Pemilih Pemula Tunggu Sosok Pemimpin Tegas

Aribowo

Aribowo

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemilih pemula dengan komposisi terbesar adalah pemuda selama ini dikhawatirkan cenderung memilih menjadi Golput alias tidak memilih dalam Pemilu. Namun dalam penelitian terakhir ditengarai para pemuda saat ini justru sedang menunggu sosok pemimpin yang tegas.
Menurut pemerhati politik dari Universitas Airlangga (Unair) Aribowo , kamis(20/3) kecenderungan pemilih pemula dalam hal ini pemuda akan lebih kepada partai yang memiliki sosok pemimpin yang tegas.
Salah satunya , lanjut peneliti politik senior ini adalah Partai Gerindra yang dengan tokohnya Prabowo Subianto. “Dari sisi iklan, mungkin cukup menarik bagi pemula. Karena kemasan dan keterlibatan banyak elemen masyarakat cukup menjadi pertimbangan mereka,” tutur dia.
Aribowo yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unair mengaku, meski saat ini telah memiliki kecenderungan semacam itu, pemilih pemula masih akan menunggu kandidat yang paling cocok diakhir-akhir menjelang pemilihan.
Sebab, mau tidak mau konstelasi politik Indonesia sangat cepat berubah. “sebut saja kehadiran Jokowi di bursa Calon Presiden RI yang cukup mengagetkan jagad politik kita. Tapi Jokowi pun bukan jaminan akan diminati. Emang dia malaikan apa,” tuturnya.
Sementara itu pemerintah masih mengkhawatirkan para pemilih muda lebih memilih me3njadi Golput dalam Pemilu 2014 ini. Karakteristik pemilih pemula yang cenderung apatis terhadap politik  kerap kali membawanya mengabaikan hak pilih mereka . Padahal, suara dan eksistensi mereka sangat menentukan nasib bangsa di masa depan.
“Bisa dibayangkan jika suara mereka tidak digunakan atau bahkan disalahgunakan, sehingga nasib bangsa ini tidak ada perubahan ke arah yg lebih baik.” kata Sekretaris Jenderal Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Suprawoto ditemui di Surabaya , Kamis (20/3).
Pada Pemilu 2004, jumlah Pemilih Pemula sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Pada Pemilu 2009 sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih. Sedangkan tahun 2014, jumlah pemilih muda mencapai 40 juta. Dalam Pemilu, jumlah itu sangat besar dan bisa menentukan kemenangan partai politik atau kandidat tertentu yang berkompetisi dalam pemilihan umum.
Menurut Suprawoto, bagi mereka yang berusia 17-21 tahun, memilih dalam pemilu merupakan pengalaman pertama kali. Namun ada juga kalangan yang menyebutkan bahwa TNI/Polri yang baru pensiun dan kembali menjadi warga sipil yang memiliki hak memilih, juga dikategorikan sebagai pemilih Pemula.
Secara psikologis, lanjutnya, biasanya pemilih pemula memiliki karakteristik yang berbeda dengan orang tua pada umumnya. Pemilih Pemula cenderung, anti status quo atau tidak puas dengan kemapanan, pro perubahan dan sebagainya.
Karakteristrik itu cukup kondusif untuk membangun komunitas pemilih cerdas dalam pemilu yakni pemilih yang memiliki pertimbangan rasional dalam menentukan pilihannya. Misalnya karena integritas tokoh yang dicalonkan partai politik, track record-nya atau program kerja yang ditawarkan.
Karena belum punya pengalaman memilih dalam pemilu, pemilih pemula perlu mengetahui dan memahami berbagai hal yang terkait dengan pemilu. Misalnya, untuk apa pemilu diselenggarakan, apa saja tahapan pemilu, siapa saja yang boleh ikut serta dalam pemilu, bagaimana tata cara menggunakan hak pilih dalam pemilu dan sebagainya.
Pertanyaan itu penting diajukan agar Pemilih Pemula menjadi pemilih cerdas dalam menentukan pilihan politiknya di setiap pemilu. “Selain, membuat pemilih pemula merasa happy saat memilih, tentu menjadi hal yg mutlak untuk dilakukan, agar selanjutnya mereka menjadi lebih enjoi saat menyalurkan suaranya,” jelas mantan Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jatim era Gubernur Jatim H Imam Utomo.
Dikatakan, dalam penghitungan suara pemilu, satu suara saja sangat berarti karena bisa mempengaruhi kemenangan politik. Apalagi suara yang berjumlah jutaan sebagaimana halnya yang dimiliki kalangan Pemilih Pemula. Itu sebabnya, dalam setiap pemilu, pemilih pemula menjadi “rebutan” berbagai kekuatan politik.
Menjelang pemilu, partai politik atau peserta pemilu lainnya, biasanya membuat iklan atau propaganda politik yang menarik para Pemilih Pemula. Mereka juga membentuk komunitas kalangan muda dengan aneka kegiatan yang menarik anak-anak muda, khususnya Pemilih Pemula.
Tujuannya agar para Pemilih Pemula tertarik dengan partai atau kandidat tersebut dan memberikan suaranya dalam pemilu untuk mereka sehingga mereka dapat mendulang suara yang signifikan dan meraih kemenangan.
Selain memiliki banyak kelebihan, Pemilih Pemula juga memiliki kekurangan, yakni belum memiliki pengalaman memilih dalam pemilu. Pemilu mendatang merupakan pengalaman pertama bagi pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya.
“Untuk itu, Kementerian Kominfo merasa punya tanggung jawab untuk memberi referensi dan pengalaman yg benar terhadap pemilih pemula, melalui program Sukseskan Pemilu melalui pemilih pemula. Hal itu dilakukan tak lain dan tak bukan adalah untuk menciptakan pesta politik yg jujur, adil, aman, nyaman, dan juga happy,” tandasnya.¬† [iib]

Tags: