Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

foto ilustrasi

Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk maka bisa dipastikan jumlah produksi sampah otomatis akan meningkat. Itu artinya, sampah akan menjadi persoalan krusial yang selalu menyertai kehidupan. Berangkat dari pemahaman tersebut, logis adanya jika persoalan sampah perlu selalu mendapat perhatian dan solusi bersama.

Merujuk data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah timbulan sampah nasional pada 2020 mencapai 67,8 juta ton/tahun, yang terdiri dari sampah organik dengan porsentase sebesar 57 persen, sampah plastik sebesar 15 persen, sampah kertas sebesar 11 persen dan sampah lainnya sebesar 17 persen. Hal tersebut, menunjukkan bahwa sampah Indonesia merupakan pekerjaan rumah yang cukup pelik untuk diuraikan.

Berbagai kebijakan sejatinya telah disiapkan oleh pemerintah dalam mengurai masalah sampah. Mulai diterbitkannya UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, PP No. 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik, Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga, dan Permen LHK No 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen, hingga Peraturan Daerah No. 5 tahun 2019 sebagai strategi kebijakan pengelolaan sampah provinsi.

Namun sayang, regulasi saja tidaklah cukup sehingga upaya yang tepat perlu dilakukan untuk pengelolaan sampah. Selama ini banyak sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir, selama itu pula pengelolaan sampah akan selamanya monoton dan jauh dari perubahan. Pola lama seperti kumpul-angkut-buang, alias pola linear itu justru membuktikan pola pikir pengelolaan sampah di Indonesia ketinggalan zaman.

Pola terkini semestinya mengadopsi konsep ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan nilai ekonomi sampah secara maksimal dengan menerapkan 3R, yakni mengurangi (reduce), menggunakan kembali (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle). Melalui konsep ekonomi sirkular itulah kunci pengelolaan sampah berkelanjutan. Kalau tidak bergerak, masalah sampah akan terus menumpuk.

Harun Rasyid
Dosen FPP Universitas Muhmammadiyah Malang

Rate this article!
Tags: