Pasar Krian Sidoarjo Siasati BTO Jadi BOT

Pasar Baru KrianSidoarjo, Bhirawa
Pasar Baru Krian (PBK) yang dibangun CV Bangun dengan pola BTO 25 tahun di atas lahan Pemkab Sidoarjo, mulai mensiasati untuk merubah perjanjian setelah dalam 6 tahun ini PBK tak diminati pedagang.
Sejak diserahkan pengelolaannya kepada Dinas Pasar Sidoarjo 6 tahun silam, PBK yang menyediakan 426 stan dalam pasarnya tak laku. Kontradiksi dengan Pasar Krian dan Ramayana di baratnya yang laku dipenuhi pedagang. PBK ini semula jadi tempat penampungan pedagang kaki lima yang ada di seputaran Krian, ada sekitar 200 PKL yang sudah masuk untuk mengisi kekosongan stan tetapi strategi ini tak membantu.
Puluhan PKL yang ‘dipaksa’ masuk ke penampungan PBK, Selasa (27/1) siang melakukan hearing dengan komisi B, untuk meminta berjualan di tepi jalan lagi. Mereka tak betah berjualan di dalam pasar karena sudah tiga bulan ini sepi. DPRD juga tak merestui mereka kembali berjualan di jalan, karena akan memperparah kemacetan di kawasan langganan macet.
Anggota Komisi B, Mulyono, mengakui untuk mengurai kondisi PKL Krian harus melihat dulu dokumen perjanjian kerjasamanya antara investor CV Bangun dengan Pemkab Sidoarjo. Perjanjian itu menggunakan pola BTO (Build Transver Operation) dengan ketentuan pihak swasta membangun fisiknya dan menjual stand lalu pengelolaannya diserahkan Pemkab. kerjasama dengan BTO ini rupanya tak membawa keberuntungan investor, sehingga ada wacana untuk mengganti perjanjian dari BTO menjadi BOT (Build Operatian Transver) di mana Dinas Pasar yang menjual stand.
PBK ini mati suri sejak lama, pedagang enggan membeli stand karena tak laku. Mereka pernah buka usaha di situ tapi sepi akhirnya kembali berjualan di tepi jalan raya. ”Bagaimana dagangan kita bisa laku, jika di luar masih banyak pedagang yang dibiarkan beraktifitas,” tutur Imam Busori, Ketua PKL Merah Putih saat hearing.
Jika dalam dua hari ke depan tak ada langkah kongkrit dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini, maka tak mungkin pedagang yang berada di dalam PBK akan gulung tikar.
”Kita sudah lima bulan bertahan dengan kondisi sepi seperti ini.Jika tetap dibiarakan, kita terpaksa juga ikut berjualan di luar,” tegas Imam.
Dari data yang ada,  jumlah PKL di kawasan PBK ini mencapai 180 lebih  pedagang. Menurut Camat Krian, Agustin Iriani yang ikut dalan hearing, jumlah ini sedikit lebih banyak dari jumlah pedagang yang terdata masuk di kawasan PBK. [hds]

Tags: