Pameran Batik Malang Kucecwara Angkat Potensi Batik ‘Malangan’

Pameran Batik Malangkucecwara yang digelar di Gedung DPRD Kota Malang, diharapkan mampu mengangkat potensi batik Kota Malang.

Kota Malang, Bhirawa
Untuk mengenalkan dan menggali potensi batik khas Malang, berbagai upaya terus dilakukan. Salah satunya melalui pameran batik Malang Kucecwara yang digelar di lobi gedung DPRD Kota Malang pada 3-9 Oktober 2020. Acara yang digelar dalam rangka memperingati Hari Batik yang jatuh pada 2 Oktober lalu, pameran ini juga diharapkan dapat menggairahkan potensi pengrajin batik khususnya di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Macam-macam jenis batik mulai dari batik tulis, batik ecoprint, eco batik dipamerkan. Tak hanya dalam bentuk kain, sedikitnya 30 pengrajin yang tergabung dalam sejumlah paguyuban pengrajin batik se-Malang Raya ini juga memamerkan hasil karya dari batik seperti baju, hijab, masker, tas, sandal, dan kerajinan lainnya.
Ketua Panitia Pameran Batik Malangkucecwara, Maria Karnela, mengemukakan, selain pameran, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan pelatihan soal tekstil dan membatik, workshop ecoprint, serta penampilan kesenian. “Melalui pameran ini, kami juga ingin menjaring aspirasi masyarakat mengenai motif batik Malangan,” ungkapnya, Senin (5/10) kemarin.

Cara menjaring aspirasi itu, sambung Maria, dilakukan dengan meminta pengunjung pameran memilih motif batik Malang yang menjadi favoritnya. “Setiap pengunjung memberikan voting dengan menempelkan kertas pada batik yang dipamerkan. Motif batik yang punya voting paling banyak akan kita jadikan salah satu batik khas Malang. Ini cara baru, biasanya untuk mencari motif batik kan lewat lomba dan dipilih juri. Kalau sekarang kita ambil lewat aspirasi masyarakat,” kata Maria.

Salah seorang pengrajin batik, Yuni Bambang berharap, melalui partisipasinya dalam pameran ini, diharapkan bisa menjadi media untuk membangkitkan perekonomian pengrajin. Karena kata dia, selama pandemi, pengrajin batik juga kesulitan bertahan.

Yuni selama ini, berkecimpung di komunitas Peri Elang yang berisi pengrajin binaan Pemkab Malang. Produknya berupa batik ecoprint yang ramah lingkungan. Batik ecoprint buatan Yuni, dibanderol seharga Rp 250 ribu hingga Rp 800 ribu untuk tiap lembar kain. “Sebenarnya antusiasme masyarakat trhadap batik ecoprint cukup bagus, karena bahannya alami, tidak pakai bahan kimia sehingga ramah lingkungan,” tandasnya.[mut]

Tags: