai kemampuan masing-masing, guna memastikan roda kehidupan tetap berputar.

Patut dikutip rilis data dari New York Times, Maret 2020, bahwa lebih dari 50% pekerja di sektor-sektor penting yang harus tetap beroperasi selama pandemi adalah perempuan. Sudah tentu, ini tidak termasuk ruang ‘privat’ seperti rumah tangga. Namun demikian, tidak berarti perempuan hanya mengambil peran di masa darurat saja, ketika tidak ada pilihan lain. Perempuan, sejak dulu, telah mengambil peran penting di berbagai sektor esensial, sama seperti emak Ida, mama Icha, dan ibu Rara.

Lewat novel ini, dihadirkan kerumpilan thethek bengek pekerjaan perempuan, mulai mengatur keberesan isi rumah, memastikan ketersediaan pengisi perut keluarga, mencari selinapan peluang penambah isi dompet, dan seterusnya. Juga tentang contoh implementasi women supporting women seperti yang ditunjukkan mama Icha ke emak Ida. Lewat rangkaian cerita ini, kita (kembali) disadarkan: memahami persoalan perempuan, sesungguhnya juga berarti memahami problematika kehidupan. Dengan demikian, diharapkan, para lelaki ikut berkolaborasi-bukan sekadar membantu-menyelesaikan persoalan hidup yang menjadi hajat bersama.

Inilah salah satu sidik jari penanda alias ciri khas buku-buku terbitan Indiva Media Kreasi. Belakangan, isu-isu perempuan, makin kencang diberi ruang dalam buku-buku yang mereka keluarkan. Sebut contoh, My New Sister karya Nicco Machi, De Hoop Eiland karya Afifah Afra, Membeli Ibu karya Riawani Elyta, Bulan Nararya karya Sinta Yudisia, dan sebagainya.

Hal lain yang patut dipuji dari novel ini adalah penggunaan bahasa baku dan bahasa gaul yang berpadu luwes. Di cukup banyak tempat, kata serapan asing yang dipakai, malah sesuai pedoman transliterasi, seperti: salat, ikamat, ustaz, salihah, dan jemaah.

———– *** ————-

Rate this article!
Tags: