Nyepi, Tiadakan Tawur Agung Kesanga

Kota Batu, Bhirawa
Pada perayaan Hari Raya Nyepi, tahun ini umat Hindu Kota Batu tak menyelenggarakan Tawur Agung Kesanga. Hal ini sengaja dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 yang sedang terjadi di Indonesia dan dunia. Sedianya Tawur Agung Kesanga akan dilaksanakan hari Selasa (24/3) di lapangan Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
“Ditiadakan demi kebaikan kita bersama, kita beribadah di rumah masing-masing. Saya minta Umat Hindu tenang, tingkatkan ibadah, jaga kesehatan,”ujar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Batu, Pariyanto saat dikonfirmasi, Rabu (25/3).
Ia menjelaskan bahwa upacara Tawur Agung Kesanga merupakan satu rangkaian ibadah hari suci Nyepi yang seharusnya dilaksanakan pada haru Selasa (24/3). Biasanya dalam pelaksanaan ritual ini diakhiri dengan mengarak Ogoh-Ogoh. Dengan ditiadakannya upacara ini maka diganti dengan doa dan ibadah di rumah warga umat Hindu masing-masing.
Begitu juga Ibadah Nyepi yang biasanya dilaksanakan di Pura Indra Jaya, Dusun Junggo, Desa Tulungrejo juga ikut ditiadakan. Ibadah ini juga diganti dengan ibadah di rumah masing-masing.
Pariyanto mengatakan meskipun Kota Batu masih berstatus daerah hijau, namun penularan virus mematikan ini tetap harus diwaspadai.
“Umat Hindu diharapkan tetap khusyuk dalam melaksanakan Brata Penyepian, introspeksi diri untuk mencapai Hyang Widhi. Semoga Sang Hyang Widhi melindungi kita semua,” himbau Pariyanto.
Adapun Tawur Agung Kesanga merupakan upacara Bhuta Yadnya yang bermakna menetralisir (nyomia) butha supaya menjadi Butha Itha yang baik. Tawur Kesanga juga bermakna sebagai simbol pembersihan alam untuk mencapai keseimbangan Makro Kosmos.
Pada saat Nyepi ada empat pantangan yang dilakukan umat Hindu. Yakni, Amati Agni (tidak menyalakan api), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian) dan Amati Lelanguan (tidak menikmati hiburan).
Dalam peringatan Nyepi kali ini, tidak hanya Umat Hindu yang harus menelan pil pahit akibat serangan Covid-19. Umat Muslim di Desa Tulungrejo pun merasakan keprihatinan yang sama.
“Biasanya selepas Hari Raya Nyepi kita selalu melaksanakan tradisi anjangsana, keliling ke rumah Umat Hindu untuk mengucapkan selamat. Tetapi tahun ini terpaksa kita tiadakan demi kebaikan bersama,” ujar tokoh masyarakat Desa Tulungrejo, Arif Erwinadi. [nas]

Rate this article!
Tags: