Pedagang Sayur Pindah Ke Karangploso

Z sup-Kondisi pasar batu yang viewnya bagus tapi kondisinya kumuh dan kotorKota Batu, bhirawa
Pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batu Syamsul Bakri, yang menyatakan bahwa pedagang unit sayur setuju pasarnya dibangun mendapat sanggahan dari mereka. Pasalnya hinggga saat ini pedagang di unit sayur Pasar Kota Batu tersebut belum sepenuhnya menyetujui pembangunan pasar tersebut.
Menurut H Agus Salim, pasalnya di kalangan pedagang Pasar Batu telah terbelah menjadi 2 kelompok besar, yaitu Himpunan Pedagang Pasar (HPP) Kota Batu dan Forum Komunikasi Pedagang Pasar Batu (FKP2B). Dari pihak HPP memang mayoritas masih belum setuju pembangunan Pasar Batu. Mereka berharap pembangunan dibiayai APBD, agar harga kioasnya tidak selangit. Sementara FKP2B umumnya setuju terhadap rencana pembangunan pasar tersebut.
“Untuk pedagang sayur yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Pasar Sayur (P3S) menginduk di HPP Kota Batu, memang tidak menolak pembangunan tetapi belum ada titik temu terkait beberapa hal, utamanya harga kios yang ditawarkan,” terang Agus Salim kepada bhirawa, kemarin.
Pedagang yang tergabung dalam P3S berjumlah 100 pedagang yang ber-SK dan menempati bedak resmi di unit sayur. “Kalau mau dibangun dimana tempatnya, bentuk bangunannya seperti apa, harganya berapa, terjangkau atau tidak oleh pedagang ?,” ujar Agus Salim.
Menurutnya masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, hingga akhirnya belum ada titik temu. Pertemuan terakhir antara pedagang dengan PT Itqoni, pedagang ditunjukkan site plan-nya, kemudian PT Itqoni menawarkan harga sebesar Rp 10 hingga Rp 12 juta permeternya untuk bangunan semi permanen.
“Tarif ini kan sangat mahal, terus terang saja pedagang tidak mampu dengan harga segitu,” ujar Agus.
Pedagang berasumsi kengototan investor bertahan dengan harga setinggi itu menimbulkan prasangka buruk di kalangan pedagang. Hingga sempat muncul anggapan, Pemkot Batu sengaja mendelete (menghapus) pedagang Pasar Batu untuk digantikan dengan pedagang wisata.
Ditambahkan, pendataan pedagang sudah dilakukan oleh Diskoperindag 2 tahun yang lalu, saat ini sudah tidak ada aktifitas pendataan lagi. Karena itulah pedagang berharap Pemkot Batu tidak terburu-buru membangun, karena hingga saat ini belum ada titik temu terkait harga bedak, los atau pun toko.
Sementara itu pedagang unit sayur lainnya Sujianto mengatakan hal senada. Ia pun setuju saja pembangunan Pasar Batu dilaksanakan, hanya saja ia berharap pembangunan tersebut tidak memberatkannya. “Kalau dibangun memberatkan kita, jelas saya dan teman-teman tidak mau karena harga permeternya sangat tinggi. Sementara pasarnya sepi, sehingga saya khawatir nantinya tidak mampu mengangsur dan ujung-ujungnya akan ditendang dari pasar ini,” tegas Sujianto.
Kalau pembangunan dilakukan sementara harga permeternya sangat tinggi, pedagang khawatir tidak akan bisa membayarnya.
Dia berharap Pemkot Batu dan PT Itqoni bisa memasang tarif yang terjangkau oleh pedagang, sehingga mereka tidak perlu kebingungan untuk membayarnya. “Kalau harganya setinggi itu kan sama halnya dengan kios di mall. Ini kan pasar tradisional, ya jangan mahal-mahal,” tukasnya.
Berdasarkan pengamatan bhirawa, sepinya Pasar Batu sudah berlangsung sejak lama. Akibat sepinya pedagangan di pasar tersebut, sejumlah petani sayur dan juragan sayur (pedagang besar,red) memilih untuk melakukan transksi di Pasar Karangploso. Bahkan tidak sedikit juragan sayur yang melakukan pembelian langsung ke petani untuk kemudian dilakukan proses pembersihan dan pengepakan di gudangnya sebelum dikirim ke sejumlah daerah, seperti Surabaya dan Kalimantan. Untuk pengiriman ke pasar di Surabaya dan Malang umumnya menggunakan mobil pick up, sementara untuk pasar Kalimantan menggunakan truck.
Hal ini sebagaimana dituturkan Warnan, salah satu pengepul sayur mayur di desa Pandanrejo kecamatan Bumiaji. “Juragan sayur biasa membeli dengan cara ijon atau borongan dari petani. Karena borongan, maka petani tidak perlu menyiapkan tenaga untuk memanennya. Juragan sayur biasanya sudah memiliki karyawan untuk proses panen, pembersihan dan pengepakan hingga pengiriman ke pasar-pasar besar di luar kota Batu,” ungkap Warnan.
Juragan sayur umumnya enggan melakukan proses pengepakan di Pasar Sayur Batu karena kondisinya tidak representatif. Perdagangan sayur di pasar tersebut sepi, karena petani langsung menjual ke juragan sayur atau pengepul. Sementara untuk sayur mayur dari Pujon dan sekitarnya tertampung di Pasar Mantung Pujon.
“Sejak ada Pasar Mantung, kondisi Pasar Sayur Batu memang semakin sepi. Sebagian pedagang kecil malah memilih untuk melakukan transksi di pasar Karangploso, karena pedagang pasar dari Malang lebih memilih kulakan di pasar tersebut,” katanya.
Pasalnya, di pasar Karangploso areal parkirnya sangat luas. Proses transaksi dilakukan tanpa harus menurunkan sayur dari mobil. Setelah harga disepakati, maka baru dilakukan proses pemindahan ke mobil milik pembeli. “Jadi irit ongkos kuli maupun gudang. Transaksi jual beli cukup dilakukan di mobil pick up. Makanya pedagang pasar dari Malang, bahkan juragan sayur Batu memilih untuk kulakan di Pasar Karangploso,” tegasnya.
Oleh karena itu, Warnan meminta agar Pemkot Batu memiliki konsep yang jelas dalam pembangunan Pasar Sayur, apakah untuk ritel atau pasar kulakan. Sebab Pasar Sayur Batu tersebut dulunya memang untuk pusat kulakan, namun karena sarananya sudah tidak memadahi, maka akhirnya berubah jadi gudang dan ritel saja.
“Sama-sama ritel, kalau tujuannya memenuhi kebutuhan wisatawan, tentu konsepnya beda dengan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga,” tandasnya. [sup]

Keterangan Foto : Kondisi pasar yang kumuh tidak diminati wisatawan (supriyanto/bhirawa)

Rate this article!
Tags: