Pelestarian Kesenian Reyog menuju Masyarakat Ponorogo yang Modern

(Sebuah Tinjauan Teori Kritis Modernitas Giddens)

Oleh
Fahyuni Baharuddin
Mahasiswa Doktoral Sosiologi
Universitas Muhammadiyah Malang

Sebagaimana yang disampaikan oleh Profesor Oman Sukmana, bahwa pembahasan tentang pelestarian budaya pada konteks masyarakat modern saat ini sangat menarik dibahas. Terutama kaitan dengan budaya Reyog Ponorogo yang wajib dilestarikan dimana budaya ini telah mendunia.
Kesenian sebagai karya atau hasil simbolisasi manusia adalah sesuatu yang misterius. Namun demikian, secara universal jika berbicara masalah kesenian, biasanya orang akan langsung terimaginasi dengan istilah indah. Kata seni berasal dari kata “sani” dalam bahasa Sansekerta yang berarti pemujaan, pelayanan, permintaan dengan hormat dan jujur. Reyog Ponorogo sebagai hasil karya seni yang merupakan sistem komunikasi dari bentuk dan isi. Bentuk yang berupa realitas gerak, musik, busana, property, dan peralatan (ubarampen). Namun, isi yang berupa tujuan, harapan, dan cita-cita adalah komunikasi maya yang hanya dapat dipahami oleh masyarakat pendukung budayanya. Hal itu disebabkan simbol-simbol hanya dimengerti atau disepakati oleh masyarakat setempat pendukung budayanya. Simbol-simbol yang disampaikan melalui komunikasi maya disebut struktur batin.
Penampilan kesenian Reyog saat ini sekarang tidaklah bisa dikatakan sepenuhnya sebagai bentuk kesenian tradisional. Meskipun pada awalnya adalah sebagai jenis kesenian rakyat tradisional yang berfungsi sebagai alat penggerak masa, ritual untuk meminta diberikan keselamatan dan sebagainya dengan disertainya perlengkapan berupa seperangkat gamelan jawa dan tarian seadanya, namun pada masa sekarang ciri tersebut sudah beralih menjadi kesenian yang mengalami masa transisi dimana kesenian Reyog tetap menjaga unsur tradisional namun juga memadukan unsur modern. Reyog Ponorogo dalam keseharianya dapat ditampilkan dalam berbagai acara misalnya acara hajatan, hal ini merupakan sudah menjadi tradisi yang sudah lama dilakukan di dalam masyarakat Kabupaten Ponorogo. Penyelenggaraan seni Reyog Ponorogo dalam setiap acara hajatan sampai difestivalkan menimbulkan implikasi bahwa seni Reyog merupakan kesenian budaya yang tetap dijaga dan berkembang di Kabupaten Ponorogo dari dulu sampai sekarang.
Kesenian Reyog mempunyai beraneka ragam bentuk sajian seni dalam bentuk lima versi namun hanya dua versi besar yang berada di ponorogo saat ini. Menurut penuturan dari salah satu seniman Reyog ponorogo bahwa beranekaragaman aliran dalam kesenian Reyog tersebut dikarenakan kesenian tradisional ini sanggat lentur terhadap perubahan zaman. Kelenturan Reyog terhadap perubahan zaman tersebut lebih dikarenakan jenis kesenian tradisional ini baik dalam hal penampilan maupun struktur kelembagaan yang ada di dalamnya selalu menuruti permintaan pasar. Pasar disini yang dimaksutkan adalah masyarakat umum yang ada di Kabupaten Ponorogo yaitu tempat dimana para praktisi Reyog berasal dan kemudian beratraksi dalam jenis tarian dan selanjutnya juga dipersembahkan kepada masyarakat kembali.
Melestarikan warisan budaya telah menjadi tugas anak cucu yang diwarisinya. Banyak cara telah dilakukan untuk melestarikan warisan itu agar tidak hilang tergilas kemajuan jaman dan tergulung modernisasi. Modern dapat diartikan sebagai pembaruan. Artinya, modern adalah meninggalkan gaya atau tren lama yang berganti dengan tren yang baru, seperti gaya modern, lagu modern, serta teknologi modern. Modernisasi bukanlah sesuatu hal yang asing di telinga masyarakat Indonesia, kata modernisasi ini tidak hanya digunakan oleh penduduk urban saja tetapi sudah menjalar kepelosok penjuru dari negara Indonesia. Semarak modernisasi sudah menjalar ini membuat pemuda-pemuda bangsa lupa dan dapat menghilangkan jati diri bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan para pemuda bangsa yang lebih menyukai gaya hidup dari negara-negara lain dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Modernisasi sangat memberi pengaruh besar dalam proses perkembangan budaya-budaya asli Indonesia, tentu akan ada dampak positif dan negatifnya. Dengan adanya proses modernisasi akan dapat memberi pengetahuan kepada pemuda Indonesia dengan mengenal dan mengetahui budaya-budaya luar Indonesia. Tetapi ini akan sangat fatal sekali, apabila pemuda Indonesia tidak hanya mengenal tetapi mereka menerapkan kebudayaan luar tersebut ke dalam negeri tanpa adanya proses penyaringan budaya.
Pembahasan masyarakat modern, banyak di bahas oleh salah satu tokoh dalam teori Sosiologi yaitu Anthony Giddens. Modernitas menurut Giddens, berhubungan dengan ruang dan waktu. Gejala masyarakat modern saat ini bisa dilihat dari kemampuan peradaban manusia untuk “mencabut” waktu dari ruang. Contoh sederhananya: dulu, sebelum sarana transportasi berkembang, masyarakat bisa membutuhkan waktu berhari-hari untuk melakukan perjalanan menuju suatu tempat. Tapi sekarang, di era trasportasi yang sudah berkembang pesat penemuan kereta super cepat, ojek helikopter, dan lainya- waktu yang ditempuh manusia untuk menempuh perjalanan menuju suatu tempat bisa ditempuh hanya dalam beberapa jam bahkan menit. Gerak laju modernitas semakin kencang ketika sistem kapitalisme mulai tumbuh subur. Salah satu indikasinya bisa dilihat dari mulai menjamurnya perusahaan transportasi berbasis online. Banyak perusahaan-perusahaan transportasi berbasis online berlomba memberikan penawaran menarik; mulai dari potongan harga, sampai sarana transportasi yang ditawarkan. Gejala modernitas menurut Giddens, bukan hanya berkutat dalam hal tranportasi. Selain sistem kapitalisme, ada motor pendorong lainya dalam laju modernitas menurut Giddens: indutrialisme (pembagian kerja), militer, dan sistem negara-bangsa. Selain terkenal dengan pemikiranya tentang modernitas, Sosiolog dan Rektor London School of Economics and Political Science ini juga kritis terhadap ilmu sosial. “Saya ingin melakukan tiga hal, yaitu menafsir ulang pemikiran sosial, membangun kembali logika serta metode ilmu-ilmu sosial, dan mengajukan analisis tentang munculnya lembaga-lembaga modern,”. Ada kekhawatiran dari Giddens soal dikotomi antara individu dan sistem yang kerap ditemui dalam teori-teori sosial yang sudah mapan, salah satu contohnya pemikiran Emile Durkheim, salah satu sosiolog yang teorinya sering dijadikan rujukan. Paradigma fakta sosial yang erat dengan Durkheim sering meminggirkan peran individu dalam sutruktur masyarakat. Singkatnya, menurut Durkheim individu tidak lebih dari wayang dan sistem/struktur adalah dalangnya. Dikotomi Durkheim inilah, dan pemikir sosial lain yang sejalan dengan Durkheim, yang ditentang oleh Giddens. Giddens menyatakan bahwa teori sosial yang mendikotomikan atau dalam bahasa Giddens mengusung dualisme dalam mengkaji perilaku sosial, kurang melihat bahwa kedua unsur pembentuk masyarakat, yaitu individu dan struktur, saling membutuhkan satu sama lain, dan menjalin hubungan secara berkesinambungan. Ada satu pernyataan unik dari Giddens : apakah agen/individu tahu dan sadar akan posisinya dalam struktur masyarakat? Ataukah kita hanya sebuah wayang sementara struktur adalah dalangnya?
Pelestarian budaya pada idealnya dapat dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja. Sinergitas kerja dan penguatan rasa memiliki budaya tersebut pun juga harus terus di pupuk agar api semangat yang ada akan terus terjaga dan tidak padam. Kemudian hal lain yang tidak kalah penting lagi adalah pahamnya masyarakat Ponorogo akan kesenian Reyog. Sebab dengan meleknya masyarakat akan kesenian Reyog akan berdampak pada rasa memilikinya. Selanjutnya, peran para pekerja informasi termasuk pustakawan dan perpustakaan harus lebih terlihat dalam memberikan edukasi dan meliterate-kan masyarakat mengenai budaya tersebut. Serta terus menyebarkan pengetahuan mengenai budaya tersebut melalui berbagai macam media informasi yang ada di perpustakaan. Jika hal tersebut bisa terus dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, maka lestarinya warisan budaya bukan hanya menjadi sebuah harapan. Namun telah menjadi kenyataan.
Berdasarkan pandangan teori modernitas dari Giddens, maka strategi pelestarian Reyog Ponorogo semakin terasa di berbagai penjuru kabupaten yang dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat. Mulai dari seniman Reyog dan para pemuda (sebagai individu), elemen masyarakat dan juga pemerintah dari level terbawah hingga tertinggi yang ada di Ponorogo (sebagai struktur). Bentuk pelestarian yang dilakukanpun menyesuaikan dengan kemampuan mereka. Adapun beberapa upaya yang dilakukan antara lain adalah sebagai berikut: 1. Dukungan pemerintah dimulai dari ligkungan RT hingga lingkungan pemerintah kabupaten terlibat secara aktif dalam pelestarian ini. Mereka menggunakan pendekatan yang berbeda, menyesuaikan kondisi daerahnya. Contohnya pertemuan dengan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah desa mulai untuk membahas mengenai seni Reyog serta mengagendakan latihan secara rutin. Latihan pun dilakukan secara mandiri dan mengundang seniman dari daerah lain untuk memperkaya wawasan mengenai perkembangan Reyog sampai saat ini. Selanjutnya warga dan pelaku seni membuat kaos identitas dengan nama kelompok seni Reyog mereka. Hal ini dilakukan dengan maksud agar siapa saja yang melihat kaos itu bisa tahu bahwa kesenian Reyog tidak hilang / punah di bumi Ponorogo. Geliat dan semangat dari pemeritah di level terbawah terjadi bukan dilatar belakangi feodalisme belaka sebagai warga Ponorogo. Namun rangsangan dari pemerintah kabupeten pun harus diapresiasi secara tinggi. Secara rutin di setiap bulannya ( malam bulan purnama ), pemkab melakukan pertunjukan Reyog di panggung utama aloo-aloon Ponorogo yang mana peserta atau penampilnya berasal dari utusan desa yang masuk di wilayah Kabupaten Ponorogo. Selain itu, gelaran akbar juga rutin dilakukan oleh pemerintah kabupaten setiap tahunnya. Bahkan level gelaran tersebut sudah merambah ke nasional, yang kemudian dikenal sebgai Festival Reyog Nasional (FRN). Gelaran ini menjadi hajatan yang menghibur sekalgus mengedukasi masyarakat dan penikmat pertunjukkan Reyog. Karena peserta yang datang berasal dari berbagai penjuru nusantara dengan menampilkan kreasi yang berbeda. Selain itu pemberian narasi singkat di setiap awal pertunjukkan juga perlu di apresiasi karena melalui kegiatan itu, pemkab telah berusaha untuk menginformasikan masyarakat / penikmat Reyog mengenai sejarah Reyog yang sebenarnya. Mengingat ditemukan berbagai versi mengenai sejarah terbentuknya keseian Reyog Ponorogo ini. 2. Dukungan Institusi Pendidikan , yaitu dimasukkannya pelajaran Reyog sebagai mata pelajaran muatan lokal atau ekstrakurikuler wajib telah memberikan dampak perubahan dalam upaya pelestariannya. Karena secara langsung para generasi muda / pelajar bisa mengetahui dan memahami mengenai kesenian Reyog serta berinteraksi secara langsung. 3. Pelestarian Reyog oleh seniman Reyog di Ponorogo. Seniman atau pekerja seni adalah orang yang secara sadar dan rela melakukan sebuah olah dan cipta rasa akan sebuah objek. Begitu pula seniman Reyog. Mereka adalah kelompok manusia yang secara rela dan sadar melakukan upaya atau kegiatan olah rasa kesenian Reyog agar terlihat bagus dan bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Berbagai model pelestarian yang telah dilakukan di Ponorogo tersebut telah memberikan harapan besar akan terjaganya seni Reyog dari kepunahan. Namun bukan berarti kita bisa tenang dan mengabaikan semuanya. Dukungan yang telah didapat dan semangat tersebut harus selalu dijaga dan terus ditingkatkan agar pelestarian Reyog Ponororgo tidak punah.

—– *** —–

Tags: