Pemkab Probolinggo – Bulog Teken MOU Pengadaan Beras ASN

Stok beras Bulog Probolinggo aman hinga 2 tahun.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

(Bulog Pastikan Stok Beras Cukup Hingga 2 Tahun)
Pemkab Probolinggo, Bhirawa
Bulog Sub Divre Probolinggo memastikan ketersediaan beras untuk wilayah Probolinggo aman sampai dua tahun ke depan. Per Januari 2020, Bulog memiliki stok beras mencapai 21.815 ton. Ketersediaan beras di Gudang Bulog sampai Januari 2020 mencapai 21.815 ton. Jumlah ini mampu memasok sampai dua tahun. Pemkab Probolinggo-Bulog teken MOU pengadaan beras ASN. Hal ini diungkapkan Pimpinan Cabang Bulog Sub Divre Probolinggo Krisna Murtianto, Minggu 26/1/2020.
Krisna menjelaskan, ketersediaan beras ini mampu memenuhi kebutuhan selama dua tahun. Bahkan, termasuk untuk menyalurkan ke provinsi lain. Persediaan beras ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan warga Kota Probolinggo, mengingat Bulog Sub Divre Probolinggo juga meliputi wilayah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Lumajang.
“Untuk harga beras saat ini masih stabil dan tidak ada kenaikan harga. Namun, Bulog siap jika ada permintaan untuk melakukan operasi pasar ketika ada kenaikan harga beras,” ujarnya.
Krisna menambahkan, serupa dengan stok beras di wilayah Probolinggo yang aman, stok beras nasional juga cukup besar. Sampai akhir 2019, stok beras nasional tercatat masih 2,1 juta ton. “Kami juga mendapat instruksi untuk melakukan operasi pasar dalam rangka pengendalian harga, jika terjadi kenaikan harga komoditas pangan,” katanya.
Dengan bermodal jaringan Gapoktan yang dimiliki, Sub Divre Probolinggo optimis dapat mencapai target pengadaan tahun 2020 yang diamanahkan Kadivre Jawa Timur. Selama ini mayoritas pengadaan di Sub Divre Probolinggo berasal dari para pengusaha penggilingan. Sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar perberasan.
Sedangkan dari saluran petani langsung masih terbilang lebih sedikit. Untuk itu Kepala Sub Divre Probolinggo dan jajarannya semakin intensif melakukan pendekatan dengan Gapoktan-Gapoktan yang ada di wilayah kerja, agar Gapoktan yang ada tergerak untuk menjual hasil padi kepada Bulog secara langsung. Yang tentu lebih menguntungkan dibanding mereka hanya menjual kepada pengusaha. Padahal nanti beberapa pengusaha tersebut juga akan menjual gabah/berasnya kepada Bulog.
Saat ini Gapoktan yang ada di wilayah kerja Sub Divre Probolinggo sebanyak 563 Gapoktan. Yang terdiri dari 330 Gapoktan di Kabupaten Probolinggo, 29 Gapoktan di Kota Probolinggo, dan 204 Gapoktan yang ada di Kabupaten Lumajang.
Beberapa sudah merealisasikan kerja sama dengan Bulog melalui UPGB. Seperti Kelompok Tani di Kecamatan Gending Kab Probolinggo sudah menjadi pelanggan UPGB Klaseman. Kelompok Tani Sumber Rejeki yang diketuai oleh Agus Junaidi bahkan sudah berkerja sama dengan UPGB Klaseman selama 4 tahun terakhir, dan menurutnya lebih menguntungkan jika langsung menjual ke Bulog. Semua pihak tentu berharap, dengan optimalnya penyerapan gabah/beras dari petani dalam negeri, dapat menutup kran impor. Sehingga tahun ini diharapkan swasembada beras dapat kembali tercapai, tandasnya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo dan Perum Bulog menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait pengadaan beras untuk ASN. Kerjasama ini, diyakini akan mensejahterakan petani Kabupaten Probolinggo karena berasnya terserap dengan baik.
MoU itu dilakukan oleh Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari dan Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Tri Wahyudi Saleh di halaman Gudang Bulog Klaseman, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Kerjasama ini yakni terkait pengadaan dan penyaluran beras premium bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Probolinggo.
Tujuannya untuk menyuplai beras premium kepada ASN yang berjumlah belasan ribu. MoU itu baru pertama kali dilakukan sepanjang sejarah Bulog. Kabupaten Probolinggo menjadi pilot project penyaluran beras bagi ASN dari Bulog, jelasnya.
Penandatanganan kerja sama antara Pemkab dan Bulog telah dilaksanakan adalah pintu awal. Tentunya tim Pemkab dan Bulog akan melakukan komunikasi diskusi secara intensif berkaitan dengan teknis yang nantinya akan kita aplikasikan,” tuturnya.
Nantinya, beras dengan kualitas premium itu diantar langsung ke rumah para ASN. “Saya ingin memastikan bahwa ASN yang tinggal di daerah perkotaan harga beras nya dan kualitasnya harus sama dengan yang tinggal di pedesaan atau pegunungan. Beras dikirim door to door,” kata bupati Tantri.
Sementara itu, terkait proses bantuan pangan non tunai (BPNT), Tantri menyebut ada sejumlah catatan. Banyak e-warung di desa yang menyulitkan pelayanan masyarakat, camat dan kades. Kemudian, ada masalah teknis terkait penggunaan kartu. Saat kartu PKS BRI digunakan, tak bisa langsung dapat beras dan telurnya. Baru bisa diterima beberapa hari kemudian.
“Selain itu, masih ada selisih harga antar pangan di desa. Kami harap dievaluasi sejumlah catatan itu,” tambah Bupati Probolinggo 2 periode itu.(Wap)

Tags: