Optimis Vaksin Merah Putih Uji Klinis September

Prof Nasih

Surabaya, Bhirawa
Universitas Airlangga (Unair) tengah menyiapkan dua platgorm vaksin, yaitu Inactivated Virus dan Adenovirus untuk vaksin Merah Putih. Dalam pengembangannya, tim peneliti vaksin Merah-Putih Unair, telah melakukan uji coba imunitas terhadap hewan makaka.
Meski begitu, beberapa kendala dialami tim peneliti, utamanya pada pengembangan vaksin metode inactiveted virus yang mengalami keterlambatan progres sistem dan skema riset. “Saat ini masih dalam tahap uji hewan makaka, ya masih ditahap itu. Karena mengalami beberapa kendala, hewannya susah dicari dan dari 40 makaka yang ada, tidak banyak yang layak uji,” ujar Rektor Unair, Prof Moh Nasih, Selasa (27/7).
Saat ini, kata dia, hanya ada 5 makaka yang lolos dan layak uji. Diakuinya, Proses mencari makaka itu yang lama, harus menunggu. Bukan hanya hitungan minggu tapi bulan. “Ya sistemnya begitu masihan tidak bisa cepat, kalau ada kekurangan apa harus nunggu lama untuk memenuhan bahannya,” tambah dia.
Uji hewan ini merupakan uji tantang vaksin terhadap virus dengan medium hewan makaka. Artinya, hewan makaka diimunisasi dengan vaksin kemudian ditunggu satu bulan, yang selanjutnya ditantangkan dengan virus mutasi terbaru, jika hasilnya virus mampu diaktivasi vaksin, maka uji hewan dinyatakan berhasil.
Meski prosesnya sempat terkendala ketersediaan hewan uji, Prof Nasih tetap optimis September tahun ini, kedua vaksin platform Unair akan tetap bisa masuk uji klinis. “Masih ada waktu lah ini, kalau setelah ini tidak ada kendala lagi, uji hewan berhasil, ya September itu insyaAllah sudah bisa masuk uji klinis tahap 1 lah,” kata Prof Nasih.
Sementara itu, ditambahkan salah satu tim peneliti vaksin Merah-Putih Unair, Prof. Ni Nyoman Tri Puspaningsih pengembangan vaksin Merah Putih telah mempertimbangkan mutasi virus corona yang telah ditemukan selama setahun terakhir.
Ia melnjutkan, empat mutasi virus corona telah ditemukan selama setahun ini adalah D614G, B117, E484K dan B1525. Sedangkan sejak awal di Surabaya sudah masuk mutan D641G. “Vaksin yang dikembangkan saat ini telah mempertimbangkan mutasi virus Covidgg-19. Adapun mutan yang paling utama dan paling penting D641G, karena semua mutasi varian di tempat lain masih memiliki G,” katanya.
Menurutnya, mutasi virus baru lainnya masih memiliki D614G di dalam strain-nya. Kemudian, strain D berubah ke G ini yang digunakan dalam vaksin Merah Putih platform Unair. “Varian baru yang muncul di Inggris, Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan India semuanya masih punya D614G. Strain kita tidak ada lagi strain Wuhan D614. Hasil penelitian kami sudah zero sejak akhir April. Semuanya sudah G sekarang,” ujarnya.
Selain itu, tim peneliti Unair juga menggunakan mutasi E484K yang ditemukan di negara lain seperti di Jepang, AS, Inggris, India dan Brazil. “Munculnya varian baru di lokasi lain sudah memperhatikan whole genome sequence yang dilakukan tim peneliti lengkap. Ini merupakan strain mutan, tapi mutan Indonesia ada D614G dan E484 tapi E-nya bukan K tapi D. Tapi lokasinya sama di sana. Ini spesifik untuk Indonesia,” katanya.
Wanita yang juga Wakil Rektor I Unair itu mengatakan, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan menguji mutasi virus lainnya dengan vaksin Merah Putih. “Belum bisa dipastikan pemakaian strain mutan (D541G) maka efikasinya bisa tinggi. Harus melihat hasil uji klinisnya,” katanya.
Namun, saat ini timnya juga sedang mencoba melihat efikasi dalam uji preklinis dengan tikus yang sudah memiliki antibodi. [ina]

Tags: