Pedagang Enggan Turunkan Harga

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Surabaya, Bhirawa
Menjelang penurunan kembali harga Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah pada awal Februari 2015,  beberapa pedagang cabai dan penjual makanan di Pasar Gununganyar, Surabaya enggan untuk menurunkan harga.
“Penurunan harga BBM memang memberikan dampak positif bagi semua orang, tapi hal itu tidak berlaku bagi petani cabai dan sayuran. Ada supplier yang menceritakan curah hujan di desanya tinggi, maka cabai yang siap panen menjadi cepat busuk. Sehingga hasil yang di dapat memang sedikit, dan petani tersebut menjual seadanya mas,” ujar Mujianto pedagang cabe di Gunung Anyar, Rabu (14/1) kemarin.
Dengan harga yang di dapat dari suplier sudah tinggi dirinya tidak bisa menurunkan harga meskipun BBM sudah turun. Namun untung yang di dapatnya tidak sebanyak yang diperkirakan masyarakat. Mujianto mengakui untung dari cabai yang dijualnya hanya mendapatkan keuntungan Rp.2000 per kilogram. Itu pun belum kalau, ada pembeli yang menawar, maka untungnya juga tambah susut.
“Dengan keuntungan Rp.2000 per kilogram memang bukan untung yang besar. Tapi yang terpenting, cabai ini bisa terjual, kalau cabainya sudah mengering maka harga jualnya pasti turun. Untungnya hanya Rp 500 per kilogramnya,” tuturnya sambil melayani pembeli.
Sementara itu bagi, Handayani penjual makanan dirinya merasa keberatan untuk menurunkan harga. Lantaran harga elpiji yang mengalami kenaikan, dan tingginya biaya produksi masakan yang dibuatnya. Selain itu, dirinya dalam sehari harus memasak dua kali, karena dirinya juga membuka usaha catering bagi mahasiswa.
“Harga masakan diturunkan nanti malah dapat ruginya. Karena elpiji juga sudah naik, sangat berpengaruh terhadap proses memasaknya. Selain itu, sayuran, daging dan beberapa produk yang lain di pasar juga sudah mahal. Saya sehari masak dua kali, untuk melayani mahasiswa UPN yang berlangganan catering di tempat saya. Makanan pagi dimulai subuh untuk pengolahannya, jam 06.00 harus diantar ke anak-anak untuk makan pagi. Siang saya kembali masak, untuk makan sore hari saya kembali mengantarkan masakan jam 18.00 wib,” jelasnya.
Handayani menanggapi santai jika nanti BBM turun, dirinya tetap memberlakukan harga seperti hari ini (BBM pada harga Rp.8500/ liter). Karena di pasar sendiri, harga juga belum menunjukkan pergerakan turun ke normal. [wil]

Rate this article!
Tags: