PDAM Mampet, Wali Kota Probolinggo Tinjau Sumber Air RonggoJalu

Warga terdampak mampetnya air PDAM antri droping air.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Kali kedua saluran air milik Perusahaan daerah Air Minum (PDAM) kota Probolinggo kali ke dua alami mampet, pasalnya terjadi kebocoran pipa induk yang dibangun sejak jaman belanda tersebut. Akibatnya setidaknya 19 ribu pelanggannya terdampak kemampetan. Wali kota Hadi Zainal Abidin langsung mendatangi tempat sumber air Ronggojalu, kecamatan Tegalsiwalan kabupaten Probolinggo, Senin 10/2/2020 siang.
Wali kota Hadi berharap uoaya perbaikan tersebut segera terselesaikan dengan baik dan cepat, dengan begitu maka masalah mampetnya air PDAM tersebut dapat teratasi sesegera mungkin. Juga berharap tidak akan ada lagi kebocoran terhadap pipa induk, tandasnya.
Setelah sempat mati seminggu lalu, sejak Sabtu 8/2 aliran air PDAM kembali mati. Matinya aliran air PDAM, lagi-lagi disebabkan karena ada sambungan pipa yang bocor. Kebocoran terjadi pada pipa yang sama, yaitu pipa utama 18 dim yang ada di Ronggojalu, Desa Banjarsawah, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo.
Namun, titik yang bocor berbeda. Kali ini, sambungan pipa bocor karena terjadi tanah longsor di sekitar pipa 18 dim. Longsoran tanah menimpa pipa, sehingga pipa melengkung dan bocor.
“Sedangkan pipa PDAM yang bocor beberapa waktu lalu sudah selesai diperbaiki. Ini masalahnya beda lagi. Di sekitar pipa terjadi longsoran, karena hujan deras di Ronggojalu. Akibatnya, longsoran tanah mengenai pipa dan bocor,” ujar Siswadi, Kepala PDAM Kota Probolinggo, saat dikonfirmasi Senin 10/2/2020.
Pihaknya pun langsung melakukan perbaikan. Yaitu, mengelas titik pipa yang bocor. “Proses perbaikan sudah dilakukan sejak tadi pagi. Belum bisa dipastikan sampai kapan akan selesai dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Siswadi berharap, tidak lagi turun hujan selama proses perbaikan. Sebab jika hujan turun, maka proses perbaikan tidak bisa dilanjutkan. Dijelaskan Siswadi, saat ini jumlah pelanggan di Kota Probolinggo sekitar 19.900 KK. Karena proses perbaikan ini, layanan air PDAM di kota tidak normal.
“Karena perbaikan pipa ini, maka layanan PDAM Kota Probolinggo belum bisa normal. Dampaknya pelanggan PDAM yang kisaran 19.900 KK hampir 20 ribu belum bisa menggunakan air bersih seperti biasanya,” katanya.
Menurutnya, selama perbaikan masih ada pelanggan yang teraliri air. Namun, kondisinya memang terbatas. “Karena masalahnya ada di induk, maka ada beberapa ground yang kami maksimalkan. Namun karena kondisinya terbatas, maka tekanannya kecil,” kilahnya.
Kondisi ini pun telah disampaikan dalam pengumuman PDAM. PDAM menyebut, perbaikan pipa bisa berdampak pada aliran air yang kecil, bahkan mati atau tidak mengalir. PDAM Kota Probolinggo sendiri, memang mengumumkan adanya perbaikan Pipa PDAM 18 dim, kemarin 8/2. Dalam pengumuman tersebut PDAM tidak menyebutkan secara pasti sampai kapan proses perbaikan dilakukan. PDAM pun minta pelanggan menandon air, jelasnya.
Kurang lebih, pengumuman itu sebagai berikut. “Kami akan melaksanakan perbaikan pipa transmisi 18 inci yang berdampak layanan air PDAM Kota Probolinggo berpotensi kecil dan tidak mengalir. Diimbau kepada pelanggan PDAM yang kondisi airnya masih mengalir untuk mengisi tandon air dan bak kamar mandi.”
Untuk mengatasi kondisi ini, PDAM menerjunkan tim untuk dropping air bersih ke masyarakat. Memang tidak semua titik di-dropping air bersih. Sebab, keterbatasan jumlah petugas. Untuk menangani permasalahan tersebut pihak PDAM berserta pemerintah daerah melakukan saplai air bersih ke beberapa titik terdampak keemacetan tersebut dengan mobil tangki, dengan harapan bisa memperingan beban pelanggan akan kebutuhan air bersih, diantaranya kelurahan Mangunharjo kecamatan Mayangan.
Demikian dari pihak Damkar ikut mensamplai air ke masjid-masjid yang terdampak mampetnya air PDAM tersebut, seperti ke masjid Al Iklas kelurahan Pakistaji kecamatan Wonoasih.
Rano Cahyono, ia yang berjualan di Pasar Gotong Royong mengaku bingung harus berbuat apa. Keluhan demi keluhan terus dirasakan oleh setiap pelanggan yang bergantung air bersih pada perusahaan daerah tersebut.
“Ratusan pedagang di Pasar Gotong Royong itu pelanggan PDAM, airnya mati sampai sekarang, jelas mereka kelimpungan. Iya kalau saya , rumah di depan toko jadinya agak terbantu nah kalau yang lain ini kebingungan,” keluhnya.
Mantan Ketua Komisi II DPRD Kota Probolinggo ini menjelaskan, kala itu PDAM dinilai kurang baik kordinasinya dengan DPRD. Tiap kali rapat Badan Anggaran (Banggar) maupun Rapat Dengar Pendapat (RDP), Dirut tidak pernah hadir. Bahkan selalu mewakilkan staffnya.
“Tiap kali kami undang, Direktur selalu mewakilkan. Ini kan kesannya tidak ada keseriusan kalau ada masalah. Selain itu, Pemkot Probolingo juga perlu ikut mengatasi persoalan ini,” tambahnya.(Wap)

Tags: