Pemanfaatan Sumber Air Jombok Memanas

Suasana memanas di halaman Balai Kota Batu terjadi saat perang argumen antara warga yang pro maupun kontra dalam pembangunan mata air Jombok, Selasa (17/11).

Kota Batu, Bhirawa
Sekelompok warga dari Desa Sumberejo menolak pembangunan kolam wisata yang dinilai akan mengganggu keberadaan mata air Jombok yang ada di desa tersebut. Warga yang menolak ini mendapat dukungan Malang Corruption Watch (MCW) yang menganggap pembangunan di kawasan mata air tersebut cacat prosedur dan ilegal.
Didampingi MCW, warga yang kontra pembangunan menyampaikan paparan temuannya di halaman Balaikota Batu, Selasa (17/11). Namun paparan mereka mendapatkan sergahan dari sesama warga Desa Sumberejo yang pro pembangunan dan tiba- tiba juga hadir di balaikota. Akibatnya, suasana Balaikota Batu sempat memanas dan berujung pada mediasi.
Paparan pelanggaran pemanfaatan mata air Jombok ini awalnya disampaikan MCW. Dikatakan juru bicaranya, Raymond Tobing bahwa pembangunan kolam wisata di area mata air Njombok dinilai cacat prosedural. Karena pembangunan dilaksanakan tanpa didahului dengan pengurusan perijinan.
“Artinya, sebelum mengurus izin sudah dilakukan pembangunan kolam wisata. Dengan kata lain pembangunan yang dilakukan adalah cacat hukum dan tidak memiliki legalitas,”ujar Raymond, Selasa (17/11).
MCW mengindikasikan adanya ‘kebiasaan nakal’ dalam pengembangan sumber air Jombok. Yaitu, bangun dulu izin kemudian. “Dan pola ini yang paling sering digunakan oleh Pemkot Batu dalam memberi kompensasi kepada pengusaha,”tambah Raymond.
Adanya indikasi ini menginisiasi MCW untuk melakukan audensi dengan dinas terkat. Dalam hal ini Dinas Lngkungan Hidup (DLH), DPMPTSP selaku dinas perijinan, dan Bagian Hukum.
Namun permintaan ini tidak mendapatkan respon pemkot sehingga MCW bersama warga Desa Sumberejo kontra pembangunan yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Sumberejo (AMS) membawa masalah ini ke balai kota.
“Dilakukannya pembangunan permanen di kawasan mata air Jombok ini telah mengurangi debit air yang keluar dari mata air Njombok. Karena itu warga merasa dirugikan,”ujar warga desa Sumbereji dari AMS, Mukiyar.
Tiba- tiba pernyataan Mukiyar ini mendapatkan sergahan warga Desa Sumberejo yang pro pembangunan di sumber mata air. Sekitar seratus warga yang pro pembangunan ini tiba- tiba muncul di halaman balaikota dan akhirnya muncul perang argumen antar kelompok pro dan kontra ini.
“Kamu ini berbicara mengatas namakan warga, tapi warga yang mana?. Kami merasa diuntungkan dengan adanya pembangunan di mata air Jombok ini,”sergah warga yang pro pembangunan.
Warga yang pro ini memiliki alasan faktor ekonomi dan kesejahteraan terhadap hadirnya tempat wisata Sumber Jombok. Mereka beranggapan tempat wisata dapat mendorong perekonomian masyarakat sehingga terwujud kesejahteraan.
Adanya perang argumen antara warga pro dan warga kontra ini membuat suasana terus memanas. Akhirnya dilakukan mediasi antara dua kelompok yang dilakukan di ruang rapat DPMPTSP Batu.
Usai mediasi, Kasie Pelayanan Pemerintag Desa Sumberejo, Sukendri menjelaskan kalau bangunan kolam wisata yangada di mata air Jombok memang belum memiliki izin. Dan saat ini, izin masih dalam proses pengurusan. Tidak adanya izin tersebut karena ketidak tahuan warga yang membangun tempat wisata.
“Kalau setahu saya belum ada izinnya karena kembali lagi bahwa kemarin itu yang membangun adalah warga sehingga sebagian tidak paham tentang perizinan. Yang kami sayangkan kemarin itu, kenapa yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Sumberejo tidak mau berkoordinasi dengan warga sekitar?” ujar Sukendri.
Dengan adanya pro dan kontra ini, Pemerintah Desa Sumberejo juga telah mengeluarkan surat yang memerintahkan agar kegiatan di tempat wisata Jombok untuk dihentikan sementara. Penutupan ini juga menindak lanjuti hasil kordinasi dengan tiga dinas terkait. [nas]

Rate this article!
Tags: