Para Penjaga Serpihan Surga di CMC Tiga Warna

Panorama alam di Pantai Gatra yang masuk dalam kawasan CMC Tiga Warna sangat indah.


Indonesia serpihan surga yang jatuh di bumi. Kalimat itu pernah diucapkan Jacques Causteau, seorang pakar kelautan dan arkeologi bawah laut berkebangsaan Prancis, saat berkunjung ke Indonesia. Dia dibuat terpesona dengan panorama elok pantai dan bawah laut Nusantara.

Oleh:
Zainal Ibad, Kota Malang

Serpihan surga itu salah satunya jatuh di wilayah selatan Kabupaten Malang, yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Malang Selatan memiliki garis pantai yang cukup panjang. Dimulai dari Pantai Modangan di Donomulyo, hingga Pantai Licin di Ampelgading. Panjangnya mencapai 102,62 kilometer.

Wilayah Malang Selatan menjadi salah satu daerah yang menyumbang banyak pantai eksotis di Jatim. Dikutip dari ejurnal.malangkab.go.id, jumlahnya mencapai 100 pantai. Masing-masing pantainya memiliki karakter yang berbeda-beda. Lanskap alam dan lautnya mampu membuat takjub siapapun yang mengunjunginya.

Dari puluhan pantai di Malang Selatan itu, salah satunya yang memiliki karakteristik unik ada di kawasan ekowisata Clungup Mangrove Conservation Tiga Warna (CMC Tiga Warna). Pantai ini terletak di Dusun Sendangbiru, RT 027, RW 003, Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

CMC Tiga Warna meliputi enam pantai. Pantai Clungup, Pantai Gatra, Pantai Tiga Warna, Pantai Savana, Pantai Mini dan Pantai Batu Pecah. Tiga pantai terakhir, menurut Dewan Pendiri CMC Tiga Warna, Lia Putrinda, masih disimpan dan belum dibuka untuk umum.

“Kami memang sengaja belum menawarkan Pantai Savana, Pantai Mini dan Pantai Batu Pecah ke tamu. Ini strategi kami dalam menjaga keberlanjutan tourism. Kami akan membuat kajian terlebih dulu untuk membukanya,” ujar Lia, ditemui di Sekretariat CMC Tiga Warna, yang lokasi tidak terlalu jauh dengan kawasan konservasi tersebut, Selasa (22/11/2022).

Kawasan CMC Tiga Warna ini, dibagi menjadi dua area konservasi. Yaitu; area konservasi mangrove yang berada di Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Lalu area konservasi terumbu karang yang berada di Pantai Tiga Warna, Pantai Savana, Pantai Mini dan Pantai Batu Pecah.

Keunggulan ekowisata CMC Tiga Warna, kata Lia, adanya perpaduan antara hutan mangrove yang menyatu dengan area perlindungan bawah laut. Karakteristik tersebut membangun suasana menyatu dengan alam dan jauh dari kebisingan.

Selain itu, pengunjung dapat berbagi pengalaman dengan pemandu lokal, yang terlibat langsung dalam upaya konservasi pesisir. “Bukan sekadar bersenang-senang, wisatawan juga mendapat edukasi konservasi lingkungan. Jadi ya healing ya learning,” ungkapnya.

Jika ingin mengunjungi pantai di kawasan CMC Tiga Warna, wisatawan harus mematuhi sejumlah persyaratan yang tidak biasa. Cenderung merepotkan. Bahkan khusus di Pantai Tiga Warna, ada tambahan aturan yang juga wajib dipatuhi. Yakni batasan waktu kunjungan.

Di pos dua terpampang jelas ada 22 tata tertib yang harus dipatuhi setiap wisatawan. Ke-22 tata tertib ini berlaku di Pantai Clungup, Pantai Gatra dan Pantai Tiga Warna. Di pos ini juga sebagai tempat cheklist barang bawaan wisatawan.

“Jika ingin berkunjung ke CMC Tiga Warna, setiap pengunjung harus mau dicek barang bawaannya. Kami catat satu per satu. Jika saat kembali ada yang kurang barangnya, kami minta cari sampah penggantinya. Jika tidak mau, akan didenda Rp100 ribu per item sampah yang kurang,” ungkap Lia.

Peraturan ini diterapkan untuk menjaga kebersihan kawasan, terutama dari sampah non organik yang sangat sulit terurai. Selain itu juga sebagai upaya edukasi pengunjung agar bertanggungjawab atas barang bawaannya masing-masing. Aturan ini sudah berlaku sejak 2015 lalu.

“Setiap tahun rata-rata hanya 5 persen barang bawaan pengunjung yang tidak sesuai cheklist awal saat pulang. Dan sebagian besar mau cari sampah pengganti. Pernah juga kami adu mulut dengan pengunjung mengenai aturan ini,” kata Lia.


Batasi Jumlah Wisatawan
Wisatawan yang datang ke CMC Tiga Warna jumlahnya juga dibatasi. Pengunjung ke Pantai Tiga Warna dibatasi 100 orang per dua jam, Pantai Clungup dan Pantai Gatra 300 orang per hari. Serta camping area hanya disediakan disatu titik di Pantai Gatra dengan kapasitas 75 tenda.

Untuk menjaga ekosistem tetap terjaga, manajemen CMC Tiga Warna juga menerapkan kebijakan anti mainstream. Menutup pantai dihari-hari libur panjang, yang biasanya obyek wisata akan diserbu pengunjung.

“Kami menutup total selama 10 hari pada Hari Raya Iduliftri, dan saat libur Natal tahun baru mulai 23 Desember hingga 2 Januari. Kami juga menutup total kunjungan setiap hari Kamis,” jelas Lia yang pernah meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Nasional pada 2016 ini.

Meski dengan aturan super ketat ini, ternyata tidak mengurangi minat pengunjung untuk datang ke CMC Tiga Warna. Rata-rata pengunjung setiap bulan saat sebelum pandemi Covid-19 sebanyak 5.000-6.000 orang. Setelah ada pandemi, jumlah berkurang antara 3.000-4.000 orang.

Berdasarkan data dari CMC Tiga Warna, jumlah kunjungan wisatawan pada Juli-Desember 2015 sebanyak 29.840 orang. Jumlah ini meningkat drastis pada 2016 sebanyak 61.485 orang, pada 2017 turun menjadi 55.360 orang, 2018 jumlahnya 59.243 orang, lalu 2019 naik menjadi 61.739 orang.

Saat pandemi Covid-19, tutup sejak April-Juli 2020. Pada tahun itu jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 23.622 orang, dan pada 2021 sebanyak 21.067 orang. Sedangkan selama Januari-Agustus 2022 sudah mencapai 31.343 orang.

“Kami memang berbanding terbalik dengan keinginan Kemenparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif), yang ingin ada jumlah kunjungan wisatawan sebanyak-banyaknya. Tapi yang kami lakukan ini telah menginspirasi destinasi wisata minat khusus, bahwa ekologi dan SDM ini harus berimbang. Kami ingin wujudkan quality tourism,” ungkap Lia.


Reservasi Terlebih Dulu
Wisatawan yang ingin berkunjung ke CMC Tiga Warna, sebelumnya harus melakukan reservasi atau pemesanan jauh-jauh hari. Sistem ini diberlakukan untuk mengendalikan jumlah pengunjung. Khususnya Pantai Tiga Warna, yang merupakan area konservasi terumbu karang, dan daya dukung yang terbatas.

Menurut Manager Penelitian, Perencanaan dan Pengembangan (Litperbang) CMC Tiga Warna, Arik Anggara, jika ingin booking, langkah pertama yang dilakukan adalah cek kuota di hari kunjungan yang diinginkan. Cek kuota bisa dilihat di media sosial Instagram @cmctigawarna.

Jika ada kuota, langsung reservasi dengan menghubungi nomor 081333777669. Bisa melalui telepon atau WhatsApp (WA). Jika sudah memesan, akan mendapatkan kode verifikasi dari admin. Kemudian kode disimpan dan ditunjukkan di Pos 2 saat pemberangkatan.

CMC Tiga Warna berjarak kurang lebih 80 kilometer dari pusat Kota Malang. Estimasi perjalanan waktu kurang lebih tiga jam. Untuk menjangkau kawasan ekowisata, pengunjung dapat menggunakan kendaraan pribadi, jasa travel dan transportasi umum.

Terdapat dua jalur utama menuju CMC Tiga Warna. Pertama; jalur Malang-Gadang-Bululawang-Gondanglegi-Bantur-Jalur Lintas Selatan-Sendangbiru. Kedua; jalur Malang-Gadang-Bululawang-Turen-Talok-Druju-Sitiarjo-Sendangbiru.

“Transportasi umum yang tersedia dari Kota Malang tergolong sangat minim. Pengunjung dapat menggunakan angkutan bus tujuan Dampit dari Malang-Talok, kemudian lanjut menggunakan angkutan desa Turen-Sendangbiru. Namun untuk angkutan desa ini hanya ada sekali dalam sehari,” jelas Arik.

Untuk tiket masuk ke CMC Tiga Warna cukup murah. Setiap wisatawan dikenakan tarif Rp10 ribu. Jika ingin ke Pantai Tiga Warna, harus menyewa pemandu wisata dengan biaya Rp150 ribu untuk 10 orang.

Jika ingin menjelajah kawasan CMC Tiga Warna, ada tiga opsi perjalanan yang bisa dipilih wisatawan. Pertama; jalur jalan kaki full track melewati enam pantai sekaligus dengan panjang kurang lebih 2,5 kilometer.

Kedua; jalur jalan kaki potong kompas melewati tiga pantai kurang lebih 2 kilometer, dan ketiga; jalur perahu dengan kapasitas maksimal delapan orang. Start dari Pelabuhan Pondokdadap sampai dermaga belakang Pantai Tiga Warna. Perjalanan yang dibutuhkan kurang lebih 15 menit. Sewa perahu ini sebesar Rp200 ribu pulang-pergi.

Arik mengatakan, CMC Tiga Warna memiliki pilihan atraksi wisata yang berbeda disetiap pantai. Atraksi kano dapat pengunjung nikmati di Pantai Gatra, snorkling dan diving di Pantai Tiga Warna. Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati atraksi jemparingan atau olahraga panahan tradisional Jawa, dan pengamatan kepiting biola atau Uca spp di Pantai Clungup.

“Bagi wisatawan yang memiliki ketertarikan akan dunia mancing, CMC Tiga Warna juga memiliki unit rumah apung. Jika beruntung, wisatawan dapat merasakan sensasi memancing Giant Trevally, yang terkenal sebagai predator penguasa karang. Untuk berkunjung ke rumah apung, pengunjung wajib reservasi dan kuota dibatasi hanya 25 pemancing per 12 jam,” jelasnya.


Alami Kerusakan Parah
Ekowisata CMC Tiga Warna ini dikelola masyarakat lokal, yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Alam Sendangbiru (BASB). Jumlah masyarakat yang terlibat mencapai 109 orang.

Sebelum berkembang menjadi destinasi unggulan Kabupaten Malang seperti sekarang ini, Saptoyo, selaku pendiri CMC Tiga Warna harus berdarah-darah, untuk melakukan konservasi pesisir laut. Bahkan Sapto–sapaan akrab Saptoyo, pernah merasakan dinginnya dinding penjara karenanya.

Ekosistem pesisir dan laut di Desa Tambakrejo mengalami kerusakan parah, saat peralihan era Orde Baru ke Orde Reformasi. Hal ini terjadi karena lemahnya penegakan hukum, adanya krisis moneter dan penyalahartian istilah ‘hutan milik rakyat’. Sehingga terjadi pembalakan liar dan alih fungsi lahan.

“Perusakan secara masif tidak hanya dilakukan warga Desa Tambakrejo, tapi juga dari warga luar desa. Kondisi ini terjadi dalam kurun waktu 1998 hingga 2003. Alih fungsi lahan dari hutan lindung menjadi tambak dan perkebunan terjadi dimana-mana. Kerusakan hutan mangrove luasnya mencapai 81 hektare, dan yang tersisa hanya 5 hektare,” ungkapnya.

Akibat kerusakan pesisir pantai itu, kata Sapto, sepanjang 2004 terjadi paceklik ikan dan sumber daya air mulai sulit didapatkan. Akhirnya masyarakat yang mayoritas nelayan dan petani kebun beralih menjadi petani hutan.

“Dari kasus tersebut, kami dapat pelajaran berharga. Bahwa saat sebelum 1998 itu masyarakat tidak berani merusak hutan, karena mereka takut pada pihak keamanan saja. Bukan karena memang paham tentang pentingnya menjaga ekosistem hutan yang berkelanjutan. Begitu pengawasan lemah, mereka merusak secara brutal,” ungkapnya.

Melihat serpihan surga di Desa Tambakrejo yang hancur itu, sejak 2005 Sapto mulai berinisiatif menanam mangrove kembali. Sendirian. Tidak ada organisasi yang mendampingi. Hanya ada keluarga dan beberapa teman saja yang tergugah ingin membantu Sapto menanam mangrove. Kondisi ini berlangsung selama 2005-2011.

Baru pada 2012 Sapto mengikuti pelatihan di Kota Malang. Isinya pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut. Setelah pulang dari pelatihan itu, Sapto kemudian ingin menggerakkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) yang sudah ada, namun tidak jalan karena tidak memiliki anggota. Yang ada hanya struktur ketua dan bendahara.

Karena tidak ada anggota itu, Sapto bersedia mencari anggota. Selama tiga bulan, ia mendapatkan anggota sebanyak 25 orang. Setelah dilakukan pertemuan, dan Sapto menjelaskan pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan laut, justru semua orang yang diajak menjadi anggota dan ketua serta bendaharanya mundur.

“Alasannya, tugas Pokmaswas terlalu berat. Harus mengawasi, rawan terjadi pertengkaran dengan teman dan tetangga yang merusak hutan, namun tidak ada anggarannya. Semua orang mundur termasuk ketua dan bendahara. Karena tidak ada yang mau menjadi pengurus, akhirnya saya terpaksa menawarkan diri jadi ketua pokmaswasnya,” kata Sapto.

Setelah memegang Pokmaswas, Sapto kemudian mengajak anaknya Lia yang waktu itu masih kuliah di Malang, untuk bersama-sama melakukan konservasi mangrove. Lia kemudian mengajak tiga temannya.

Anak-anak muda ini kemudian melakukan inovasi, dengan cara menjual bibit mangrove. Selain itu, juga memberikan edukasi soal mangrove kepada orang-orang yang datang.


Dianggap Ilegal dan Dipenjara
Seiring berjalannya waktu, kawasan konservasi di Desa Tambakrejo mulai ramai. Namun sayangnya, ramainya kunjungan ini menjadi boomerang bagi Sapto. Tepatnya pada 2015, ia harus ditangkap polisi dan dipenjara selama tiga hari dua malam, karena adanya kesalahpahaman.

“Karena ramai itu, dikira banyak uang. Ada pihak-pihak yang tidak senang saya menanam mangrove di lahan Perhutani. Karena memang ada aktivitas ekonominya. Disitulah letak kesalahpahamannya. Menurut saya, karena Pokmaswas ini dibentuk dinas perikanan dan kelautan, saya berfikir bisa bebas menanam di lahan milik Perhutani. Ternyata yang saya lakukan itu ilegal. Saya ditangkap polisi, rumah digeledah layaknya penjahat,” kenangnya.

Karena masalah itu, akhirnya Sapto belajar soal legal formal dan birokrasi. Dirinya mencari referensi agar kegiatan konservasinya tetap berjalan. “Karena saat bekerjasama dengan institusi pemerintah, harus ada lembaga formalnya. Akhirnya saya membuat sebuah yayasan yang diberi nama BASB. Yayasan bisa melakukan perjanjian kerjasama dengan pihak Perhutani. Dan sampai sekarang tidak ada masalah,” jelasnya.

Yayasan BASB bergerak dibidang konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Visinya ‘Hidup Sejahtera di Alam yang Lestari’. Sedangkan misinya; membangun masyarakat cinta lingkungan dengan mengajak berpartisipasi dalam merehabilitasi kawasan pesisir yang rusak; membangun kelembagaan berbasis masyarakat yang kuat, untuk mengelola sumber daya alam secara bertanggungjawab, melalui sektor pariwisata, kehutanan dan perikanan yang berkelanjutan.

Seiring berkembangnya waktu, Yayasan BASB menjadi rumah bersama sejumlah organisasi. Yaitu Pokmaswas, Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), Karang Taruna, Kelompok Tani Hutan (KTH) dan LKDPH (Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Hutan).

“Melalui yayasan ini, kita satu niat untuk melestarikan hutan dan menyejahterakan masyarakat. Di yayasan ini semua disepakati bersama. Mulai pola kerjanya hingga pola bagi hasilnya. Pembagiannya 30 persen untuk operasional lembaga, 40 persen untuk pengembangan dan 30 persen untuk konservasi,” jelasnya.


Pilot Project Destinasi Low Carbon
Kerja keras Sapto sebagai penjaga serpihan surga bersama para 109 anggota CMS Tiga Warna kini telah membuahkan hasil. Hutan mangrove yang awalnya 81 hektare rusak, kini telah direhabilitasi seluas 77,7 hektare. Sisanya 3,3 hektare sedang proses penanaman.

Hebatnya, penanaman mangrove yang dilakukan selama ini tidak menggunakan dana pemerintah. Sapto menggunakan sistem gotong royong. Sebab menanam adalah pekerjaan yang paling mudah.

“Yang paling sulit itu menjaga. Disini kami mulai meminta bantuan ke pemerintah. Namun bantuannya tidak langsung berbentuk anggaran, tapi peralatan pariwisata agar masyarakat sekitar bisa bekerja di pariwisata sekaligus menjaga hutan,” paparnya.

Dengan berkembangnya mangrove ini, hasil serapan karbonnya mencapai 3.856,05 ton. Jika kebutuhan oksigen layak hirup setiap manusia per hari 0,56 kilogram, maka mangrove di Desa Tambakrejo bisa menyelamatkan tujuh juta orang. “Ini yang memotivasi saya untuk terus semangat,” ujarnya.

Dengan capaian ini, menjadikan CMC Tiga Warna dipilih Kemenparekraf sebagai salah satu pilot project destinasi wisata rendah karbon (low carbon). Program ini sebagai bagian dari program Towards Climate Positive Tourism Thourgh Decarbonization and Ecotuorism.

Selain konservasi mangrove, Sapto juga melakukan rehabilitasi hutan pantai. Luas yang harus dikembalikan fungsinya mencapai 96,24 hektare. Rinciannya; barat sungai 36,9 hektare dan timur sungai 59,34 hektare. Fungsi hutan pantai ini sebagai green belt.

“Kondisi sekarang mayoritas masih dikuasai warga. Lahan digunakan pertanian yang tidak ramah lingkungan. Makanya kita mulai menata. Kita lakukan pembebasan dengan sistem ganti garap agar tidak terjadi konflik. Daerah yang sudah kita bebaskan seluas 29 hektare,” jelasnya.

Rehabilitasi hutan pantai ini, kata Sapto, juga sangat penting. Sebab dalam ekosistem pantai, ada empat barisan penjaga laut yang tidak bisa dipisahkan. Yakni hutan pantai, mangrove, padang lamun dan terumbu karang.

“Keempat barisan ini menjadi satu kesatuan. Salah satu ada yang terdegradasi, maka barisan berikutnya akan semakin berat bebannya. Jika hutan pantai rusak, maka beban mangrove menjadi berat. Begitu seterusnya. Makanya keempat faktor ini harus pulih, jika produksi sektor perikanan ingin baik,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Sapto juga membuat rancangan marine protected area (MPA). Dimana dilarang ada aktivitas penangkapan ikan di area yang sudah ditetapkan sebagai MPA. Luasnya mencapai 14,4 hektare.

Konsep ini diterapkan untuk memberikan kesempatan hidup yang nyaman bagi biota laut, agar mereka bisa bereproduksi dan berkembang dengan baik. “Kita beritanda area yang masuk MPA. Jika ikan itu keluar dari area MPA ya silahkan ditangkap. Itu rejeki nelayan,” katanya.

Manager Bahari CMC Tiga Warna, Trio Ega Yolanda menambahkan, sejak adanya CMC Tiga Warna, kesejahteraan masyarakat semakin naik. Jika dulu pekerjaannya tidak menetap, sekarang pekerjaannya lebih tertata di ekowisata. Selain itu, hasil penangkapan ikannya juga meningkat.

“Dengan adanya gerakan yang dilakukan CMC Tiga Warna, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian pantai semakin bertambah. Dulu di zaman bapak saya adalah perusak. Sekarang sudah tidak lagi,” tandasnya.


Cocok untuk Wisatawan Asing
Keindahan panorama serpihan surga di CMC Tiga Warna ini diakui salah satu travel wisata, PT Badan Perjalanan Wisata (BPW) Bayu Citra Persada (BCP) Tour and Travel Surabaya.

Menurut owner BCP, Dyah Ayu Tisnawati, ia pernah membawa wisatawan ke CMC Tiga Warna. Wisatawan sangat terkesan dengan kealamian pantainya. Mulai dari hutan mangrove, pasir pantainya yang bersih dan panorama alamnya yang sangat indah.

“Secara umum pantai-pantai di Malang Selatan itu memang indah. Namun kalau di CMC Tiga Warna ini ada kelebihan dan keunikannya. Pantainya masih alami. Dan di Pantai Tiga Warna memang ada gradasi tiga warna yang terbentuk secara alami,” ujarnya.

CMC Tiga Warna ini, kata Ayu, tidak cocok untuk wisatawan yang tidak mau ribet dan suka grudak-gruduk. Sebab pengunjung tidak bisa sembarangan membuang sampah. Saat masuk dan keluar, barang bawaan harus sama jumlahnya.

“Destinasi ini cocok untuk wisatawan yang benar-benar ingin menikmati keindahan alam yang masih alami. Obyek wisata semacam ini biasanya yang paling diminati wisatawan asing,” ujarnya.

BCP yang telah berdiri sejak 29 tahun lalu ini, lanjut Ayu, pernah membawa 1.200 wisatawan yang dibagi dalam tiga gelombang ke Pantai Balekambang menggunakan bus. “Ini bisa jadi kekurangan CMC Tiga Warna. Kendaraan bus tidak bisa masuk karena akses jalan yang sempit,” katanya.

Untuk obyek wisata di Malang Raya, kata Ayu, yang menjadi primadona adalah Kota Batu. Di Kota Apel ini banyak pilihan destinasi wisatanya, dan jarak serta jalurnya tidak terlalu berat seperti ke Malang Raya.

“Kami hampir tiap minggu bolak-balik ke Kota Batu mengantarkan wisatawan. Kalau di Kota Malang yang jadi primadona Hawai Park dan Museum Malang Tempo Doeloe. Sedangkan di Kabupaten Malang di Sumber Maron,” ujarnya.

Jika destinasi ke Malang Selatan ingin menggeliat, kata Ayu, yang harus dibenahi adalah soal akses. “Akses ke Malang Selatan cukup berat. Perjalanannya jauh dan berkelok-kelok. Belum lagi kalau jalannya rusak. Membuat minat wisatawan ke Malang Selatan tidak terlalu tinggi, meski panoramanya sangat indah,” tandasnya.

Sementara itu, agar wisatawan dengan mudah mencari informasi destinasi wisata baik di Malang Raya maupun Jatim, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim telah membuat sejumlah akses informasi kepariwisataan.

Kepala Disbudpar Provinsi Jatim, Sinarto mengatakan, masyarakat yang ingin mendapat informasi pariwisata Jatim bisa membuka aplikasi, East Java Trip dan Panorama 360 VT jatim.travel. Kemudian bisa juga membuka Virtual Exhibition di virtual.jatim.travel serta Chatbot di 081259803378.

“Kegiatan pemasaran pariwisata digital pada Disbudpar Jatim telah mulai dikembangkan pada awal 2019 lalu. Awalnya dari unggahan di media sosial, selanjutnya berkembang hingga pembuatan aplikasi dan platform promosi wisata,” jelas Sinarto.

Di Kabupaten Malang, lanjutnya, memiliki 96 destinasi wisata. Mulai dari pantai, candi, air terjun, agrowisata, desa wisata hingga tempat bersejarah. “Kabupaten Malang juga memiliki wisata kuliner yang khas, yang siap menggoyang lidah dan membuat ketagihan,” ungkapnya.


Jumlah Wisatawan Meningkat
Malang Raya memang menjadi unggulan Jatim dalam sektor pariwisata. Setiap tahun jutaan wisatawan lokal dan mancanegara, mengunjungi tiga daerah yang meliputi Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu ini.

Pandemi Covid-19 sempat memorak-porandakan wisata di Malang Raya. Kini setelah Covid-19 melandai dan bisa dikendalikan, pertumbuhan pariwisatanya melesat. Tak hanya di Malang Raya, tapi juga Jatim.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Jatim melejit hingga 5.186,81 persen. Sedangkan wisatawan lokal meningkat 134,90 persen.

BPS mencatat, sepanjang Januari-September 2022, kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu Bandara Internasional Juanda Surabaya sebanyak 34.470 wisatawan. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu hanya tercatat 652 wisatawan.

Sementara jumlah wisatwan lokal pada Januari-September 2022, sebanyak 47.725.334 orang. Pada periode sama tahun lalu tercatat sebanyak 20.441.579 wisatawan.

Dalam hal okupansi hotel, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) wisatawan mancanegara pada hotel klasifikasi bintang selama September 2022 tercatat sebesar 2,80 hari, atau terjadi peningkatan sebesar 0,70 poin jika dibandingkan dengan kondisi Agustus 2022 yang mencapai 2,10 hari.

Sedangkan tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang, sepanjang September 2022 mencapai rata-rata 54,67 persen atau naik sebesar 4,56 poin dibanding bulan sebelumnya. TPK hotel bintang empat tercatat sebesar 57,61 persen, tertinggi dibandingkan hotel berbintang lainnya. TPK hotel klasifikasi nonbintang pada September 2022 mencapai rata-rata 24,45 persen, atau naik sebesar 0,39 poin dibanding bulan sebelumnya.

Di Kota Batu, selama 2022 ini jumlah kunjungan wisatawan ditarget bisa tembus angka tujuh juta orang. Target itu diprediksi bisa tercapai, sebab hingga September 2022 jumlah wisatawan yang datang ke Kota Apel itu telah mencapai 5 juta orang lebih.

Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Arief As Sidiq mengatakan, Pemkot Batu terus membuat sejumlah acara pariwisata. Mulai bertajuk budaya, kesenian, UMKM dan lainnya yang bisa menyedot minat wisatawan datang ke Kota Batu.

Dengan ramainya kunjungan wisatawan, hal ini mengerek okupansi hotel. Jika hari-hari biasa okupansinya sudah mencapai 50 persen. Namun jumlah itu meningkat tajam hingga 100 persen saat akhir pekan.

Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan, peningkatan okupansi ini sudah terjadi sejak pertengahan Juni 2022 lalu. Melihat tren itu, Sujud optimistis angka kunjungan wisata bisa terus meningkat hingga akhir 2022.

Sementara, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Malang selama Januari-Juni 2022 tercatat sebanyak 5,9 juta orang. Angka ini melesat jauh dari prediksi sebelumnya, yang hanya 1,9 juta wisatawan selama 2022.

Melonjaknya wisatawan ini tak terprediksi Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang. Hal ini dilatarbelakangi masih belum selesainya pandemi Covid-19.

“Awalnya kami kira wisatawan masih ragu beraktivitas karena pandemi. Tapi ternyata situasinya berbeda. Lonjakan terjadi sejak Maret 2022 lalu,” ujar Plt Kepala Disporapar Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni.

Ida mengatakan, untuk wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Kota Malang paling banyak berasal dari Malaysia, Timor Leste, Tiongkok, Prancis dan Belanda. Destinasi favorit yang dituju cenderung ke tempat-tempat bersejarah. Selain itu, Alun-alun Tugu dan Kampung Warna-warni Jodipan.

Sedangkan di Kabupaten Malang, tercatat ada peningkatan pada triwulan pertama 2022. Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang, hingga Maret 2022, kunjungan wisatawan ke Kabupaten Malang tercatat ada sebanyak 547.466 wisatawan.

Tertinggi kedatangan arus wisatawan terjadi pada Januari. Yakni mencapai 273.000. Namun jumlah itu mengalami penurunan pada Februari dan Maret 2022. Pada Maret turun hingga 78.915 wisatawan. Destinasi yang menjadi favorit diantaranya Pantai Balekambang, Pantai Regent, Desa Wisata Pujon Kidul, Desa Wisata Sanankerto, Coban Rondo, Flora Wisata Santerra, Bedengan Desa Selorejo dan Sumbermaron.


Perkuat Infrastruktur Wisata
Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Jatim ini, tidak membuat heran Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Sebab destinasi wisata di Jatim sangat lengkap, cantik, dan menarik.

Seperti wisata alam, Jatim memiliki gunung, pantai, sungai, goa, kawah, danau yang panoramanya sangat eksotis. Ada juga destinasi wisata buatan, budaya dan kuliner yang juga tidak boleh dilewatkan.

Berdasarkan data Disbudpar Jatim, provinsi paling ujung timur Pulau Jawa ini memiliki 916 daya tarik wisata (DTW). Terdiri dari 387 alam, 280 buatan dan 302 budaya, 573 desa wisata (28 maju, 55 berkembang, dan 493 rintisan). Selain itu, Jatim ditunjang 1.576 unit hotel, 7.889 rumah makan/restoran, 1.743 homestay, dan 1.792 usaha travel agent.

Sementara khusus di jalur Pansela (Pantai Selatan) Jatim, terdapat 369 DTW. Yakni Kabupaten Pacitan 20 DTW, Trenggalek 16 DTW, Tulungagung 63 DTW, Blitar 78 DWT, Malang 97 DTW, Lumajang 34 DTW, Jember 12 DTW dan Banyuwangi 49 DTW.

“Semua kalangan bisa healing dan menikmati berbagai destinasi wisata di Jatim. Tinggal pilih sesuai kondisi dompet. Jatim punya banyak destinasi yang indah tanpa harus menguras uang banyak,” tutur Khofifah.

Dia mengatakan, sesuai pesan Presiden RI Joko Widodo, berwisatalah di dalam negeri saja. Devisa jangan dibuat wisata ke luar negeri, karena wisata dalam negeri memiliki variasi yang sangat banyak dan eksotis. Tidak kalah dengan destinasi yang ada di luar negeri.

Apalagi mengutip survei Majalah Forbes yang diterbitkan 22 Februari 2022 lalu, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara terindah di dunia. Menurut survei tersebut, Indonesia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau mengantongi skor keindahan alam 7,77 dari 10.

Agar pariwisata Jatim semakin menggeliat, Khofifah meminta para kepala daerah untuk terus memperkuat infrastruktur di kawasan pariwisata. Sebab penguatan infrastruktur akan semakin membuat wisatawan senang berkunjung, karena akses dan fasilias yang baik. Dengan begitu, harapannya semakin banyak mendatangkan wisatawan.

Menurut dia, infrastruktur masih menjadi masalah konektivitas menuju obyek wisata. Seperti akses menuju destinasi wisata di Malang Selatan, masih membutuhkan waktu hingga dua jam lebih. Padahal sepanjang jalur Pansela di Malang Selatan memiliki pantai yang sangat unik dan eksotis.

“Saya ingin mengundang investor untuk berinvestasi di wilayah Malang Selatan. Sekarang sedang proses pembangunan jalan nasional dari Kepanjen ke Gondanglegi. Sekarang proses pembebasan lahan. Jika akes jalan Kepanjen ke Gondanglegi selesai, dan nyambung dengan jalur Pansela di Malang Selatan, pastinya akan mendongkrak pariwisata di wilayah tersebut,” katanya.

Ketua Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair) ini mengatakan, ia baru saja meresmikan Jembatan Pelangi di Desa Srigonco, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang. Dengan diresmikannya jembatan ini, mempermudah akses wisatawan menuju pantai di Malang Selatan. Sekaligus mendukung keberadaan jalur Pansela yang nantinya tembus hingga Blitar.

Penguatan infrastruktur lainnya yang harus dilakukan, kata Khofifah, yakni mempersiapkan tempat ibadah, shelter, dan toilet umum di kawasan wisata. Penguatan infrastruktur ini akan dapat menarik pengunjung tanpa meninggalkan kewajiban ibadahnya. Misalnya di kawasan BTS (Bromo Tengger Semeru), toilet umum ini juga berfungsi untuk mereka yang ingin menunaikan sholat Subuh.

Khofifah mengajak semua pihak untuk memaksimalkan potensi destinasi wisata yang ada. Apalagi Jatim memiliki anugerah alam yang indah dan dapat memikat para wisatawan. “Kita dapat berkontribusi untuk membantu mempromosikan wisata Jatim, dengan memanfaatkan sosial media,” pungkasnya. [*]

Tags: