Pasien BPJS Jombang Keluhkan Antrean Obat

7-FOTO KAKI rur-indexJombang, Bhirawa
Sejumlah pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang mengeluhkan lamanya antrian untuk mendapatkan obat. Keluhan itu datang dari pasien rawat jalan pemegang kartu BPJS. Abdul Hakim (39), warga Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, Jombang mengungkapkan, pada Minggu terakhir bulan Desember 2014, dirinya mengantarkan orang tuanya berobat ke salah satu poli di RSUD Jombang.
Orang tuanya merupakan pemegang kartu Askes yang kini berubah menjadi BPJS, sehingga, berdasarkan resep dokter poli, dirinya menyerahkan resep tersebut ke loket obat BPJS. Setelah menyerahkan resep obat ke loket, Abdul Hakim baru mendapatkan obat untuk orang tuanya 2,5 jam kemudian. “Saya menyerahkan resep jam dua belas siang. Tapi baru dapat obat jam setengah tiga. Padahal itu bukan obat racikan,” keluhnya.
Abdul Hakim berharap, layanan obat bagi pasien rawat jalan di RSUD Jombang bisa diperbaiki agar tidak merugikan pasien atau keluarga pasien. “Kalau antrinya sangat lama, bisa merugikan pasien dan keluarga yang mengantarkan. Seharusnya khan tidak selama itu,” katanya.
Keluhan terhadap lamanya antrian untuk mendapatkan obat bagi pasien rawat jalan pemegang kartu BPJS juga dikeluhkan oleh Arif Rohman, salah satu keluarga pasien. “Kalau antri bisa sampai tiga jam. Minimal kalau antri ya dua jam,” katanya ditemui di kawasan RSUD Jombang, saat mengantarkan orang tuanya ke salah satu poli.
Pengalaman menunggu dalam waktu lama untuk bisa mendapatkan obat juga dirasakan oleh Ashabul Kahfi. Agar tidak menunggu terlalu lama, usai diperiksa oleh dokter, dirinya segera menyerahkan resep ke loket dan setelah ditinggal pulang untuk mengantarkan orang tuanya.
Langkah itu, ujar Ashabul, agar orang tuanya yang berobat menggunakan fasilitas BPJS tidak ikut menunggu antrian untuk mendapatkan obat. “Daripada ikut antri dua jam sampai tiga jam, saya antarkan pulang ke rumah dulu. Setelah itu ya kembali ke rumah sakit atau diambil besok paginya,” ungkapnya.
Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, mengungkapkan, standar waktu pelayanan obat berkisar antara 20 menit hingga 30 menit. Proses itu meliputi penerimaan resep, analisa harga, pemilihan obat sesuai resep serta meracik. Berikutnya, jika sudah sesuai resep obat diserahkan kepada pasien. “Kalau untuk obat racikan, waktunya paling lama kira-kira tiga puluh menit. Kalau bukan racikan bisa hanya dua puluh menit,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (5/1).
Menurutnya, jika ada keluhan lamanya antrian untuk mendapatkan obat sebagaimana dikeluhkan pasien rawat jalan pemegang kartu BPJS, pihaknya akan segera melakukan perbaikan layanan. “Kami berupaya sebaik mungkin untuk melayani pasien. Kalau ada keluhan seperti itu, kami akan segera memperbaikinya,” katanya.
dr. Puji Umbaran menambahkan, lamanya antrian untuk mendapatkan obat bagi pasien rawat jalan bisa disebabkan oleh sejumlah faktor. “Bisa lama karena saat antri belum menyerahkan resep atau akumulasi dari banyaknya pasien yang menyerahkan resep. Akumulasi waktu itu yang akan kami coba analisa,” paparnya.
Dia berharap, pasien atau keluarga pasien yang memiliki keluhan terhadap layanan RSUD Jombang bisa menyampaikan kepada pihak manajemen. Seiring dengan perkembangan RSD Jombang, pihaknya telah menempatkan loket obat yang berbeda antara pasien rawat jalan denga pasien rawat inap. [rur]

Keterangan Foto : Antrean di salah satu BPJS.

Tags: