Pelaksanaan ORI di Provinsi Jawa Timur Tercatat 95,4 Persen

Pelaksanaan imunisasi difteri sangat penting bagi anak-anak untuk mencegah dari serangan penyakit, Selasa (9/10).[tauriq/bhirawa]

Surabaya, Bhirawa
Total cakupan pelaksanaan Outbreak Response Imuniation (ORI) Difteri putaran ke dua di Jatim yang selesai akhir bulan lalu telah tercatat 95,49%. Dengan angka tersebut memang sudah mencapai angka minimal untuk mendapatkan kekebalan kolektif.
Namun sayangnya capaian bagus tersebut belum dirasakan merata sebab masih ada beberapa kota atau kabupaten yang cakupannya jauh di bawah 95%, seperti Pamekasan 74,56%, Situbondo 79,80%, Bangkalan 78,33% dan Sumenep 86,63%.
Kepala Perwakilan Unicef di Pulau Jawa Arie Rukmantara menjelaskan imunisasi merupakan hak setiap anak untuk bisa menjaga kesehatannya. Bahkan imunisasi disebut sebagai benteng paling kuat bagi anak-anak untuk mencegah serangan penyakit.
“Pada 2017 perhatian masyarakat di Indonesia dikagetkan dengan adanya 954 kasus difteri yang terjadi di 170 kabupaten/kota di 30 provinsi. Dari jumlah kasus itu, sebanyak 44 orang di antaranya meninggal dunia,” terangnya, Selasa (9/10).
Arie menambahkan angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) adalah 4,6% yang berarti dari 100 orang yang menderita penyakit difteri terdapat 4-5 penderita yang meninggal. Angka CFR nasional ini lebih rendah dari data angka CFR global yang dirilis WHO yaitu sekitar 5-10%.
Jadi suatu wilayah dikatakan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri apabila ditemukan minimal satu kasus terduga difteri. Dengan terjadinya KLB difteri di berbagai daerah maka harus segera dilakukan Outbreak Response Immunization (ORI).
Jatim pun akhirnya mengalami KLB karena banyaknya warga yang terdeteksi terkena difteri dan sudah ada 16 korban meninggal dunia. “Jadi kita membutuhkan kekebalan kelompok yang bisa menangkal difteri. Cakupan imunisasi difteri harus bisa ditingkatkan untuk proteksi di berbagai kabupaten/kota di Jatim,” ujarnya.
Kepala Seksi Survelen dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jawa Timur Gito Hartono mengatakan Jatim memang sudah sesuai target minimal yakni 95%, tapi memang tidak merata. Jadi tidak sedikit dari sasaran imunisasi difteri yang bersekolah di luar kota/kabupaten tempat tinggalnya.
“Karena bersekolahnya lintas kota atau kabupaten, akhirnya mereka tersedot di kota atau kabupaten lain. Itu tidak apa-apa yang penting mereka terimunisasi. Dan untuk memastikan sasaran yang dituju telah mendapatkan imunisasi, Dinas Kesehatan mengadakan survey Rapid Convenience Assesment (RCA) guna memastikan tidak ada anak yang tertinggal,” jelasnya.
Selain itu, dengan adanya isu haram vaksin MR (Measles Rubella) di beberapa provinsi di luar Pulau Jawa juga berimbas pada pelaksanaan imunisasi difteri di Jatim. Karena itu sosialisasi dan pendekatan kepada ulama dan masyarakat terus gencar dilakukan. [riq]

Tags: