Pejabat-Mantan Patungan Atasi Kebutuhan Elpiji Dapur Umum Wonoasri Jember

Staf Ahli Bupati Widi Prasetyo bersama mantan Pejabat Pemkab Jember Achmad Sudiyono saat menyerahkan tabung gas elpiji 12,5 kg kepada koordinator Tagana Rudi Dwi Wanto di Dapur Umum Bencana di Desa Wonoasri Kec. Tempurejo, Minggu (17/1).

Jember, Bhirawa
Pejabat dan mantan pejabat Pemkab Jember atasi kekurangan gas elpiji di dapur umum bencana di Desa Wonoasri Kec Tempurejo.

Sedikitnya ada sembilan pejabat dan mantan pejabat yang ‘patungan’ untuk memenuhi kebutuhan gas elpiji yang sangat dibutuhkan Tagana.

Mereka adalah Sekretaris Daerah Mirfano, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Heru Eko Sunarso, Direktur RS dr. Subandi Hendro Soelistijono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Aris Maya Parahita, Kepala Dinas Koperasi UMKM M.Djamil, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Dedi Nurahmadi, Staf Ahli Bupati Widi Prasetyo, Direktur PDP Hariyanto Mantan Kepala Dinas Pendidikan Achmad Sudiyono.

“Kebutuhan gas elpiji merupakan kebutuhan dasar yang sangat urgen. Setelah mendapat kabar kalau kebutuhan gas cukup hari ini, kami berusaha mencarikan solusinya agar suplai kebutuhan makanan bagi masyarakat terdampak bencana tidak tersendat. Meski banjir telah surut, tapi masyarakat korban banjir masih membutuhkan pasokan bantuan makanan,” tandas Staf Ahli Bupati Widi Prasetyo didampingi matan pejabat Jember Achmad Sudiyono saat menyerahkan bantuan gas elpiji kepada koordinator Tagana di dapur umum desa Wonoasri Tempurejo Jember, Minggu (17/1)

Menurut Widi, bantuan yang dikumpulkan dari para pejabat dan mantan pejabat Pemkab secara urunan, dapat memenuhi kebutuhan hingga lima hari ke depan.” Walau kita sangat tahu, dan sadar Pemkab Jember belum bisa optimal karena belum adanya APBD 2021, dan insya Allah kebutuhan masyarakat terdampak banjir akan tercukupi,” ujar mantan Plt.BPBD dan Plt. Dinas Sosial Jember ini kemarin.

Selain kebutuhan gas elpiji, Widi juga mengaku ada beberapa kebutuhan pokok yang persediannya mulai menipis. Diantaranya bumbu masak (empon-empon), kertas pembungkus + karet, sayur dan lauk pauk. Sedang bantuan masyarakat yang hingga saat ini over kapasitas yakni pakaian layak pakai.” Disini peran humas harus ada. Keberadaan humas sangat penting untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat, terhadap kebutuhan yang dibutuhkan oleh korban terdampak bencana. Sehingga bantuan dari masyarakat tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan. Saya lihat tadi bantuan pakaian layak pakai sudah over kapasitas dan eman-eman, jika tidak dibutuhkan akan menjadi limbah” tandasnya.

Sementara mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Achmad Sudiyono juga mengaku terkejut ketika membaca pemberitaan kalau dapur umum di Desa Wonoasri krisis gas elpiji.” Setelah membaca pemberitaan, kami langsung berkomunikasi dengan Pak Widi (Staf Ahli Bupati) dan beberapa pejabat yang peduli untuk membantu kesulitan ini. Dan Alhamdulilah, dana yang terhimpun dapat membantu menyuplai 36 gas elpiji ukuran 12.5 kg. Saya kira ini tergantung komunikasi, tidak perlu bupati, yang lain bisa asal ada komunikasi,” kata Achmad Sudiyono yang juga Bupati LSM Lira di Jember.

Selain bantuan gas elpiji, Achmad Sudiyono juga memperhatikan kesehatan para Tagana dengan menyuplai makanan ringan, vitamin dan kopi bubuk rempah kesehatan ” Bikla” untuk meningkatkan imunitas.” Tagana ini relawan paling penting, jika relawan Tagana sakit, suplai makanan bagi korban bencana akan tersendat,” ujar Ketua gerbong perubahan dan Stokist kopi bubuk rempah dan jantan ” Bikla” di Jember.

Achmad juga berharap agar krisis elpiji di dapur umum kebencanaan tidak terjadi lagi ke depan. Pemkab Jember ini kata Achmad, merupakan kabupaten terbesar ke tiga di Jawa Timur dengan tingkat potensi bencana yang besar pula.” Jember memiliki anggaran yang cukup besar, tapi kali ini Jember merupakan satu-satunya kabupaten di Jawa Timur yang tidak memiliki anggaran (APBD), akibat sistem pengelolaan anggaran yang amburadul. Mudah-mudah dengan Bupati Jember yang baru nanti, persoalan ini tidak terulang lagi. Relawan yang kuat harus didukung dengan anggaran pemerintah yang kuat, bukan relawan dibantu oleh relawan,” pungkas Achmad tersenyum.

Koordinator Tagana Jember Rudi Dwi Wanto mengaku bersyukur dan terima kasih atas bantuan ini.” Ini menjadi solusi bagi kekhawatiran kami. Kekurangan gas mulai terjadi Sabtu 16/1 kemarin. Kabar terakhir dari dapur umum, Gas elpiji sisa 2 tabung masing-masing 12,5 kg. Sedang kebutuhan kami setiap hari sekitar 10 tabung untuk mempersiapkan makan korban bencana dan relawan untuk 3 kali makan per hari. Gas elpiji ini kebutuhan mendasar, kalau pasokan gas tersendat, bahan baku mau dimasak pakai apa,” ujar Rudi kemarin.

Menurut Rudi, dapur umum Tagana sudah dibuka sejak terjadinya banjir sepekan lalu. Awalnya kata Rudi, dapur umum ini dipusatkan di pusat pengendalian operasi Tagana di Kec.Kaliwates. ” Namun setelah banjir di Wonoasri semakin membesar, kita buka dapur umum di sini ( Desa Wonoasri) sejak dua hari lalu. Kita setiap hari menyediakan nasi bungkus minimal 2.500 hingga 3,000 bungkus untuk sekali makan. Sedangkan setiap hari, kita menyediakan makan pagi, siang dan malam,” ujarnya pula.(efi)

Tags: