Pembelajaran Pasca PJJ

Oleh:
Edi Sutomo
Staf Pengajar MAN 2 Kota Malang

Kondisi Pandemi covid-19 yang resmi dinyatakan oleh Badan Kesehatan Dunia WHO pada tanggal 12 Maret 2020 telah mengubah banyak tatanan kehidupan manusia. Selain mengancam kesehatan manusia dengan model penularannya yang masif, namun juga mengguncang aspek pendidikan. Praktis sejak 16 Maret 2020 diberlakukanPembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sehingga turut mengubah jalannya proses pendidikan. Sederet perubahan yang dialami patut ditelaah kembali dan kinilah saatnya kita mengubah beberapa roadmap pendidikan di Indonesia yang lebih “kompatible” dengan berbagai perubahan yang ada.

Pelajaran apa yang didapat dari pelaksanaan pembelajaran selama ini untuk dijadikan modal memasuki sebuah era baru. Paradigma apa yang perlu kita bangun untuk melaksanakan pembelajaran di masa depan. Ini perlu dijadikan diskursus bersama. Saat ini kalender pendidikan di Indonesia sudah masuk ke tahun ajaran 2022/2023 sehingga perlu ada evaluasi terkait proses yang telah dijalankan selama ini. Perlu ada komunikasi dan dialog antara pihak sekolah, orang tua termasuk siswa untuk megevaluasi pelaksanaan pembelajaran selama ini. Proses pembelajaran yang dilaksanakan dimasa pandemi secara tidak langsung telah mengembalikan salah satu aspek pendidikan pada hal yang esensial mempersiapkan anak menjadi pemelajar yang lebih mandiri. Terlepas dari kondisi yang ada, kita perlu menatap hal ini sebagai sebuah batu loncatan untuk memperbaiki berbagai kondisi pendidikan yang selama ini banyak kekurangan.

Penurunan Capaian Pembelajaran
Kita semua tentu ingat saat pelaksanaan PJJ selama pandemi Covid-19 banyak keluhan dialami oleh guru. Mulai dari jam belajar mengajar berkurang, materi pelajaran tidak tersampaikan dengan baik, dan sulitnya mengajar materi yang bersifat praktikum, sehingga hal ini menimbulkan paradigma bahwa masa pandemi pendidikan dilaksanakan sekedarnya. Dalam hal ini muncul istilah learning loss yang dipahami sebagai bentuk penurunan daya kemampuan siswa akibat adanya pandemi Covid-19. Berdasarkan konsep, learning loss sendiri sebenarnya dapat terjadi karena beberapa hal semisal liburan sekolah, tidak masuk sekolah, pengajaran yang tidak efektif hingga putus sekolah. Sedangkan di luar negeri, konsep learning loss ini adalah suatu kondisi hilangnya atau menurunnya pengetahuan dan keterampilan siswa yang disebabkan oleh kekurangan atau terputus secara berkelanjutan dalam pendidikan.

Jadi, apakah ada solusi untuk mengatasi learning loss ini?

Perlu ada assesmen diagnostik sebelum memulai pembelajaran. Ibarat seorang dokter sebelum memvonis penyakit dan memberikan penanganan yang benar bagi pasien ia harus mengecek seluruh gejala dan kondisi pasien. Begitu juga dalam pembelajaran, sebelum memulai pembelajaran guru perlu melakukan assesmen diagnostik yang kontennya berupa kompetensi pada jenjang sebelumnya atau materi prasayarat untuk menempuh kompetensi saat ini. Hal ini dirasa perlu agar guru mengerti dimana letak learning loss yang dialami siswasehingga bisa dijadikan acuan guru dalam mengambil keputusan melaksanakan pembelajaran pasca PJJ. Selanjutnya perlu adanya penyesuaian atau diferensiasi kurikulum bagi setiap sekolah. Guru perlu memetakan target ulang dan capaian kurikulum yang disesuaikan dengan kondisi anak pasca PJJ. Pada tataran ini, sudah seharusnya siswadan guru tidak dibebankan pada kurikulum ‘normal’ yang tertuang dalam kompetensi dasar tanpa penyesuaian dengan kondisi nyata di sekolah.Konsep learning loss ini bukan hanya terfokus pada unsur teknologi informasi, melainkan juga membutuhkan penataan ulang kurikulum yang selaras dengan kondisi pada saat ini. Sekolah juga seharusnya lebih membuat siswa lebih siap menghadapi kebebasan dalam mencari ilmu pengetahuan alih-alih hanya mengejar target tugas dan nilai.

Penurunan kesehatan mental anak-anak
Implementasi PJJ ini tentunya berdampak signifikan pada kesehatan mental para siswa meskipun dengan derajat yang bervariasi. Persoalan kesehatan mental yang cukup tampak di masa pandemi ini adalah stres, kecemasan, bahkan depresi. Bagi siswa, stres dan kecemasan dipengaruhi oleh perubahan proses pembelajaran dan kehidupan sehari-hari. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) melakukan survei mengenai kesehatan mental melalui swaperiksa yang dilakukan secara daring melalui website http://pdskji.org/home. Hasil swaperiksa yang dilakukan kepada 14.988 responden (75,8% perempuan dan 24,2% laki-laki) selama 2 tahun (maret 2020-maret 2022) menunjukkan sebanyak 75% responden mengalami masalah psikologis dengan komposisi 71,7% mengalami cemas; 72,9% mengalami depresi, dan 84% mengalami trauma. Masalah psikologis ditemukan pada kelompok usia kurang dari 20 tahun sebanyak 18%, artinya ini masuk pada usia sekolah.

Penyediaan layanan dukungan sosial yang memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui sekolah merupakan hal strategis yang perlu diperkuat pada pasca PJJ ini. Dengan adanya penyediaan layanan konseling, baik melalui internal sekolah maupun kerjasama dengan lembaga yang berkompeten diharapkan mampu mendiagnosa beberapa persoalan kesehatan mental siswa sehingga mampu memberikan solusi yang tepat. Hal ini dirasa sangat penting karena sebagai pihak yang melaksanakan proses pembelajaran, sekolah perlu memperhatikan kondisi para siswanya tidak hanya pada kualitas kemajuan akademik. Akan tetapi, hal yang lebih penting adalah memberikan perhatian lebih atas kondisi kesehatan mental anak, dan hal lain terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh anak dalam proses pembelajaran.

Ketergantungan anak yang tinggi terhadap gawai
Penggunaan gadget pada pelaksanaan PJJ menjadi sebuah keniscayaan. Terbatasnya interaksi fisik mengharuskan komunikasi warga sekolah terpusat pada gawai. Sebagaimana ketahui, penggunaan gawai seperti mata pisau yang memiliki dua sisi, di satu sisi penggunaan gawai sangat diperlukan dan sisi lain jika tidak digunakan secara bijak menciptakan banyak potensi bahaya.

Gawai sangat menunjang pengetahuan serta mempersiapkan anak menghadapi dunia digital. Hal ini bisa dilihat dari kemudahan untuk memperoleh berbagai pengetahuan dan pengembangan diri.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa terdapat beberapa dampak dampak pengiring penggunaan gawai yang berlebihan diantaranya anak akan kurang aktif dalam bersosialisasi maupun kurang aktif secara fisik, kesehatan mata serta kesehatan mental, berbagai perundungan di media sosial juga kerapkali dialami anak. Hal inilah yang menjadi pekerjaan kita bersama. Orang tua dan sekolah perlu melakukan kerjasama dalam penggunaan gawai. Sibukkan diri siswa dengan kegiatan fisik dan interaksi kelompok dan tidak menggunakan gadget selama melakukan kegiatan tersebut. Anak-anak yang ketergantungan gawai bisa saja disebabkan oleh perlakuan orang dewasa yang tidak memfasilitasi kegiatan fisik yang dapat dikerjakan. Karena tidak ada keadaan yang memaksa anak kita untuk melakukan sesuatu, maka timbul perasaan malas dan enggan untuk bergerak karena terbiasa tidak melakukan sesuatu atau dalam konteks dewasa ini dikenal dengan istilah mager.

Sekolah perlu membuat program pembelajaran yang memfokuskan pada penambahan kegiatan fisik, kemampuan berorganisasi, serta berbagai projek pembelajaran yang berorientasi pada interaksi sosial. Agenda-agenda ini diharapkan akan membuat fokus anak-anak teralihkan, dari yang awalnya pembelajaran didominasi oleh media gawai beralih kepada kegiatan proyek. Secara garis besar semua elemen yang terlibat baik guru, orang tua, dan sekolah sebagai pranata sosial perlu bekerja sama mengembalikan fungsi awal penggunaan gawai yaitu untuk komunikasi sekaligus sebagai sarana belajar untuk menambah ilmu pengetahuan. Anak dituntun untuk lebih kreatif. Dengan adanya media visual dan audio maka anak-anak bisa berimajinasi dan biasanya lebih tertarik.

Perlu ada komunikasi yang efektif antara guru dan orang tua dalam memberikan pelayanan pendidikan yang baik pasca pandemi agar anak memperoleh pendidikan yang proporsional.

——— *** ———-

Rate this article!
Pembelajaran Pasca PJJ,5 / 5 ( 2votes )
Tags: