Parpol Mengabaikan Rakyat

Mira Amelia

Mira Amelia

Oleh: Mira Amelia
Mahasiswi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang)
Beberapa diantara kita mungkin sudah jenuh ketika mendengar kata “parpol”. Hal ini dapat dimaklumi karena terlalu banyak hal negatif yang diberikan parpol kepada masyarakat. Khususnya para kader parpol yang  berhasil mendapat kursi kekuasaan, yang mana seharusnya menjadi wakil rakyat tapi malah hanya mewakili diri dan kelompok masing-masing.  Krisis kepercayaan masyarakat terhadap partai politik semakin menguat. Bagi masyarakat, partai politik tidak bermanfaat positif untuk perbaikan kehidupan bangsa dan negara, justru merusak tatanan hukum dan demokrasi serta menciptakan kondisi politik yang tidak beraturan. Lembaga Survei Nasional (LSN) menyatakan tingkat kepercayaan publik terhadap integritas parpol hanya 42,6 persen. Sementara 53,9 persen mengaku kurang percaya pada parpol, dan sisanya 3,5 persen menjawab tidak tahu.
Berbgai hal negatif membuat masyarakat jengkel dengan perpolitikan dan mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat dalam pemilihan pemimpin. Hal itu di latarbelakangi adanya kinerja buruk partai politik yang ditunjukkan melalui banyaknya kader partai politik terlibat kasus korupsi, kader partai tidak berpihak kepada rakyat dan melakukan  tindakan amoral seperti skandal seks. Sehingga semakin banyak masyarakat yang acuh tak acuh terkait hal politik. Tidak heran jika saat pilpres nanti data golput semakin tinggi. Pada pileg 9 april kemaren peneliti LSI menyatakan ada 34,02% suara yang golput dari jumlah penduduk sebanyak 171 juta. Jika dihitung suara yang golput lebih dari 5 juta.
Banyak yang mengatakan bahwa sekarang adalah masa puncak politik. hal tersebut dapat dibenarkan karena memang semua parpol dan juga beberapa pihak sibuk mempersiapkan pilpres di bulan Juli mendatang. Khususnya para parpol telah mengatur strategi yang sedemikian rupa agar memenangkan pilpres nanti. Para parpol juga sibuk mencari kawan untuk diajak berkoalisi. Kesibukan itu berdampak kepada masyarakat. Mereka hampir dan bahkan sudah tidak peduli lagi dengan masyarakat. Nyatanya tingkatan respon mereka terhadap aspirasi masyarakat tidak setinggi ketika menjelang pileg kemaren. Mereka merespon dengan baik terhadap masyarakat ketika mereka membutuhkan suara dari msayarakat itu. Apa yang diharapkan masyarakat kemaren kepada parpol bisa saja akan pupus seketika. Padahal parpol adalah sarana aspirasi masyarakat. Sangat wajar jika ketidak pedulian masyarakat dengan perpolitikan akan meningkat, karena mereka sudah dikecewakan. Akibat dari sikap mereka yang pasif ini maka parpol semakin menjadi jadi melahirkan pemimpin yang tidak berpihak kepada masyarakat dan hanya bekerja untuk pribadi, seperti keadaan sekarang yang kita alami ini.
Partisipasi Rakyat Menjelang Pilpres 2014
Seperti beberapa waktu yang lalu ada terdapat berita tentang “Konvensi Capres” yang dilakukan oleh rakyat (non-parpol). Hal ini membuktikan bahwa rakyat sudah kecewa dengan parpol. Mereka (parpol) yang diharapkan untuk melahirkan pemimpin yang berpihak kepada rakyat, tapi nyatanya tidak demikian. Yang ada hanyalah pemimpin yang berkuasa dan memberi keuntungan sendiri. Memang tindakan rakyat ini bisa jadi untuk membantu parpol melahirkan pemimpin yang diharapkan. Sebagian dari masyarakat tentu ada yang bertanya, “Kenapa kok sampai rakyat (non-parpol) yang turut serta dalam pengusungan kader pada pemilihan capres di bulan April mendatang?”. Hal ini bisa jadi sebagai wujud kekhawatiran rakyat atas negeri ini. Dan tentu saja karena hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap parpol sehingga hal tersebut terjadi. Sudah tampak sekali bahwa parpol hanya berperan sebagai mesin yang memanfaatkan rakyat untuk memperebutkan kekuasaan, dan juga untuk merekayasa perpolitikan, demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
Apa Fungsi Parpol?
Secara umum, parpol berfungsi untuk menampung, mewujudkan aspirasi rakyat, dengan memperjuangkan kepada pemerintah. Seharusnya aspirasi rakyat dijadikan sebagai program kerja parpol dan seterusnya diperjuangkan kepada pemerintah.  Namun parpol tidak berfungsi maksimal dalam menampung dan mewujudkan aspirasi rakyat. Mereka hanya mampu sebatas mendengarkan saja. Itu pun terkadang mereka lakukan ketika mereka membutuhkan, misal ketika pemilu akan dilaksanakan. Setelah pemilu berakhir, mereka akan fokus bekerja untuk kepentingan pribadi dan melupakan rakyatnya. Sehingga rakyat disini hanya diperlukan sementara sebagai alat parpol untuk mendapatkan kekuasaan yang diinginkan. Aspirasi masyrakat pun tidak di perdulikan lagi. Bahkan tidak mereka dengar sama sekali. Wajar jika seringkali ditemukan rakyat yang berdemo dimana-mana hanya untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung. Hal demikian dilakukan karena tidak ada tindak kelanjutan dari pihak terdahulu yang sudah dipercayai untuk menampung aspirasi mereka ketika ia sudah mendapat kekuasaan.
Parpol Harus Introspeksi Diri
Oleh karena itu, hendaklah para parpol berbenah  guna untuk mengambalikan keprcayaan masyarakat. Sekarang ini pencitraan parpol sudah sangat kotor di mata masyarakat. Jika hal ini terakumulasi semakin luas, maka akan berbahaya bagi parpol. Bisa saja nanti akan ada permintaan masyarakat untuk membubarkan parpol. Bagi saya langkah yang dapat dilakukan untuk membantu kembalinya kepercayaan masyarakat, yaitu: 1. Perbaiki kinerja parpol , bekerja lah untuk rakyat dan berpihak kepada rakyat. Program parpol harus mampu mensejahterakan rakyat dan berkomitmen; 2. Berhati-hati dalam merekrut kader. Kader parpol harus yang berkualitas, dapat dipercaya, tentunya berpihak kepada rakyat. Karena kualitas para kader sangat menjadi pertimbangan masyarakat; 3. Tidak mengulang atau melakukan hal-hal yang mengecewakan masyarakat. Mungkin masih banyak lagi hal-hal yang dapat dilakukan parpol guna untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat. Yang terpenting adalah parpol maupun kadernya harus berpihak kepada rakyat. Mereka memiliki amanah untuk mensejahterakan rakyat. Selain langkah-langkah diatas, para parpol secara kelompok dan individu harus mempunyai kesadaran atas tugas utama mereka, yaitu menampung aspirasi rakyat dan memperjuangkannya. Seperti yang tercantum dalam buku Prof. Miriam Budiarjo (Dasar-Dasar Ilmu Politik), semakin tinggi kesadaran untuk berpartisipasi, maka akan menjadi semakin baik juga keadaan yang dirasakan.
Sudah saatnya parpol kembali memihak rakyat. Fokus pada agenda yang menyejahterakan rakyat. Pertanggung jawaban dari parpol sangat ditunggu oleh rakyat. Bagi rakyat, parpol berkewajiban untuk menjembatani aspirasi mereka untuk sampai ke pemerintah. Kepedulian parpol terhadap rakyat sangat didambakan. Bahkan parpol pun diharapkan dapat melahirkan sosok baru yang jujur dan peduli terhadap rakyatnya. Berdasarkan keadaan sekarang ini, banyak rakyat yang sudah tidak percaya bahkan muak dengan para elit lama.  Semoga apa yang diharapkan rakyat dapat di realisasikan.

Rate this article!
Parpol Mengabaikan Rakyat,5 / 5 ( 1votes )
Tags: