Pelajaran Dari Dunia Mimpi

Judul : Respati
Penulis : Ragiel JP
Penerbit : Penerbit Clover Cetakan I, Maret 2021
Halaman : 248 halaman
ISBN : 978-623-0303-66-1
Peresensi : Alfa Anisa
Mencintai puisi, kereta api dan sunyi. Alumni mahasiswa ilmu komunikasi
Universitas Islam Balitar (UNISBA) dan santri di Ponpes Mabhajatul ‘Ubbad.

Bagaimana jika seorang remaja bisa melihat dan menjelajahi mimpi orang lain? Kecelakaan di masa lalu membuat remaja itu memiki kemampuan aneh yang tidak semua orang mendapatkannya. Tokoh itu bernama Respati, seorang remaja yatim piatu yang tinggal dengan kakek, nenek serta adiknya. Ia berusaha hidup mandiri dan dewasa sejak dini.

“Aku tidak tahu itu sebuah anugerah atau malah sebuah kutukan, tapi tidak banyak manusia di dunia ini yang dibekali bakat istimewa seperti dirimu.” (Hal 93)

Pada awalnya memiliki anugerah menjelajah mimpi membuat Respati mulai terbiasa dengan kemampuan aneh, hanya menyentuh kulit seseorang bisa masuk ke dalam mimpinya. Tapi, lambat laun perjalanan menjelajah mimpi mendatangkan masalah, semenjak kemunculan sosok berjubah hitam dan bertudung misterius memasuki mimpinya. Bahkan sosok misterius itu terlihat di dunia nyata, membuat Respati mulai merasakan ada tanda bahaya sedang mengancamnya.

Terlebih semenjak berita tentang mayat tergantung terbalik dan motif pembunuhan yang seolah disembunyikan semakin ditutupi oleh berbagai saksi. Dalam mimpi Tirta, Pak Samsul dan seorang gelandangan, Respati melihat ada sosok mayat yang digantung terbalik, membuatnya sering ketakutan.

Novel ini memiliki porsi unsur fantasi dan misteri yang tidak berlebihan. Ada keseimbangan antara sisi remaja seorang Respati ketika sekolah, nongkrong, atau kerja paruh waktu yang terkadang diselingi misteri mimpi dan bisa membaur sehingga menciptakan alur cerita yang sinkron. Novel ini mengambil latar Yogyakarta, semakin menguatkan sisi unsur fantasi lokal. Pembaca diajak memecahkan teka-teki pelaku dari mayat yang digantung terbalik, sehingga alur cerita terlihat mengalir. Ada sisi romantisme remaja dalam novel ini, ketika diam-diam Respati yang ingin melihat mimpi Wulan-murid baru, tapi ternyata tidak bisa. Lambat laun Respati semakin penasaran, siapa sebenarnya sosok Wulan yang mimpinya tidak bisa dimasuki.

Tapi, segala sesuatu selalu mempunyai sisi gelap, begitu juga dengan dunia mimpi. Ada efek negatif bila kita terlalu sering dan terobsesi dengan dunia mimpi. Kita akan terlalu terlena dengan kehidupan di dunia mimpi dan berimbas pada kehidupan di dunia nyata.” (Hal 204)

Teror dalam mimpi semakin mengancam Respati, terlebih ketika sosok itu berencana mencelakai orang-orang terdekatnya. Ia harus menjadi lebih kuat, melatih kemampuan mengendalikan mimpi, untuk melawan sosok berjubah hitam yang misterius. Pada latihan mengendalikan mimpi, Respati melihat seorang anak yang koma karena penyakit. Ia melihat anak itu terlalu nyaman dalam dunia mimpi, karena di dunia tersebut ia merasa menjadi anak yang sehat dan bahagia. Respati mencoba menyadarkan anak itu, bahwa ada yang selalu merindukannya di dunia nyata, dan berharap segera terbangun dari koma.

Novel ini dikemas dengan ringan dengan gaya bahasa yang sederhana, sehingga pembaca bisa merasakan konflik yang dikemas rapi. Alur dan plot ringan dengan konflik sederhana tapi menimbulkan klimaks yang tak terduga. Penggunaan Bahasa Jawa menjadi nilai tambah, dan beberapa lokalitas Yogyakarta membuat pembaca mendalami setting yang sedang terjadi.

Novel ini mengingatkan pembaca bahwa jangan menuduh seseorang tanpa bukti dan mempercayai seseorang yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan kita. Selalu waspada dan berhati-hati, karena tidak ada yang tahu apa yang orang lain sedang pikirkan tentang kehidupan kita.

——— *** ———-

Rate this article!
Tags: