Pemkab Pamekasan Harus Pasang Early Waning System

Pemasangan EWS Tsunami di Pacitan

Perlu Upaya Pentahelix dalam Penanggulangan Bencana
BPBD Jatim, Bhirawa
Bencana tanah longsor yang menimpa Pondok Pesantren An-Nidhomiyah di Dusun Jepun, Desa Bindang, Kecamatan Pasean, Pamekasan, Madura-Jatim dan menewaskan lima santri putri memang sangat memprihatinkan. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim menyarankan agar Pemkab Pamekasan segera memasang Early Waning System (EWS).
Apalagi ada tujuh kecamatan di Kabupaten Pamekasan termasuk daerah rawan bencana, seperti Kecamatan Pasean rawan longsor, Waru, Pakong, Pegantenan dan Kecamatan Kadur masuk kawasan rawan bencana longsor. Sedankan dua kecamatan lainnya Pamekasan dan Kecamatan Pademawu, masuk wilayah rawan banjir.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Provinsi Jatim, Gatot Soebroto membenarkan jika di Kabupaten Pamekasan belum terpasang EWS. Pihaknya pun mendorong Pemda setempat untuk menggangarkan pembelian EWS di Kabupaten Pamekasan, Madura. “Untuk Pamekasan akan dipertimbangkan (pemasangan EWS, red). Kami berharap Kabupaten setempat bisa menganggarkan untuk pemenuhan EWS,” jelasnya, Kamis (25/2).
Lebih lanjut ia menjelaskan, BPBD Jatim memastikan tahun ini ada 32 unit Early Waning System (EWS) terpasang di wilayah Jatim. Pemasangan EWS sekaligus sebagai upaya mitigasi bencana dibeberapa wilayah Jatim. “Jumlah EWS yang dipasang BPBD Jatim hingga tahun ini sebanyak 32 unit,” kata Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Provinsi Jatim, Gatot Soebroto, Kamis (25/2).
32 unit EWS ini dibagi menjadi 3 jenis. Dengan rincian, EWS Longsor sebanyak 8 unit, EWS Banjir sebanyak 11 unit dan EWS Tsunami sebanyak 13 unit. Perihal EWS di Kabupaten Nganjuk, Gatot mengaku kondisinya masih baik karena baru dipasang tahun lalu.
Masih kata Gatot, 32 unit EWS ini diantaranya ada di Kabupaten Malang, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Madiun. “Pemasangan EWS ini hampir merata diseluruh Kabupaten/Kota. Hanya jumlahnya sedikit dan dirasa masih sangat kurang,” ungkapnya.
Selain EWS dari BPBD Jatim, sambung Gatot, di lapangan ada juga EWS yang dipasang oleh ESDM, Kabupaten/Kota dan BMKG. Pihaknya pun mengaku kebutuhan EWS di Jatim ini sangat banyak, mengingat jenis ancamannya berbeda-beda.
Bahkan di wilayah Dessa/Kelurahan yang memiliki ancaman tinggi sebanyak 2.742. Sehingga sangat diperlukan penanganan secara pentahelix oleh seluruh pemangku kebijakan yang ada. Serta perlu adanya sinergitas dari semua stakeholder dalam upaya mitigasi maupun penanggulangan bencana.
“Selain pentahelix, yang terpenting adalah kesiapan masyarakat dalam mengenali potensi bencana yang ada di sekelilingnya. Kemudian strategi penanganannya harus dipahami dan dimengerti,” pungkasnya. [bed]

Tags: