Pecahkan Rekor MURI, Onde-onde Jadi Icon Kota Mojokerto

Warga Kota Mojokerto saat berebutan 20 ribu onde-onde yang telah berhasil memecahkan rekor MURI di Lapangan Surodinawan Mojokerto.

(Dengan Menyuguhkan Onde-onde Terbanyak)
Kota Mojokerto, Bhirawa
Usai beberapa kali menciptakan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kini Kota Mojokerto kembali sukses menciptakan rekor MURI yang ke 11 kalinya dengan pembuatan Onde-Onde  sebanyak 20 ribu biji.
Keberhasilan rekor MURI berkat bantuan puluhan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang dilibatkan dalam ajang pemecahan rekor pembuatan onde-onde terbanyak di Lapangan Surodinawan Mojokerto, Sabtu (30/9). Sehingga menjadikan Kota Mojokerto sebagai icon kota onde-onde
Menurut Bermuda Indonesia, Reggy Prabowo saat dikonfirmasi Bhirawa, sebetulnya Mojokerto bukan daerah asal onde-onde. “Tapi di kota ini sedikitnya ada 200 pengrajin onde-onde yang rutin membuat, memasarkan dan menggantungkan hidup dari makanan ini,” jelasnya.
Reggy menambahkan, dalam pemecahan rekor ini pihaknya telah mengerahkan lebih dari 50 pelaku usaha untuk memproduksi massal onde-onde sebanyak 20 ribu butir. “Mereka sama-sama berharap even ini bisa meningkatkan omzet penjualan seiring dengan semakin ketatnya persaingan usaha sejenis di Mojokerto,” terangnya.
Dalam ajang ini para pengrajin itu kompak bersatu mempersiapkan pembuatan makanan sebanyak itu, sejak dua pekan sebelumnya. Even pembuatan onde-onde massal yang membutuhkan kerjasama berbagai kalangan itu diklaim telah mampu mempersatukan para pelaku usaha.
Pesta rakyat yang melibatkan komunitas itu juga disebut-sebut sebagai bentuk rahasia kesuksesan tiap aktifitas yang dilakukan masyarakat Mojokerto.  “Kami bangga telah memecahkan rekor ini, nantinya bagi tamu yang berkunjung ke Mojokerto dan belum mencicipi onde-onde maka mereka bisa diartikan belum pernah berkunjung ke Kota Mojokerto,” ujarnya.
Sementara menurut Sosiolog, Dr. Arie Sujito mengatakan bahwa Mojokerto yang merupakan bekas wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit ini, penduduknya sangat egaliter. Keterbukaan ini justru mengakrabkan antara satu warga dengan warga yang lain.
“Tidak hanya mengakui kesetaraan antara anggota warganya tetapi juga adanya kebiasaan untuk selalu terbuka atau blak-blakan. Keterbukaan ini pula yang akhirnya mengakrabkan satu sama lain dan memperkuat kebersamaan di antara anggota masyarakatnya. Berbagai bentuk seni budaya pun banyak yang tercipta sebagai wujud dari kuatnya kebersamaan di Mojokerto,” katanya.
Sedangkan menurut ujar Senior Manager MURI, Sri Widayati, Kota Mojokerto telah banyak memperoleh rekor MURI dan ini merupakan yang kesebelas kalinya. “Salah satunya pada 15 Agustus 2004, pernah membuat sate onde-onde terpanjang 491 meter dan penggorengan onde-onde terbanyak  464 wajan,” paparnya.
Selain itu juga pada 14 Pebruari 2010 juga pernah memecahkan rekor MURI dengan pembuatan onde-onde terbanyak 14.603. “Tapi rekor kali ini memang menarik karena mereka saling bahu-membahu untuk mencapai tujuan,” pungkasnya. [riq,ma.kar]

Tags: