Optimalisasi Pengelolaan Sampah

Oleh :
Ani Sri Rahayu
Dosen PPKn (Civic Hukum) Univ. Muhammadiyah Malang

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan gaya hidup masyarakat yang terus berkembang maka ada satu hal dampak yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan ini, salah satunya adalah menyebabkan meningkatnya jumlah dan jenis sampah. Dan, ironisnya peningkatan sampah inipun kerap kurang mendapat perhatian banyak pihak sehingga kerap menjadi persoalan di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Nah, melalui kolom rubrik opini di harian inilah penulis ingin mencoba mengulas jalan solusi tentang penanganan meningkatnya kapasitas sampah yang ada di negeri ini.

Potret persoalan sampah

Permasalahan sampah masih menjadi problem serius di banyak kota di Indonesia. Bahkan, persoalan sampah seolah menjadi persoalan yang akut dan sulit teruraikan. Terlebih, persoalan sampah ini sejatinya bisa menjadi cerminan kondisi suatu daerah. Bila sampah-sampah terlihat bertebaran, masyarakat di daerah tersebut secara tidak langsung juga dinilai tidak teratur. Oleh karena itu, masing-masing daerah idealnya bisa lebih fokus pada penanganan sampah.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2021, total sampah dari 235 kabupaten/kota di seluruh Indonesia mencapai 26,5 juta ton per tahun. Sampah yang bersumber dari rumah tangga mendominasi, yaitu sebesar 39,41 persen. Disusul oleh sektor perniagaan 23,09 persen dan pasar 13,32 persen. Sedangkan, untuk komposisi sampah berdasarkan jenisnya, yang pertama, organic sebesar 54,1 persen dan nonorganisk 38,65 persen, dan lainnya 7,25 persen, dan saat dikalkulasi secara nasional mencapai 9 juta ton per tahun.

Merujuk dari data tersebut, tentu kita semua pihak harus lebih cermat dan detail melihat sampah hingga ke sumbernya. Terlebih, kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memilah di sumber sampah, terutama tingkat rumah tangga. Wajar jika masyarakat terbiarkan tanpa edukasi pengelolaan sampah akhirnya menyebabkan timbulan sampah secara nasional mencapai 9 juta ton per tahun.

Kenyataan tersebut, tentu dibutuhkan komitmen yang tinggi dari pemerintah daerah (pemda) dalam pengelolaan sampah. Terlebih, dengan pengelolaan sampah yang tepat bakal mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Misalnya, sampah organik yang dapat diproses menjadi kompos, media tanaman, hingga tempat berkembangnya hewan-hewan, seperti belatung hingga ulat pakan ternak.

Sementara sampah non organik, terutama plastik dan kertas, dapat didaur ulang, hingga dijual untuk memperoleh pendapatan. Untuk itu, idealnya tiap daerah melalui pemda agar mengelola sampah secara optimal. Untuk itu, pemda bisa mendukung berbagai upaya penanganan sampah. Begitupun dengan kita masyarakat tentu tidak bisa begitu saja mengabaikan persoalan sampah ini, terlebih menyerahkan begitu saja hanya pada pemerintah. Itu artinya, penanganan sampah perlu dilakukan dengan kolaborasi berbagai pihak, dari hulu dan hilir, yang intinya kesemuanya membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Solusi penanganan sampah

Upaya penanganan persoalan sampah bisa menjadi cerminan kondisi suatu daerah. Oleh sebab itu, penanganan sampah ini tentu tidak bisa diserahkan begitu saja pada pemerintah pusat. Dan, agar mengelola sampah bisa dilakukan secara optimal tentu dibutuhkan keterlibatan pemerintah daerah (pemda) untuk mendukung berbagai upaya penanganan sampah.

Pemda idealnya bisa meningkatkan proporsi anggaran melalui beberapa skema pendanaan yang mendukung pembangunan pengelolaan sampah di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), baik provinsi maupun kabupaten/kota masing-masing. Nah, supaya mendapatkan gambaran solusi penanganan sampah dari masing-masing daerah di negeri ini, berikut inilah beberapa langkah solusi yang bisa dilakukan.

Pertama, mendorong terciptanya kerja sama antara pemda, industri, UMKM, dan komunitas pecinta lingkungan guna mewujudkan ekonomi sirkular di daerah masing-masing. Oleh sebab itu, idealnya pemda-pemda dapat menyusun perencanaan, penganggaran, kelembagaan, serta regulasi untuk mewujudkan inovasi pengelolaan sampah.

Kedua, masyarakat dan perangkat desa sekiranya bisa menjalankan pengelolaan sampah berbasis pada sumber yang terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui pemanfaatan nilai ekonomi sampah atau ekonomi sirkular. Mengembangkan model pengelolaan sampah tersebut. Kita sudah harus segera berubah dari pendekatan konvensional selama ini, yakni buang-tumpuk-angkut, menjadi reduce-reuse-recycle (3R).

Ketiga, pemerintah perlu membangun pengetahuan dan kesadaran. Menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui edukasi pengelolaan sampah. Di sini harus kita akui bersama bahwa masih rendahnya kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam memilah di sumber sampah, terutama tingkat rumah tangga. Wajar jika masyarakat terbiarkan tanpa edukasi pengelolaan sampah akhirnya menyebabkan timbulan sampah secara nasional mencapai 9 juta ton per tahun.

Keempat, membuat sistem dan kebijakan pengelolaan sampah. Langkah ini berguna dalam mendorong masyarakat, mulai dari yang berbasis sumber di desa hingga rumah tangga.

Berangkat dari keempat solusi dalam penanganan sampah di atas, sangatlah jelas bahwa penanganan sampah sangat perlu didukung dengan sinergisitas yang kuat, serta kerja sama yang maksimal dari berbagai pihak. Termasuk, perlu intervensi pemerintah, baik pusat maupun daerah. Itu artinya, kolaborasi semua pihak sangat dibutuhkan, tidak ada yang bisa bekerja sendiri. Dan, jika itu bisa diimplementasikan dengan baik dan maksimal, maka besar kemungkinan negeri ini bisa mengurai dan mengurangi persoalan sampah yang melanda negeri ini.

———- *** ———–

Rate this article!
Tags: