Pemkab Probolinggo Gelar Car Free Month Bromo Tengger Semeru

Bupati Tantri promosi Car Free Month Bromo Tengger Semeru.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

(Ciptakan Udara Sejuk dan Segar bagi Wisatawan)
Probolinggo, Bhirawa
Untuk mempromosikan udara yang segar dan bersih, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo bekerja sama dengan masyarakat adat dan pelaku wisata menggelar Car Free Month, di Kaldera Obyek Wisata Bromo Tengger Semeru Kecamatan Sukapura. Ciptakan udara sejuk dan segar bagi wisatawan.
Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE, Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Probolinggo H. Soeparwiyono serta Kepala OPD dan Camat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Semua hadir untuk melakukan senam bersama di lautan pasir Gunung Bromo Tengger Semeru.
Pada best moment Car Free Month ini sengaja tidak diperbolehkan kendaraan yang turun di lautan pasir untuk mengetahui kondisi udara segar yang sesungguhnya. Alhasil sudah diketahui perbedaannya dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya kondisi udara segar pada kawasan konservasi Bromo Tengger Semeru.
Bupati Probolinggo Hj. P. Tantriana Sari, SE, Senin 24/2/2020 menyampaikan Car Free Month itu telah memberikan experience yang berbeda. Dimana udara sangat bersih dan indra mata dapat melihat pemandangan dengan jelas dan indah. “Ini menjadi triger bagi wisatawan untuk mengunjungi wisata Bromo Tengger Semeru,” katanya.
Bupati Tantri mengaku akan mendorong bagi masyarakat adat dan para pelaku wisata di kawasan Bromo untuk memberlakukan Car Free Month yang lain dilain waktu yang merujuk pada adat setempat di Wulan Kapitu. Wisatawan yang butuh suasana yang tenang dan inteks oksigen yang segar dan bersih bisa berkunjung pada best moment Car Free Month. “Ini merupakan sebuah tugas kita bersama untuk mengkampanyekan kepada wisatawan experience yang berbeda ini,” ujarnya.
Persoalan sampah di kawasan wisata Gunung Bromo, terus menjadi perhatian Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS). Berbagai cara dan sosialisasi terkait sampah yang harus dibawa keluar dari kawasan Bromo, terus dilakukan. Pemberian reward kepada komunitas yang peduli terhadap kebersihan wisata Bromo telah dilakukan. Namun, semuanya ternyata belum cukup membuat kesadaran wisatawan peduli terhadap kebersihan di tempat wisata.
Karenanya, BBTNBTS terus mencari formula yang pas untuk menyadarkan wisatawan agar membawa sampahnya keluar dari kawasan Bromo. Rencananya, akan diberikan reward (hadiah) atau punishment (sanksi) bagi pedagang kaki lima, sopir jip, dan wisatawan terkait kepedulian terhadap sampah.
Kepala Bidang Tata Usaha BBTNBTS Novita Kusuma mengaku telah berupaya mencegah wisatawan meninggalkan sampah di kawasan Bromo. Salah satunya dengan memberikan edukasi kepada wisatawan, pelaku usaha di Bromo, dan sopir jip, untuk membawa kembali sampahnya keluar Bromo.
“Kami sudah sosialisasikan dan berikan edukasi, supaya sampahnya dibawa keluar dari Bromo. Meski kami juga menyiapkan tempat sampah di sejumlah titik. Tetapi, diharapkan sampah bungkus makanan atau apapun, disimpan dulu di tas mereka atau kantong plastik. Baru kemudian dibuang ke tempat sampah saat sudah keluar dari kawasan Bromo,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga sudah menyosialisasikan kepada para pelaku usaha, mulai pedagang kaki lima, sampai sopir jip Bromo. Supaya mereka menyiapkan kantong sampah atau tempat sampah. Harapannya, sampah wisatawan tidak berserakan di kawasan Bromo. “Di semua pintu masuk Bromo, kami juga sudah sosialisasikan, terutama penumpang jip Bromo terkait sampah yang harus dibawa keluar lagi dari kawasan Bromo,” tuturnya.
Menurutnya, BBTNBTS memberikan kesempatan kepada wisatawan ataupun masyarakat untuk membuat video yang tertib dalam sampah di kawasan Bromo. Video itu bisa diikutkan dalam Lomba Bromo Clean Challenge dengan cara diunggah di Instagram. “Kami berharap semakin banyak video yang dibuat oleh wisatawan atau masyarakat, makin meluas juga edukasi akan pentingnya peduli terhadap kebersihan wisata,” ujar Novita.
Sampah masih menjadi masalah serius di kawasab wisata Gunung Bromo. Buktinya saat libur Natal 2019 dan tahun baru 2020 (Nataru), sedikitnya 1,5 ton sampah berhasil dikumpulkan petugas dan relawan. Pasca libur panjang Nataru misalnya, sejumlah petugas dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) turun membersihkan sampah. Petugas juga dibantu oleh relawan dari berbagai komunitas, semisal Forum Sahabat Gunung (FSG) hingga TLCI Bromo Chapter.
Meski tanpa komandan khusus, petugas dan relawan memunguti sampah, memasukkannya ke kantong plastik. Sebab, sampah tersebut tersebar di hampir keseluruhan kawasan wisata Gunung Bromo. Sekadar informasi di kawasan Bromo sendiri ada 16 titik, lumrahnya sebagai konsentrasi pengunjung menikmati liburan. Kantong-kantong berisi sampah itu, kemudian dibawa ke tempat pembuangan sampah (TPS) di luar dari kawasan konservasi. Sekitar 1,5 ton sampah dipindahkan ke TPS. TNBTS mencatat, volume sampah sebanyak itu terhitung selama 9 hari libur Nataru, yakni mulai 24 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020.
Bila dihitung secara kasar, sampah yang dibuang di kawasan wisata alam ini sekitar 10 kilogram lebih per hari per titik. “Kondisi tersebut menunjukkan masih kurangnya kesadaran pengunjung dan pelaku wisata untuk menjaga kelestarian kawasan Taman Nasional,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS Novita Kusuma Wardani, Senin 24/2/2020.
Ditegaskan Novita, BBTNBTS bersama komunitas-komunitas yang peduli lingkungan, rutin melakukan pembersihan sampah di kawasan ini. Selain itu, petugas mencoba terus memberikan edukasi kepada pengunjung agar membawa sampahnya kembali untuk dibuang keluar. “Tidak membuang sampah di kawasan, salah satunya melalui kegiatan Bromo Clean Challange,” tambahnya.(Wap)

Tags: