Pasuruan Punya Pusat Penelitian Mangrove Pertama di Dunia

Z hil-0101-kepala BPSDM KP menebar bibit ikan bandeng3Pasuruan, Bhirawa
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) semakin mengembangkan penanaman bakau atau mangrove untuk mendongkrak potensi perikanan di Indonesia. Salah satunya KKP mendorong pemanfaatan mangrove untuk meningkatkan hasil budidaya komoditas tambak seperti udang windu, ikan bandeng dan rumput laut serta kepiting soka.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDM KP) Suseno Sukoyono menyampaikan pemanfaatan mangrove mempunyai potensi sangat besar dari segi ekonomi. “Pusat penelitian mangrove di Pasuruan yang berada di Desa Pulokerto, Kecamatan Kraton merupakan pusat studi satu-satunya di dunia. Itu lantaran Pasuruan memiliki potensi luar biasa di sektor pesisir.
Daerah ini memiliki garis pantai yang panjang dan kualitas tanah yang baik untuk hutan bakau. Makanya, kami saat ini mencari alternatif cara untuk memanfaatkan mangrove sehingga berdampak baik bagi lingkungan dan bisa meningkatkan potensi ekonomi kelautan,” ujar Suseno Sukoyono, di sela-sela pencanangan gerakan konservasi mangrove di Desa Pulokerto, Kabupaten Pasuruan, Rabu (31/12) siang.
Menurutnya, pusat studi mangrove memiliki luas lahan lebih dari 22,5 hektare. Di lahan seluas itu, sejak 2006 telah ditanam sedikitnya 100.000 batang mangrove dengan delapan jenis dominan dan lebih dari 10 jenis mangrove minor yang tumbuh secara alami.
Vegetasi mangrove tumbuh dengan baik dan tersebar di kawasan penyangga (di luar petakan tambak) seluas delapan hektare dan di tambak berupa tambak mangrove seluas empat hektare. Mangrove juga ditanam di pematang tambak seluas empat hektare dan sungai atau saluran air sepanjang 1.100 meter.
“Melalui pola bertambak dengan menanam mangrove , tambak bisa semakin produktif. Sebab mangrove bisa memperbaiki kualitas air dan udara. Areal konservasi mangrove bisa dijadikan area wisata sekaligus edukasi,” jelasnya.
Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Sidoarjo Endang Suhaedy mengaku sudah mengembangkan pola keseimbangan antara nilai ekonomi dan upaya pelestarian alam. Pihaknya juga sudah merumuskan 50 persen untuk dipakai tambak dan 50 persen ditanami mangrove. “Rumusan itu sudah kami coba dan tentusaja akan efektif buat penanaman magrove di areal tambak. Sehingga produksi ikan menghasilkan yang lebih baik,” tandas Endang Suhaedy.
Sebagai contoh, Endang menjelaskan udang windu sudah bisa dipanen hanya dalam tempo 3-4 bulan, lebih cepat dari tambah biasa yang biasanya memanen dalam jangka waktu 6 bulan. Begitupula komoditas ikan bandeng dapat dipanen pada usia empat hingga enam bulan lebih cepat dari cara konvensional. “Bedanya lebih cepat dari yang konvensional. Tapi untuk komoditas rumput laut yang dikembangkan harus diteliti terlebih dahulu pada mutu kandungan karaginan sangat tinggi,” paparnya. [hil]

Tags: