Pelanggar Prokes di Kota Probolinggo Didenda dan Tes Rapid Antigen

Razia yustisi protokol kesehatan gencar dilakukan di Kota Probolinggo.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Tempat Isolasi Covid Rusunawa Mayangan Overload
Kota Probolinggo, Bhirawa
Makin banyaknya pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Probolinggo, ternyata sempat membuat Rusunawa Mayangan, yang menjadi tempat isolasi overload. Bahkan, ruang isolasi yang disediakan RSUD dr. Mohamad Saleh Kota Probolinggo, juga hampir penuh. Karnanya pemkota gencar melaksanakan operasi yustisi, pelanggar prokes di Kota Probolinggo didenda dan tes rapid antigen.

Kabar ini sempat beredar luas di masyarakat. Termasuk di media sosial Facebook. Sebuah akun media sosial itu menginformasikan, jika pasien yang dirawat di Rusunawa mencapai 271 orang.

“Rusunawa penuh hari ini. Demikian juga dengan RSUD, sudah hampir terisi semua ruang iso Covid-nya,” tulisnya.

Karenanya, pemilik akun meminta kepada semua warga untuk menaati protokol kesehatan. Serta, saling mengingatkan bila ada teman, keluarga, dan masyarakat jika tidak mentaati protokol kesehatan.

“Bila yang dirawat terus meningkat, tentunya jika ada yang membutuhkan perawatan iso Covid akan dirujuk ke Surabaya atau Malang. Mohon bantuan bapak ibu untuk saling mengingatkan pentingnya protokol kesehatan,” lanjutnya.

Informasi ini dibenarkan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Probolinggo, Nurul Hasanah Hidayati, Rabu (23/12).

“Kondisi kemarin (20/12) memang seperti itu. Kalau sekarang ini pasiennya ada yang keluar masuk. Sampai sekarang Puskesmas Wonoasih, masih belum digunakan,” ujarnya.

Puskesmas Wonaosih, menjadi salah satu alternatif jika ruang isolasi di Rusunawa Mayangan, penuh dengan pasien positif Covid-19 asimtomatik dan gejala ringan. Sedangkan, bagi pasien Covid-19 dengan gejala sedang dan berat dirawat di RSUD dr. Mohamad Saleh.

Diketahui, pasien positif Covid-19, di Kota Probolinggo, masih terus bermunculan. Sampai kemarin, tercatat ada 1.248 pasien. Dari jumlah itu, 919 dinyatakan sembuh; 241 menjalani perawatan; dan 88 pasien meninggal dunia.

Untuk itu pulalah maka gencar dilakukan operasi yustisi, penerapan rapid antigen kepada pelanggar protokol kesehatan di Kota Probolinggo, tidak menghapus sanksi denda dalam operasi yustisi. Bahkan, bagi orang dewasa yang melanggar protokol kesehatan, mendapat dua sanksi sekaligus; denda dan di-rapid antigen.

“Tetap jalan sanksi denda untuk pelanggaran protokol kesehatan. Selain juga para pelanggar ini wajib mengikuti rapid antigen,” ujar Kepala Satpol PP Kota Probolinggo, Agus Efendi.

Sanksi ini berlaku bagi pelanggar protokol kesehan yang berusia di atas 18 tahun. Bagi yang berusia di bawah 18 tahun hanya diterapkan rapid antigen.

“Sebelumnya bagi yang di bawah usia 18 tahun sanksinya adalah sanksi sosial. Misalnya, dengan cara bersih-bersih atau melafalkan Pancasila, sekarang langsung di-rapid antigen,” terangnya.

Penerapan sanksi rapid antigen telah dilakukan melalui operasi yustisi di Bundaran Gladak Serang, di Jalan dr. Soetomo dan di beberapa tempat lainnya. Dalam operasi itu, setidaknya ada rata-rata 47 orang yang terjaring dan di-rapid antigen.

“Jika ada temuan warga yang reaktif, tindak lanjutnya dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Bagi warga luar Kota Probolinggo, Dinas Kesehatan yang menghubungi untuk penanganannya. Kemarin, yang satu orang positif itu warga Kabupaten Probolinggo,” ujar Agus.

Selain itu, pembatasan aktivitas dengan memberlakukan jam malam untuk tempat usaha mulai diberlakukan, sejak Senin (21/12) di Kota Probolinggo. Beberapa tempat usaha bahkan telah menjalankan aturan itu.

Beberapa pertokoan seperti Togamas, KDS, Sinar Terang dan GM telah menutup usaha sejak pukul 20.00. Pertokoan ini mengikuti aturan sesuai SE Nomor 066/5647/425.106/2020 tentang Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease Covid-19.

“Sebenarnya sudah mulai diberlakukan sejak Sabtu (19/12). Tapi karena masyarakat telanjur ada yang berbelanja, masih ditoleransi dan Senin malam berlaku full,” ujarnya. Sejumlah pelaku usaha saat dikonfirmasi mengaku bisa memahami kondisi yang masih pandemi Covid-19. Walaupun, memang pasti berdampak pada kegiatan bisnisnya.

“Saya paham alasan pemerintah membatasi jam malam. Namun, saya bingung mengapa dibatasi sampai jam 20.00. Apakah Covid-19 akan menular hanya setelah pukul 20.00, sedangkan sebelumnya tidak,” ujar Aditya, pemilik sebuah kafe di Kota Probolinggo.

Aditya mengatakan, usahanya pasti terdampak dengan kebijakan ini. Pemerintah meminta agar usaha membuka kegiatannya saat siang hari. Padahal, kedai kopi miliknya justru ramai saat malam hari.

Menurutnya, Siang hari sepi, karena itu jam kerja pegawai. Memang ada yang datang tapi kebanyakan konsumen datang ngopi malam karena santai. “Pemkot menyarankan takeaway, ya kami melayani juga. Tapi ini beda dengan restoran, orang datang ke sini mencari nongkrongnya. Jadi percuma kalau takeaway atau delivery order,” terangnya.

Aditya juga menyarankan agar petugas menegur pemilik tempat usaha saat menemukan pelanggaran protokol kesehatan oleh pengunjung di tempat usaha. Seperti di kafe atau restoran.

“Kurang etis kalau memarahi pengunjung, karena pengunjung ini tamu. Lebih baik sampaikan kepada pengelola. Biar pengelola yang mengingatkan,” tambahnya.(Wap)

Tags: