Pemkot Gandeng Kolektor Isi Museum Pendidikan

Pemkot Surabaya bekerjasama dengan para kolektor untuk mengisi Museum Pendidikan. Diantaranya dengan Surabaya Vintage Community. [zainal ibad]

Surabaya, Bhirawa
Pemkot Surabaya melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menjalin kolaborasi dengan kalangan kolektor, untuk mendapatkan koleksi Museum Pendidikan yang telah diresmikan. Jejaring dengan berbagai kolektor barang, selain untuk mengisi koleksi, juga menggali informasi yang detail tentang barang – barang yang dibutuhkan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, Antiek Sugiarti menyampaikan, komunitas vintage atau sejarah selain membantu isi koleksi museum pendikan, juga museum – museum lainnya. ”Seperti Museum 10 Nopember, Museum Olah Raga, kami kolaborasi dengan mereka (kolektor),” ujar Antiek, dikonfirmasi, Rabu (27/11) kemarin.
Namun demikian, Antiek mengatakan, barang-barang koleksi yang masuk semuanya di check terlebih dahulu oleh narasumber ahli maupun kurator berkaitan dengan tahun pembuatannya, termasuk jika dipasang di museum dengan huruf pegon yakni tulisannya Berbahasa Indonesia namun dengan tulisan huruf Arab, serta apa saja isinya bisa diketahui.
“Jadi untuk mengecheck, memang kita menggunakan narasumber ahli dan dengan kurator untuk mengetahui tahunnya, jika diterjemahkan isinya apa dan darimana,” paparnya.
Kadisbudpar menyampaikan, pihaknya kini tengah mengatur story linenya mulai dari jaman pra aksara, jaman kerajaan, kolonial, perjuangan hingga kemerdekaan. Meski belum optimal, karena penempatan dan stadarisasinya masih dalam proses. ”Kami masih melakukan evaluasi dengan tim arsitektur, desain untuk penataan, alur dan pengamanannya,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, barang – barang koleksi itu keberadaannya ada yang merupakan hibah dari para kolektor, melalui proses penggantian, serta diperoleh dari pembelian. ”Sesuai ketentuan internasional museum ini Senin tutup. Tetapi nanti kita evaluasi, apakah seperti Museum 10 Nopember yang tiap hari buka atau bagaimana,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum Surabaya Vintage Community, Ali Budiono, saat penyerahan barang – barang koleksinya menyampaikan, sebanyak 80% koleksi Museum Pendidikan merupakan barang-barang dari komunitasnya. Pihaknya mengumpulkan bang – barang itu selama tiga bulan.
Beberapa barang koleksi yang diserahkan ke Disbudpar untuk mengisi koleksinya, antara lain, Sabak, buku tulis, buku pelajaran, manuskrip atau naskah kuno, mesin ketik, dan alat laboratorium. ”Mesin cetak dari Percetakan Muhammadiyah di Yogyakarta,” sebutnya.
Ali menyebut, jumlah barang yang datang dari komunitasnya di museum pendidikan sekitar 700 koleksi. Koleksi itu pengumpulannya, dari hasil komunikasi antar komunitas barang-barang kuno. Di Surabaya terdapat 500 anggota komunitas, sedangkan di Indonesia jumlahnya ribuan. ”Misalkan sabak, kami kesulitan menemukannya saat ini. Kami dapat lumayan banyak dari daerah Jawa Tengah. Di Surabaya sulit mendapatkannya,” ungkapnya.
Ia menyebut, sejumlah koleksi yang diserahkan ke Disbudpar datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa tengah, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Timur. ”Manuskrip dari Aceh. Naskah dari daun lontar, deeluwang atau kertas Eropa itu ada di tahun 1700 hingga 1800,” katanya.
Barang koleksi Museum yang didapat dari Surabaya berupa buku – buku pelajaran di Jaman Belanda dan Jepang hingga di era kemerdekaan. Buku-buku itu beberapa diantaranya adalah ijazah sekolah Tionghoa.
Ali Budino menyebut, penyerahan benda-benda kuno sebaggai koleksi Museum Pendidikan, agar koleksi itu berguna untuk dunia pendidikan, terutama pendidikan anak di masa mendatang. ”Seperti Sabak, di zaman dulu sekolah memakai sabak. Dengan sabak, sekali nulis dihapus. Jadi, bisa dibayangkan betapa susahnya daya ingat anak – anak sekolah dulu,” terangnya. [iib]

Tags: