Pasca Bullying, Wali Kota Kumpulkan Kepala Sekolah

Doa bersama untuk kesehatan Korban Bullying.

Kota Malang, Bhirawa
Kasus bullying terhadap siswa mendapat perhatian elemen masyarakat. Pasca terjadinya dugaan kasus kekerasan, Wali Kota Malang, Sutiaji mengumpulkan seluruh Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah SMP se-Kota Malang, Rabu (5/2) kemarin.
Dalam pertemuan ini, Wali Kota Sutiaji menegaskan, untuk menjalin komunikasi antar guru dan orangtua. Komunikasi ini harus dilakukan setiap hari, sehingga potensi terjadinya kekerasan dan informasi apapun harus diketahui dan dicegah sedini mungkin.
Wali Kota Sutiaji menegaskan, pihak sekolah tidak boleh menutup – nutupi apapun yang terjadi. Kalau ada kejadian apapun, tidak boleh takut dan menutup diri. Sekecil apapun, harus dilaporkan sesuai dengan kondisi yang ada. Sehingga tidak terjadi salah informasi.
“Seluruh pihak sekolah harus berperan aktif dalam melakukan pengawasan terhadap siswanya. Kepala sekolah juga harus melakukan supervisi,” kata Wali Kota Sutiaji dihadapan para kepada sekolah.
Pemkot Malang akan memberikan tindakan tegas kepada pihak sekolah yang menjadi tempat dugaan kekerasan terjadi. Hal itu akan diserahkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang dan juga Inspektorat.
“Proses ini kami serahkan kepada dinas terkait dan inspektorat. Kami mengikuti proses selanjutnya sesuai tautan dan mekanisme yang ada,” tegas dia.
Sementara, terkait proses hukum yang sedang berjalan, Sutiaji menyerahkan kepada pihak kepolisian. ”Terkait peristiwa ini, sudah ada proses hukumnya. Kami serahkan ke pihak berwajib,” lanjut dia.
Sedangkan mengenai komentar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Zubaidah yang sempat menghebohkan publik, Sutiaji menilai dinas menerima informasi yang tidak benar dari pihak sekolah. ”Pihak sekolah keliru, kejadian dan bukti di lapangan tidak sama, dengan yang dilaporkan,” tegasnya.
Agar peristiwa itu tidak terjadi lagi, pria yang juga seorang ustadz ini, akan meninjau Peraturan Daerah (Perda) terkait pendidikan. Disana, masih belum ada model pengaduan. Ini menurutnya, harus ada pembenahan.
Sementara itu, pihak kepolisian, terus melakukan penyelidikan kasus dugaan kekerasan yang dialami MS (13) seorang siswa SMPN di Kota Malang. Setelah memeriksa 15 orang saksi, Polresta Malang Kota telah menaikkan status dari penyelidikan ke tingkat penyidikan.
“Kami sudah mempunyai dua alat bukti kuat, berupa hasil visum korban dan keterangan para saksi. Selanjutnya kami lakukan pemeriksaan pada pihak sekolah yang meliputi kepala sekolah dan dua orang guru BK,” kata Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata di Mapolresta setempat.
Bahkan, tim penyidik juga melakukan pemeriksaan tambahan kepada terduga yang melakukan kekerasan serta dari pihak keluarga korban. Terkait hasil visum, pihaknya mengaku akan menjelasankan hasilnya dalam waktu dekat.
Untuk mementukan tersangka, kepolisian masih mendalami peran dari masing – masing terduga pelaku yang berjumlah tujuh orang. ”Masih dicari dari tujuh terduga pelaku itu, apakah betul – betuk melakukan pelanggaran,” tutur Kombes Pol Leo.
Selain melanjutkan penyidikan, kepolisian juga terus melakukan pendampingan psikologis korban. Pendampingan korban terus dilakukan sampai betul – betul pulih, karena trauma healing ini tidak ada batas waktunya. Semua pihak membantu pendampingan psikologis korban.
Dari pihak keluarga menyebut, jari tengah korban telah diambutasi dua ruas. Saat ini pihaknya fokus pada pemulihan psikis korban. ”Kami saat ini fokus pada pemulihan psikis korban. Karena dia juga akan kembali sekolah, untuk melanjutkan belajarnya,” ujar Taufik paman korban. [mut]

Tags: